TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 132


"Ibunya Selin juga suka denganku." ungkap Jamal. Kedua temannya nampak syok.


"Yang bener, Mal?" tanya Iqbal dengan rasa terkejutnya.


"Ya bener lah, malahan aku ditawarin jadi artis jika aku mau ikut dia dan ninggalin anaknya," ucap Jamal dan lagi lagi sukses membuat kedua temannya terkejut.


"Masa ada ibu seperti itu?" tanya Rizal.


"Iya, Mal. Ibu kandung bukan sih? Masa setega itu sama anaknya?" sambung Iqbal.


"Aku sendiri juga tidak tahu, aku aja pertama dengar kaget pas pacarnya Selin selingkuh dengan ibunya Selin."


"Apa? Gila!" pekik Iqbal dan Rizal hampir bersamaan.


"Aneh kan? Sejak kejadian itu, keluarga majikanku itu berantakan, anaknya suka mabuk dan sering menyendiri karena malu dengan tingkah Mamahnya. Pertama aku datang aja, galaknya minta ampun eh sekarang kayak orang bucin gitu. Aku pengin ketemu kalian aja susah banget. Dia awalnya melarang keras aku ketemuan sama kalian, tapa aku rayu terus dan dia ngasih syarat minta dibikin enak dulu, baru deh aku di ijinin pergi sama kalian," ucap Jamal panjang banget sampai dia tidak sadar, kalimat terakhirnya membuat kedua temannya bertanya tanya.


"Dibikin enak? Maksudnya?" tanya Iqbal. Sontak saja Jamal langsung gelagapan. Dia sontak membungkam mulutnya sejenak kemudian dia cengengesan.


"Jangan bilang kalau kamu juga sudah mantap mantap?" selidik Iqbal dan lagi lagi Jamal hanya cengengesan sembari garuk garuk badannya yang tak gatal.


"Astaga! Ternyata kamu juga udah parah, Mal," cibir Rizal.


"Tapi kan awalnya aku diperkosa, Zal," ucap Jamal membela diri.


"Hah! Diperkosa?" tanya Rizal kaget. Begitu juga dengan Iqbal.


"Mana ada laki laki diperkosa? Asal aja kamu kalau ngomong," tuduh Iqbal.


"Yah, nggak percaya. Nih! Tangan kiri aku aja sampai diiket waktu pertama kali terjadi," ucap Jamal berapi api sambil mengangkat tangan kirinya.


"Hah! Kok bisa? Gimana ceritanya?" cecar Iqbal.


"Jadi gini ..." Jamal pun mulai menceritakan awal kisahnya dari mulai keluar kantor dan berakhir dengan malam panas yang terjadi antara Selin dan Jamal.


"Hahaha ... masa kamu nangis?" ledek Rizal.


"Hahaha ... aneh kamu, Mal. Dikasih enak malah nangis," sambung Iqbal.


"Ya gimana yah? Pokoknya perasaanku saat itu nggak nentu aja. Kan wajar dong aku punya keinginan malam pertamaku sama istriku sendiri eh malah kejadian sama anak majikan," sungut Jamal membela diri.


"Terus setelah kejadian itu, kamu mengulanginya lagi nggak?" tanya Iqbal.


"Iya lah, berkali kali," sontak jawaban Jamal membuat kedua temannya terbahak begitu keras.


"Sekarang kalian masih main?" tanya Rizal.


"Ya kan tadi aku udah bilang, Zal. Sebelum ketemu kalian, dia minta dibikin enak dulu, ya udah deh aku kasih jatah dulu satu jam buat nyenengin hati dia," terang Jamal.


"Berarti kamu bebas dong, keluar masuk kamar anak majikanmu?" tanya Iqbal agak terkejut.


"Enggak, sejak kejadian itu, aku tidur sekamar terus bareng dia," jawab Jamal enteng, tapi sukses membuat Rizal dan Iqbal syok dan takjub dengan mulut sedikit terbuka.


"Kok bisa? Emang orang tuanya nggak marah?" tanya Rizal heran.


"Dia tinggal sendirian di apartemen karena lagi marah sama bapaknya. Aku disuruh nemenin, ya udah, aku sih nurut aja," jawab Jamal enteng kemudian dia menenggak minum dalam botol yang isinya tinggal setengah.


"Enak benar hidupmu, Mal," ucap Rizal dan Jamal hanya mengendikkan bahunya sambil cengengesan.


"Kisahmu hampir sama dengan yang aku alami, Mal," ucap Iqbal tiba tiba. Hingga kini semua mata sahabatnya tertuju pada Iqbal yang sedang menenggak minumnya.


"Sama dengan aku? Maksudnya?" tanya Jamal dengan dahi berkerut.


"Ya itu ... kita sama sama dekat dengan anak majikan," jawab Iqbal masih menggantung membuat kedua temannya makin penasaran.


"Anak majikan?" tanya Rizal yang masih mencerna ucapan sahabatnya.


"Iya, wanita yang kalian lihat bersamaku dan ngaku pacarnya aku itu. Dia anak majikanku sama kayak kamu, Mal," balas Iqbal dan kedua sahabatnya sejenak terkejut tapi tak lama kemudian mereka manggut manggut tanda maksud ucapan Iqbal.


"Apa masalahnya juga sama dengan masalah anak majikanku, Bal?" tanya Jamal.


"Lebih parah sih menurutku. Dia bukan hanya ribut dengan orang tuanya saja, tapi juga dengan kedua kakaknya," terang Iqbal.


"Loh? Kok bisa? Apa dia anak pembangkang?" tanya Rizal.


"Bukan. Dia sebenarnya anak penurut, cuma gara gara kakaknya saja, dia jadi anak pembangkang," balas Iqbal lagi.


"Kok gara gara kakaknya?" Jamal yang bertanya.


"Iya gara gara kakaknya. Yang bikin aku pusing, kedua kakaknya juga sama sama pengin tidur bareng dengan aku."


"Hah!"


...@@@@@...