TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 190


Sebelum pergi menemui seseorang, Rizal dan Miranda mampir sebentar ke sebuah restoran saat dalam perjalanan. Karena sejak pagi mereka belum makan apapun. Hanya minum air mineral serta makan beberapa cemilan sisa semalam.


Kalau menginap di hotel, mereka bisa saja memesan makanan buat sarapan. Tapi, demi menghindari sesuatu, mereka memilih menyewa rumah milik teman Miranda.


Hingga mereka tiba di restoran, mereka tidak menyadari kalau mereka ada yang mengikuti. Orang orang itu adalah suruhan Tomi yang memang ditugaskan untuk menjalankan rencananya.


Berbekal pertanyaan basa basi sebelum Miranda berangkat, Tomi tahu kalau Miranda tidak menginap di hotel. Kalau dulu, Tomi tidak curiga saat Miranda menyewa rumah sahabatnya karena supir yang menemani Miranda ada dipihak Tomi. Namun kali ini, Tomi malah ragu kalau Rizal dan Miranda tidak ada hubungan apa apa. Dan Tomi juga butuh bukti jika benar mereka berselingkuh. Bukti itu akan Tomi gunakan untuk mengancam Rizal dan mau menuruti keinginannya.


Beruntung, restoran yang dipilih Miranda adalah restoran yang menunya tinggal pilih dan siap santap. Restoran berkonsep prasmanan dengan menu khas tradisional itu, nampak ramai di kunjungi warga sekitar dan juga wisatawan.


Setelah memilih menu masing masing sesuai selera, Miranda dan Rizal memilih tempat duduk di pojokan yang agak sepi, setelah membayar makanan yang mereka bawa. Segera saja mereka melahap hidangan yang mereka pilih dan bawa sendiri, begitu mereka duduk dikursi yang mereka tuju.


"Kali ini kira kira ada yang mengikuti kita nggak ya, Non?" tanya Rizal ditengah menikmati santapannya.


"Loh, tadi kamu nggak memperhatikan ke arah belakang?" Miranda malah melempar tanya.


"Enggak, orang jalanan rame banget. Apalagi lapar juga, jadi nggak fokus kemana mana selain nyetir."


"Yaelah, nanti waspada loh."


"Siap Nona ku sayang," ucap Rizal mantap. "Eh, Non emangnya kalau kita ketahuan selingkuh, apa yang akan Tuan Tomi lakukan? Apa tuan Tomi akan menceraikan Non Miran?"


"Kalau menceraikan aku sih kayaknya enggak deh, Zal. Tomi itu sangat menginginkan kamu kayaknya."


"Hih! Masa aku? Jijik dengarnya," balas Rizal sambil bergidig.


"Hahaha ... Makanya kamu jangan terlalu tampan ya, Zal. Jadi nggak dikejar kejar cowok juga."


"Kalau aku nggak tampan, Non Miran mana mau ngajak aku bulan madu," Miranda hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rizal.


Tak terasa makanan dalam piring telah mereka habiskan. Setelah ngobrol sejenak sambil istirahat setelah makan, mereka pun segera beranjak untuk melanjutkan perjalanannya.


Kini sepanjang perjalanan, mata Rizal selalu awas melirik arah kaca spion sesekali. Tentu saja dia harus waspada karena pengalaman, pernah diikuti oleh orang suruhan Tomi.


"Belok kanan, Zal. Bentar lagi sampai," titah Miranda.


"Oke."


Rizal sengaja, tidak mengatakan kepada Miranda. Rizal yakin, dia bisa mengatasinya sendiri.


"Berhenti di sana, Zal. Yang ada tulisannya cokodot," tunjuk Miranda. Dan lagi lagi Rizal mengiyakannya.


Sesuai perintah, mobil berhenti tepat di depan bangunan seperti caffe. Miranda pun langsung turun, sedangkan Rizal memilih menunggu sambil mengawasi mobil hitam yang berhenti tak jauh dari dirinya.


"Apa kita bertindak sekarang?" tanya salah satu dari tiga orang yang berada di dalam mobil hitam.


"Sebentar lagi, yang perempuan baru masuk. Jangan lupa tugas kamu, mengawasi si wanita dan membiusnya saat keadaan sepi. Sedangkan si pria, aku yang akan mengalihkan perhatiannya dan kamu, siap siap saja di kursi supir. Nanti jika target sudah berhasil kita bawa, kita langsung kabur," ucap yang lain sembari berbagi tugas. Kedua rekannya langsung setuju dan mereka kembali fokus sambil menunggu waktu.


"Sekarang saatnya beraksi," ucap orang yang tadi tak lama kemudian.


Dari dalam mobil, Rizal melihat dua orang keluar dari mobil yang mereka naiki. Dahi Rizal berkerut karena merasa heran. Dua orang itu berpencar. Yang satu menuju ke arah mobil Rizal, dan yang satu masuk ke dalam caffe dimana Miranda berada.


"Apa yang mereka rencanakan? Wah! aku harus hati hati ini," gumam Rizal.


Di dalam, nampak Miranda sedang mengobrol dengan orang yang sedang dia temui. Rizal yang mengawasi dari luar, matanya membelalak karena saat Miranda berdiri dan beranjak, orang yang mengikuti mereka juga ikut beranjak.


"Apa Non Miran sedang ke toliet? ah gawat, bahaya!" pekik Rizal.


Rizal hendak keluar dari mobil, tapi dia menyadari ada salah satu komplotan dari mereka berdiri di dekat mobil Rizal.


"Ah, Sial. Apa yang harus aku lakukan?"


...@@@@@...