
Jamal mengekor mengikuti langkah Sandra yang nampak seksi dengan pakaian ketatnya. Mata Jamal memandang bongkahan pinggang ke bawah yang terlihat padat seperti menantang untuk dipegang dan diberi pijatan lembut. Jamal jadi teringat dengan bongkahan milik Selin yang empuk dan menggemaskan.
Sesampainya di caffe, lagi-lagi Sandra memilih tempat duduk di lantai dua yang memang sangat sepi. Dan seperti disengaja, Sandra memilih duduk di pojokan dan bersebelahan dengan Jamal.
Jamal sungguh merasa tak nyaman dibuatnya. Jamal bahkan berkali kali menelan ludahnya karena disuguhi pemandangan berupa paha yang mulus serta bagian atas bukit kembar yang terjerat pakaian ketat yang Sandra pakai. Bukit kembar itu seakan akan ingin mencuat dari jeratan pakaian yang terlihat sangat menyesakkan tersebut.
"Bagaimana tawaran kerja dari saya, Jamal? Kamu pasti mau, kan?" tanya Sandra dengan wajah sumringah. Sepertinya dia berharap Jamal membawa kabar baik yang sangat membahagiakan. Tapi melihat Jamal hanya diam dan nampak sedang berpikir, wajah sumringah Sandra berubah menjadi wajah penuh tanya dengan kening yang berkerut.
"Maaf, Nyonya, sepertinya saya tidak menerima tawaran kerja nyonya Sandra," balas Jamal agak terbata. Tentu saja Sandra sangat terkejut mendengarnya. Namun sepertinya dia tidak akan menyerah. Dia sungguh terpesona dengan supir yang satu ini.
"Loh, kenapa? Tawaran bagus itu loh, kapan lagi ada tawaran sebagus itu?" ucap Sandra berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
"Iya saya tahu, itu tawaran bagus, Nyonya. Tapi maaf sekali lagi kalau saya sungguh tidak bisa," jawab Jamal tetap pada pendiriannya. Dia bahkan berani menatap Sandra agar wanita itu tahu kalau dia bersungguh sungguh. Sandra tertawa sumbang menyuarakan kekecewaannya.
"Kenapa? Apa kamu menolaknya karena Selin? Atau kamu diancam sama Gustavo? Jangan takut Jamal, ini demi masa depan kamu agar menjadi lebih baik," ucap Sandra mencoba menggoyangkan keyakinan Jamal. "Apa kamu sungguh tidak ingin keluargamu bahagia? Apa kamu nggak ingin membuat orang tuamu bangga? Harusnya kamu juga mikirin perasaan orang tuamu juga, Mal, mereka yang telah merawat kamu sampai sebesar ini, harusnya kamu bisa berpikir lebih bijak, jangan karena orang lain, kamu jadi mengabaikan kesempatan emas yang ada di hadapanmu."
Jamal terdiam mendengar dan mencerna semua ucapan Sandra. Dan ucapannya memang tidak ada yang salah. Sedangkan Sandra yang melihat Jamal terdiam, tersenyum tipis. Dia merasa yakin dengan bicara seperti itu, Jamal pasti akan goyah. Jamal menoleh dan menatap lekat wajah wanita di sebelahnya yang sedang menatapnya juga sembari tersenyum.
"Apakah Nyonya Sandra juga memikirkan perasaan Non Selin saat ini?" Sandra terkesiap seketika, senyumnya memudar mendengar pertanyaan yang Jamal lontarkan.
"Apa hubungannya dengan Selin? Ini menyangkut masa depan kamu," ucap Sandra merasa heran dengan pertanyaan Jamal.
"Bagaimana bisa? Jangan ngaco kamu, Mal?" balas Sandra sedikit emosi.
"Kemarin saat Non Selin sedih, dia hanya sendirian, dia melampiaskannya dengan mabuk mabukan. Dia tidak punya tempat bersandar dan mengeluh. Dia punya keluarga tapi seperti tidak punya keluarga. Nyonya Sandra yang berperan sebagai ibu, justru sangat menyakitinya terlalu dalam dengan merebut pacar Non Selin. dimana perasaan Nyonya? Terus Nyonya dengan entengnya meminta saya mengikuti tawaran Nyonya dan meninggalkan Non Selin, bagaimana perasaan Non Selin nantinya? Apakah Nyonya memikirkannya?"
pertanyaan Jamal langsung membuat Sandra terbungkam. Wanita itu tidak menyangka Jamal akan membalikkan ucapannya. Sandra mengambil cangkir kopi dan meneguknya. Tapi kopi itu seakan tertahan di dalam tenggorokannya.
"Harusnya, Nyonya lebih peka dengan perasaan Non Selin. Nyonya ibunya, Nyonya juga seorang wanita yang sudah tidak muda lagi. Seharusnya Nyonya bisa bersikap dan berpikiran lebih dewasa sesuai dengan usia anda, Nyonya," ucap Jamal dan lagi lagi sukses membuat Sandra semakin terdiam. Entah apa yang Sandra pikirkan, yang pasti hatinya tersentil dengan ucapan pemuda di sebelahnya.
"Maaf Nyonya jika sikap saya kurang sopan, saya peduli dengan perasaan Non Selin. Urusan perasaan orang tua saya, saya lebih tahu mereka daripada siapapun. Maaf Nyonya, sepertinya pembicaraan ini telah selesai, saya permisi dulu," ucap Jamal dan dia segera bangkit dan beranjak meninggalkan Sandra yang terdiam dengan pikiran mencerna semua ucapan Jamal.
Meski merasa tidak enak, setidaknya Jamal merasa lega karena telah menyampaikan unek uneknya. Dengan perasaan tenang, Jamal melangkah kembali menuju tempat parkir mobil. Namun saat Jamal sampai di dekat mobilnya, tiba tiba ada yang menepuk pundaknya. Jamal menoleh dan
Bugh!
Ada yang menonjok rahang Jamal hingga dia terhuyung ke belakang.
...@@@@@...