TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 231 (Jamal)


"Sekarang kamu bilang sama orang tua kamu, kalau kamu telah merusak anak majikanmu, berani nggak?"


Jamal terkesiap. Sejenak dia mendongak dan menatap Tuannya yang sedang dalam keadaan sangat emosi. Jamal segera menunduk kembali. Pikirannya begitu kacau. Gustavo sungguh memberi pilihan yang sulit untuk pemuda itu.


Sudah menjadi sifat manusia, kalau berbuat salah, banyak yang enggan mengakui kesalahannya. Bahkan, meskipun sudah jelas merasa bersalah, manusia cenderung mencari pembenaran dengan alasan yang dibuat.


Dan sekarang Jamal dalam posisi dimana dia salah dan harus mengaku kepada orang tuanya. Apakah Jamal mampu? Sudah pasti dia seharusnya mampu. Tapi selayaknya manusia, Jamal juga memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, dan semuanya itu hal buruk yang dia pikirkan.


Jamal sadar, dia terlalu larut dalam nikmat yang dia dapatkan bersama anak majikannya. Meskipun Selin mengaku ini adalah kesalahannya. Tapi Jamal harusnya sadar kalau dia juga sudah kebablasan.


Jamal sudah membayangkan, orangtuanya akan kecewa, terpukul, sedih bahkan sakit atas perbuatannya. Tapi ini kenyataan. Ini akibat yang harus Jamal pertanggung jawabkan. Apalagi jika Selin sampai hamil, tak terbayangkan murkanya Bapak dan kecewanya Emak.


"Saya memang bukan pria yang baik, Mal. Saya juga banyak dosa. Tapi bukan berarti saya juga ingin anak saya mengikuti jejak ayahnya. Saya ingin anak saya menjalani kehidupan yang lebih baik. Tapi sekarang? Saya telah gagal menjadi Ayah yang menjaga putrinya. Saya gagal. Bahkan kamu yang saya percaya, ikut andil dalam mematahkan semangat saya agar menjadi ayah yang lebih baik," ucapan Gustavo terdengar sangat pilu. Bahkan Jamal terkejut saat mendengar ada isak dalam suara majikannya.


"Sekarang kamu aku pecat, Mal. Kamu lakukan apa yang aku pinta. Jika kamu tidak sanggup, tinggalkan anak saya. Saya tidak mau menyerahkan anak saya pada pria yang tidak memiliki rasa tanggung jawab sama sekali!"


Jamal dan Selin kembali terkejut dengan keputusan Gustavo. Mereka menatap nanar pria tua yang melangkah gontai dan duduk di kursi kebesaranya. Perasaan Gustavo sangat hancur.


Selin melangkah menuju arah Papanya, dia berlutut dan meletakkan kedua tangannya di lutut sang Ayah. Matanya meremarah dengan air mata yang tak bisa dia bendung.


"Papa," ucap Selin pilu. Dia tidak menyangka akan menyakiti ayahnya sedalam ini. Seumur hidup, Selin baru melihat ayahnya begitu rapuh. Bahkan Selin tidak pernah melihat Gustavo menangis. Tapi hari ini, Selin melihat begitu banyak kesedihan dan rasa kecewa akibat pengkhiatan anak dan supirnya. Dua orang yang sangat Gustavo percaya, turut menikam dirinya dari belakang. Mata gustavo terpejam. Pikirannya begitu kalut.


"Maafin Selin, Pa, hiks ... hiks ..." tangis Selin pecah dalam pangkuan sang ayah. Air matanya mengalir deras hingga membasahi celana sang ayah. Gustavo terdiam, mulutnya seakan terkunci. Dia enggan mengatakan apapun saat ini.


"Baiklah, Tuan. Saya terima keputusan Tuan. Sekali lagi saya mohon maaf karena saya telah lalai salam menjaga kepercayaan yang Tuan berikan. Saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan berusaha untuk membuktikan kalau saya akan bertanggung jawab pada Nona Selin. Saya minta kepada Tuan, sebelum saya membawa restu orang tua saya, saya mohon jangan serahkan Selin kepada pria lain. Saya yang telah merusaknya, maka saya juga yang akan menjaganya."


Jamal memberi salam dan dengan langkah gontai melangkah menuju pintu keluar. Selin bangkit dan mengejarnya. Diraihnya tangan Jamal.


"Jangan pergi, Jamal. kalau kamu pergi, aku sama siapa?" ucap Selin lirih. Ketakutan sungguh terlihat jelas di wajah wanita itu.


Jamal membalas genggaman Selin, senyumnya dia paksakan meski terasa getir. "Non Selin disini saja. Temani Tuan. Dia lagi sedih. Dia butuh Non Selin di sisinya."


"Tapi aku juga butuh kamu, Jamal. Hidupku bagaimana jika ngga ada kamu?"


"Hei," seru Jamal lembut. "Aku perginya nggak akan lama. Setelah aku dapat restu dari Bapak dan Emak, aku pasti akan datang kesini lagi, Oke? Non Selin berdoa saja dari sini, supaya urusanku lancar dan aku cepat cepat kembali, Oke?"


Selin pun langsung memeluk Jamal. Bagi mereka ini menang sangat berat, tapi ini memang harus terjadi. Setelah saling peluk dan saling menguatkan, akhirnya pelukan mereka terlepas.


"Jaga diri Non Selin baik baik ya? Jaga Tuan juga."


"Cepat kembali ya, Mal?"


Jamal pun mengangguk dengan mengulas senyum pahitnya. Dia berbalik badan dan melangkah keluar meninggalkan segalanya.


...@@@@@...