
Bibir itu masih berpagut sejak beberapa menit yang lalu. Meski belum ada tanda tanda akan melakukan hubungan badan, tapi perang bibir di atas sofa tersebut cukup ampuh mengeluarkan hawa panas.
"Kalau aku belum selesia ngomong, bisa nggak jangan dipotong?" pinta Jamal begitu bibir mereka terlepas.
"Iya, iya maaf. Ya udah lanjutin ceritanya, aku nggak akan memotong," ucap Selin sambil tersenyum manis kemudian kembali menempelkan bibirnya pada pipi Jamal.
"Jadi dua cewek itu anaknya majikan temanku yang bernama Iqbal, dan sepertinya mereka suka dengan temanku itu. Mereka nempel banget dan manja gitu sama Iqbal. Dan mereka ngajak kenalan aku dan juga Rizal."
"Terus? Apa hubungannya sama Rio?"
"Jadi gini, pas kedua cewek itu minta kenalan, mereka nempel nempel juga sama aku dan Rizal. Nah kebetulan tak jauh dari sana ada Rio dan dia diam diam memotret aku dan teman temanku saat kedua cewek itu lagi nempel nempel."
"Astaga! Terus?"
"Ya terus Rio ngancam aku, katanya mau nunjukin foto itu ke kamu biar kita bertengkar. Makanya, aku cerita duluan, takut Non Selin salah paham. Tapi Non Selin kan memang suka salah paham," sindir Jamal. Seketika Selin langsung tersenyum karena merasa tersindir. Selin langsung saja menciumi leher Jamal hingga pemuda itu merasa geli.
"Aduh, Non, geli, ih, itu bau asem."
"Bodo amat."
Jamal terpaksa menahan geli sambil tertawa. Meski geli, nyatanya Jamal tetap menikmatinya dan dia pasrah saja saat Selin melepas pakaian Jamal dan mengendus bau badannya.
Sementara di kamar Rizal, pemuda itu masih berdiri sembari bersandar pada tembok dengan mata merem melek dan mulut yang mengeluarkan suara rintihan kenikmatan.
Bagaimana tidak nikmat, di bawah perutnya, Miranda sedang asyik menghirup aroma keringat, menijlat dan melahap benda menegang miliknya meski dia sedang marah dengan supir kesayangannya itu.
"Non, masukin saja ayok," rengek Rizal.
"Diam! Jangan banyak omong, nanti Mbak Sari bangun," ucap Miranda. Meski lirih tapi ucapan tersebut tajam dan penuh penekanan. Rizal pun akhirnya pasrah.
Cukup lama Miranda memainkan benda menegang milik Rizal, tapi dilihat dari keadaannya, belum ada tanda tanda Rizal ingin menyemburkan air putih nan kental. Padahal punya Rizal benar benar sudah sangat mengeras.
Setelah merasa puas, Miranda berdiri menatap Rizal dengan tajam dan tangan masih mengusap benda milik pemuda itu.
"Untung punya kamu ini masih bau keringat, jika aku mencium ada bau yang lain, bisa aku potong punya kamu saat ini juga, Zal," ancam Miranda.
"Ya janganlah, entar aku nggak bisa bikin dede bayi dengan Non Miranda," balas Rizal sambil cengengesan. "Tapi kok Non Miran tahu punyaku habis di pakai atau tidak? Tahu darimana?"
"Ya tahulah, Firasat wanita itu kuat. Apa lagi sama pria yang sangat dekat. Kalau senjata kamu habis dipakai ke dalam lubang wanita lain, pasti baunya beda. Bisa jadi itu bau anyir atau bau wangi karena setelah main langsung di cuci. Kan aku sering ngerasain punya kamu," balas Miranda. Tangannya melepas batang milik Rizal kemudian kedua tangan Miranda melingkar di leher pemuda itu. Tatapan dan suaranya juga mulai melembut, tidak setajam tadi saat pertama Rizal pulang.
"Tapi itu kenapa di telan? Nggak jijik? Aku kan seharian cuma mandi tadi pagi loh," tanya Rizal yang kini juga melingkarkan tangannya di pinggang ramping nona majikannya. San kini kedua badan itu sangat menempel dengan wajah yang berhadapan. Rizal sediki menunduk karena tinggi Miranda hanya sebatas dada Rizal saja.
"Aku tuh nggak pernah jijik dengan semua yang ada di badan kamu, Bal, kecuali pas kamu buang air."
"Gimana, Non, rasanya? Enak?" tanya Rizal penasaran.
"Kalau nggak enak ya mungkin aku udah muntah, Sayang. Tapi emang nggak ada rasanya sih, hambar gitu."
"Tapi kok kalau lihat Video banyak yang suka nelan ya, Non? Kayak enak banget gitu."
"Makanya tadi aku nyoba. Ya lumayan enak."
"Berarti besok besok, kalau aku nyodok, ngeluarinnya di dalam mulut aja ya, Non."
"terserah kamu, Sayang. mau keluar dimanapun aku tetap suka."
Siap," dan mereka pun saling menempelkan bibir.
...@@@@@...