
Suatu pagi di sebuah tempat, tepatnya di salah satu unit apartemen mewah. Seorang wanita melangkah malas dari dalam kamarnya menuju pintu utama apartemennya.
"Siapa sih? Ganggu orang aja jam segini," gerutu wanita itu. Dengan malas dan kesal dia membuka pintu apartemennya.
Betapa kagetnya wanita itu, saat melihat dua orang berdiri di depan pintu. Wajahnya seketika pias dan perasaanya tidak enak.
"Pak Polisi!" pekik wanita itu terbata.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa pria berbadan tegap dengan seraganm berwarna cokelat dan salah satu sisinya ada logo polisi tertempel.
"Se-selamat pagi, a-ada apa ya, Pak?" tanya wanita itu dengan suara tergagap.
"Apa benar ini kediaman Ibu Sandra altemose?"
"I-iya saya sendiri."
"Baik kalau begitu kami harap ibu ikut dengan kami untuk memberi keterangan tentang dugaan rencana penculikan dan pembunuhan kepada saudari Selinda dan Jamaludin."
"Pe-pembunuhan?" tanya Sandra terkejut. Pasalnya tidak ada pembunuhan dalam rencananya.
"Benar. Untuk lebih jelasnya, Ibu sebaiknya ikut dengan kami sekarang juga."
"Baiklah. Saya ganti baju dulu Pak."
Tak lama setelah ganti baju dan membawa tasnya, Sandra mengikuti kedua polisi dengan cara menundukkan kepalanya. Tentu saja dia sangat malu dengan tatapan orang yang dilaluinya.Tak lupa Selin pun menghubungi pengacara dan orang orang yang kemungkinan bisa membantunya. Dia juga mengirim pesan kepada Gustavo dan Selin sambil tersenyum jahat.
Dan di dalam sebuah gedung, tepatnya di ruang kerja yang letaknya berada dilantai dilantai paling atas, Rahang Gustavo mengeras, amarahnya berkobar setelah setelah mendapat pesan ancaman dari wanita yang sedang dalam proses diceraikan.
Dengan seenaknya, Sandra mengancam akan membongkar siapa jati diri Selin sebenarnya. Biar semua tahu keburukan Gustavo dimata masyarakat.
Gustavo yakin seluruh keluarganya pasti akan menyalahkannya. Akan mengungkit masa lalunya dan Gustavo tidak mau anaknya kembali terluka.
Gustavo tak mau kalah. Dia juga menyiapkan pengacaranya untuk menjebloskan Sandra ke dalam penjara.
Sementara di kampusnya, Selin juga merasakan ketakutan yang sama. Ancaman Sandra sungguh membuat Selin bingung dan takut bersamaan. Bagaiman mungkin Sandra bisa setega itu? Dia mengancam akan membongkar siapa jati diri Selin kepada semua teman kampusnya.
"Selin, kamu kenapa? Sakit?" tanya temennya yang merasa heran dengan perubahan sikap Sandra. Siapapun juga pasti heran dengan perubahan sikap Selin. Tadi saat baru datang, Selin terlihat ceria, tapi semenjak mendapat pesan dari Sandra, sikapnya langsung berubah.
"Eh enggak. Cuma ini perut melilit sakit. Kayaknya mau datang bulan," jawab Selin dusta.
"Owalah, mending istirahat sana. Dari pada kenapa kenapa. Mau aku antar?"
"Nggak usah, paling bentar lagi juga mendingan."
"Ada apa? Kenapa lari lari, Non?" tanya Jamal begitu Selin sampai dan langsung masuk ke dalam mobil dengan nafas tersengal sengal.
"Kita ke kantor papa, Mal."
"Ada apa? Hum?" Selin pun menyodorkan pesan yang ada di ponsel. "Astag! ini?"
"Mama Sandra ngancam aku, Mal. Dia ingin mempermalukan aku."
"Udah, jangan takut. Kita ke kantor Tuan sekarang?" tawar Jamal dan Selin mengangguk.
Mobil segera Jamal nyalakan dan tak butuh waktu lama, mobil telah melaju menembus jalan raya.
Sepanjang perjalanan Selin hanya terdiam. Matanya menatap ke arah jalanan. Tangan kirj Jamal pun terulur dan membelai rambut Selin.
"Jangan terlalu dipikirkan, Non," ucap Jamal.
"Gimana nggak kepikiran, Mal. Aku nggak nyangka Mama Sandra begini banget sama aku. Kalau dia dendam karena dulu Papa selingkuh dengan wanita yang melahirkanku, kenapa baru sekarang Mama Sandra melampiaskannya?" ungkap Selin lantang meski nadanya sambil bergetar.
Jamal terdiam. Dia pun merasa bersalah. Biar bagaimanapun semua masalah yang melibatkan Selin dan Gustavo berawal dari penolakan dan penghinaan Jamal yang tersulut emosi karena Sandra terus mennganggunya.
Hingga beberapa saat kemudian, sampailah mobil yang Jamal kendarai di area parkir kantor Gustavo.
"Kamu ikut masuk, Mal. Aku nggak mau sendirian."
"Baiklah, Ayo."
Mereka berdua lantas turun dari mobil dan berjalan cepat masuk kantor.
Kini keduanya sudah berada di lantai paling atas dimana letak kantor Gustavo berada. Tapi selin dan Jamal tertegun karena mereka sayup sayup mendengar suara pertengkaran.
"Apa Papa lagi ada tamu?" tanya Selin pada seorang pria yang menjadi sekretaris ayahnya.
"Iya, Nona. Katanya beliau saudara Tuan."
Selin pun mengangguk. Perlahan dia melangkah mendekati pintu kantor papanya. Betapa terkejutnya Selin saat pintu itu terbuka dan mendengar perkataan yang sangat menyakitkan.
"Harusnya dari dulu Selin kamu buang, nggak usah dipelihara!"
...@@@@@...