TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 170


Pagi di sebuah kossan. Semua penghuni kamar sedang sibuk dengan kegiatan masing masing. kosan dengan dua lantai dan berjumlah sepuluh kamar itu nampak ramai dengan para penghuninya yang akan melakukan aktifitas. Kebanyakan dari para penghuni kost tersebut adalah karyawan yang bekerja di berbagai tempat yang berbeda dan juga bidang yang tak sama.


Seperti dua orang yang saat ini baru saja terbangun dari tidur panjangnya.Mereka juga akan memulai harinya seperti biasa yang sering mereka lakukan.


Iqbal terlihat mengerjapkan mata. Perlahan mata itu terbuka dan memandang ke sekeliling kemudian menunduk menatap wanita yang selalu tertidur sambil memeluknya. Wanita yang sudah menyerahkan segalanya kepada Iqbal. Wanita yang mempunyai kebiasaan baru, kalau mau tidur selalu memegang benda menegang yang berada di bawah perut Iqbal. Dan karena kebiasaan tersebut, Iqbal kalau hendak tidur, tidak memakai celana maupun boxer. Aneh memang, tapi kegiaatan sekecil itu justru terlihat menyenangkan.


Iqbal mengusap kepala wanita yang memeluknya terus menepuk pundak si wanita dengan tepukan yang pelan.


"Non ... bangun, udah siang ... Non Karin," ucap Iqbal pelan dengan suara yang berat khas bangun tidur.


"Eugh," hanya itu reaksi yang Karin lakukan. Dia malah semakin erat mengencangkan pelukannya.


"Non ... bangun, udah siang hey," bujuk Iqbal lagi. Kali ini suaranya sedikit keras.


"Bentar lagi, masih ngantuk," jawab Karin dengan mata masih terpejam.


"Nanti telat loh, ini udah siang," paksa Iqbal hingga membuat Karin mendengus. Wanita itu pun perlahan membuka matanya terus mendongak menatap Iqbal.


"Yuk, bangun." Karin bukannya bangkit, dia malah bergeser dan melakukan ciuman bangun tidur terlebih dulu. Setelah itu baru Karin duduk dan meregangkan badannya.


Iqbal juga bangkit kemudian langsung beranjak ke kamar mandi tanpa memakai celananya dulu maupun boxer. Setelah buang hajatnya selesai, Iqbal segera gosok gigi dan cuci muka.


"Mau sarapan apa, Non?" tanya Iqbal begitu kegiatan di kamar mandinya selesai.


"Nyari sarapan nanti aja lah, Bal, sambil berangkat. Belum kepikiran juga mau sarapan apa," jawab Karin terdengar lesu.


"Baiklah, kalau gitu aku mau ke kamarku dulu, mau mandi."


Tanpa menunggu jawaban dari Karin, Iqbal segera saja keluar kamar menuju kamarnya dan melakukan ritual mandi. Begitu juga Karin. Dia segera bangkit dan beranjak dengan gontai menuju kamar mandi.


Sekian menit berlalu. Kini keduanya telah rapi dan bersiap diri menjalankan aktifitasnya. Mereka segera turun dan masuk ke dalam mobil kemudian mobil pun meluncur tak lama kemudian.


"Cari warteg aja Bal, daripada bingung."


"Baiklah."


Mobil terus melaju mencari warteg yang telah buka. Tak lam kemudian mereka menemukan warteg yang letaknya tak jauh dari kampus. Mobil pun segera berhenti di depan warteg tersebut.


Begitu masuk warteg, mata Karin berbinar saat melihat beberapa sayur yang telah siap saji terlihat masih mengeluarkan asap. Berarti sayur tersebut memang baru saja matang.


"Lauknya apa, Neng?" tanya pemilik warteg begitu Karin mau pesan. Di tangannya sudah memegang sepiring nasi dan siap di isi denga berbagai lauk


"Lauknya pake perkedel, tahu isi, sayur kecambah sama kangkung ya? Minumnya teh manis, eh sama itu, Bu, sambal goreng ati ampela," pesan Karin pada pemilik warteg.


"Siap, neng," jawab si pemilik.


Karin pun menerima piring yang sudah berisi nasi dan semua lauk pesanannya. Karin memilih duduk di pojokan. Setelah itu gantian Iqbal yang memesan makananya kemudian dia duduk di sebelah Karin karena bangku warteg merupakan bangku yang panjang dengan meja yang panjang juga dan menempel pada tembok.


"Enak juga," ungkap Karin terlihat begitu bahagia. Sedangkan Iqbal lebih banyak tersenyum sembari menikmati hidangannya. Mereka pun menikmati menu sarapan mereka sembari membicarakan sesuatu yang tidak terlalu penting.


"Kenyangnya," ucap Karin beberapa saat kemudian setelah selesai sarapan dan melangkah keluar dari warteg. Sedangkan Iqbal sedang melakukan pembayaran. Setelah semua beres, Iqbal segera menyusul Karin yang sedang berdiri bersandar pada mobilnya.


"Lain kali bisa kesini lagi ya, Bal. Lumayan, bisa buat alternatif," ucap Karin sembari masuk ke dalam mobilnya.


"Iya benar, rasanya juga nggak ngecewain," balas Iqbal sembari menyalakan mesin mobil dan mobil pun bergerak maju.


Sesampainya di kampus, Karin dibuat tercengang dengan apa yang dia lihat di depan pintu gerbang. Bukan hanya Karin yang heran, Iqbal juga merasa terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Belinda dan Aleta, ngapain jam segini datang ke kampusku?"


...@@@@@...