
Pagi itu memang berbeda dari pagi yang biasanya. Rizal sungguh diliputi perasaan yang tidak tenang ketika majikannya mengancam membawa nama orang tuanya. Dari ancaman itulah akhirnya Rizal memutuskan memilih pulang.
Setelah pembicaraan serius dengan Miranda selesai, Rizal kembali ke kamar guna bersiap diri untuk pulang. Betapa kagetnya dia saat mengecek ponsel dan membaca pesan yang masuk. Tomi tidak main main dengan ucapannya. Pesan dari sang kakak yang menyiratkan kemarahan dan kekecewaan orang tuanya. Entah apa yang didengar orang tuanya, tapi Rizal yakin saat ini orang tuanya sedang tidak baik baik saja.
Dalam duduknya, Rizal terdiam. Kegiatannya dalam mengemas pakaian, terhenti seketika setelah membaca pesan dari sang kakak. Rizal sungguh harus menguatkan hati. Ini semua salah dia. Dan dia sendiri yang harus menghadapinya.
"Loh, kok bengong?" sebuah suara lembut menyadarkan lamunan Rizal. Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara. Miranda mendekat sambil tersenyum dan mulai membantu mengemas barang barang Rizal yang masih tersisa.
"Sepertinya tasmu nggak bakalan cukup, ambil dus sama tali sana, minta Mbak Sari," perintah Miranda. Tanpa menjawab, Rizal langsung bangkit dengan gontai keluar dari kamarnya.
Miranda merasa heran dengan sikap Rizal. Pemuda itu terlihat seperti sedih dan bingung. Lantas Miranda melihat ponsel Rizal dan mengambinya.
Mata Miranda membulat saat melihat pesan dari seorang bernama Andini. "Kalau mau bikin malu, mending bunuh orang tua kamu saja, Zal. Biar mereka tidak merasa malu saat mengetahui perbuatanmu."
Dada Miranda bergemuruh. Sekarang dia yakin, pasti sikap Rizal berbeda gara gara pesan itu. Siapa Andini? Apa itu nama kakaknya? Benak Miranda bertanya tanya. Setahu Miranda, Rizal memang punya satu kakak dan satu adik. Tapi Rizal tidak pernah menyebutkan namanya.
Miranda segera mematikan ponsel Rizal dan meletakkannya di tempat semula. Tak lama kemudian Rizal kembali dengan menenteng sebuah dus dan tali plastik. Tidak ada obrolan berarti dari keduanya. Mereka hanyut dalam pikiran masing masing.
Hingga semuanya selesai, dan waktu pulang pun tiba. Taksi online yang akan membawa Rizal ke terminal telah datang. Rizal segera bersiap dan pamit pada orang rumah kecuali Tuan Tomi.
"Mbak Sari, aku pamit," ucap Rizal sambil menyalami pembantu itu.
"Iya, Zal, hati hati ya. Semoga masalahnya cepat selesai," balas Mbak Sari.
"Aamiin, makasih ya, Mbak," jawab Rizal, kini dia berhadapan dengan Miranda. "Non, aku pamit ya?"
Miranda mencoba tersenyum meski hatinya sangat berat untuk melepas kepergian supir kesayangnnya. "Iya, hati hati ya? sampaikan permintaan maafku buat orang tua kamu, Zal."
"Iya, Non."
Mereka lantas saling peluk, guna meringankan sesak dalam dada mereka walau hanya sesaat. Rizal lantas masuk ke dalam taksi yang akan membawanya. Tak butuh waktu lama, taksi pun melaju meningggalkan kediaman Miranda.
"Kekasih gelapmu sudah pulang?" tanya Tomi begitu melihat Miranda hendak masuk kamar. "Bagaimana perasaan orang tuanya ya?"
"Kenapa manatapku seperti itu? Nggak salah kan kalau aku juga ngomong yang sebenarnya kepada keluarga Rizal kalau dia perusak rumah tangga mijakannya."
"Terserah kamu mau ngomong apa. Aku nggak peduli!" balas Miranda tajam dan dia masuk ke dalam kabar.
Brak!
Tomi hanya menyeringai. Dia merasa puas. Setidaknya bukan dirinya saja yang dituduh menyebabkan masalah. Dia juga ingin Miranda dan Rizal dapat masalah juga.
Beberapa menit kemudian, kini Rizal sedang duduk dibangku tak jauh dari bis yang akan membawanya pulang. Pikirannya masih kacau karena memikirkan apa yang terjadi pada orang tuanya saat ini. Dia hanya memberitahukan sang kakak kalau hari ini dia pulang. Tapi dia tidak berani bertanya lebih. Biar nanti saja saat sampai di rumah.
"Rizal!" sebuah suara membuyarkan lamunannya. Dia sontak menoleh ke sumber suara.
"Loh kok?" ucap Rizal merasa terkejut. "Kamu ngapain disini, Bal?"
"Mau mudik, lah kamu?" jawab orang itu yang ternyata adalaah Iqbal, sahabatnya sendir.
"Aku juga sama, mau mudik. Hilaah, kenapa bisa barengan gini?" balas Rizal merasa kaget.
"Waduh! Kok kebetulan banget?" sahut Iqbal, lantas dia duduk di bangku yang sama dengan sahabatnya. "Kamu kenapa mudik, Zal? Di rumah ada masalah?"
"Yah begitu lah," jawab Rizal lesu. "Mereka marah sama aku, gara gara aku nggak bisa jaga kepercayaan mereka selama aku disini."
"Entar dulu," ucap Iqbal dengan wajah nampak sedikit terkejut. "Kok masalahnya sama kayak aku? Atau kamu pulang juga karena ada masalah dengan majikanmu?"
"Loh! Kok kamu tahu?" kini Rizal yang nampak terkejut mendengar pertanyaan Iqbal.
"Astaga! Ternyata masalah kita sama, hahaha ..."
"Hah!"
...@@@@@...