
Malam benar benar semakin larut. Mungkin kebanyakan orang sudah terlelap dan terbuai mimpi saat ini. Tapi tidak untuk dua orang yang sedang saling menempelkan bibirnya satu sama lain di atas ranjang dari salah satu kamar di kawasan apartemen yang elit.
Dialah Jamal dan Selin. Entah Selin masih dalam pengaruh alkohol atau tidak, yang pasti wanita itu bermain bibir dengan sang supir di bawahnya. Selin tengkurap di atas tubuh Jamal dan dengan leluasa dia menikmati bibir sang supir berkali kali.
Setelah puas bermain bibir, Selin bangkit dan duduk di atas perut Jamal. Dia tersenyum nakal kemudian kedua tangannya bergerak dan meraih kancing baju Jamal.
Mata Jamal seketika membulat. Dia terkejut dengan perbuatan anak majikannya. "Non Selin? Apa yang kamu lakukan?"
"Malam ini kita akan bersenang senang, supir tampanku," ucap Selin dengan tatapan dan senyum yang sangat menggoda. Jamal sontak semakin panik. Dia mencegah tangan Selin yang sedang melepas kancing bajunya. Namun tangan itu Selin hempaskan.
"Kamu lebih baik diam, Jamal! Apa kamu mau dipecat papah?" ancam Selin dan dengan terpaksa Jamal pun terdiam meski raut wajahnya terlihat panik.
"Ya Tuhan, lindungi aku," Doa Jamal dalam hati.
Satu persatu, kancing baju Jamal terlepas semua. Mata Selin berbinar memandang dada bidang Jamal dengan perut kotak-kotak sempurna.
"Badan kamu sangat Bagus, Mal," puji Selin sambil mengusap lembut dada bidang Jamal hingga membuat tubuh Jamal merinding, merasakan sensasi berbeda, antara rasa enak dan rasa takut yang melebur jadi satu.
Selin kembali menjatuhkan tubuhnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Jamal. Namun saat bibir terlepas, Selin justru melayangkan bibir ke leher Jamal hingga lagi-lagi tubuh Jamal merinding.
"Non Selin? Apa yang kamu lakukan? Jangan seperti ini?" rintih Jamal. Tapi Selin tak peduli.
Bibir Selin terus menjelajah keseluruh leher Jamal. Dan saat bibir itu sampai di dada, Selin memainkan dua titik hitam milik Jamal dengan mulutnya. Jamal seketika merasakan nikmat yang luar biasa dalam tubuhnya. Baru kali ini dia merasakan seperti ini. Tapi pikiran Jamal masih terkontrol. Dia terus meminta Selin menghentikannya hingga akhirnya Selin pun mengancam yang membuat Jamal terdiam dan takut. Akhirnya pemuda itu pun pasrah.
Selepas puas bermain di dada, bibir Selin kembali bergerilya dan sekarang sasarannya adalah perut. Badan Jamal meliuk liuk kegelian. Saat Selin sedang mengendus perut Jamal, matanya melirik ke arah celana Jamal dan dia seketika menyeringai. Selin bangkit dan menatap Jamal dengan senyuman nakalnya.
"Non Selin!" pekik Jamal lirih.
"Kita nikmatin aja, Mal. Jangan rewel!Awas aja kalau protes mulu!" hardik Selin sedikit membentak dan Jamal langsung terdiam.
Awalnya Selin cuma mengusap usap lembut diatas celana Jamal, namun perlahan tapi pasti Selin membuka sabuk celana dan juga resletingnya.
Jamal sungguh tidak bisa berkutik. Salah satu tangannya terikat dan dia diancam. Jamal tahu Tuan Gustavo sedang marah makanya kalau dia tidak menuruti Selin dan si anak melaporkannya yang tidak tidak, bisa bahaya. Bisa dipecat dia. Apalagi orangtuanya sekarang lagi sakit, jadi Jamal tidak mau terjadi hal buruk jika dia dipecat.
Jamal terus merasa terkejut. Kini celananya di tarik Selin hingga terlepas. Panik dan gugup menyatu jadi satu dan menimbulkan degupan jantung yang begitu cepat.
Kini tangan Selin kembali mendarat di atas boxer Jamal yang dibelikan Selin beberapa waktu lalu. Selin kembali tersenyum nakal. Jamal kini merasakan sesuatu yang menegang miliknya sedang di pijat-pijat dengan lembut naik turun oleh tangan Selin. Nikmat, itulah yang Jamal rasakan. Jamal pun melihat tangan Selin masuk ke dalam boxernya dan kembali memijat miliknya. Jamal sampai dibuat merintih kenikmatan karena ini baru pertama kali dia rasakan
Jamal hanya pasrah saat Selin membuka dan melepas boxernya lalu Selin memainkan milik Jamal yang sudah sangat mengeras.
Jamal kembali dibuat terkejut saat bibir Selin menempel berkali-kali di benda miliknya yang menegang. Bukan hanya bibir, bahkan lidah dan mulut Selin ikut bermain di bawah sana membuat rasa nikmat yang tak biasa Jamal rasakan. Sungguh Jamal merasa terbang tinggi di awan.
Selin memainkan milik Jamal bagai seorang yang sudah ahli, padahal dia juga baru pertama kali. Mungkin pengaruh alkohol membuat dia berani melakukan hal itu.
Beberapa lama kemudian, karena terlalu nikmat permainan mulut Selin, Jamal pun tak kuasa menahan sesuatu hingga tubuhnya bergetar dan menyemburlah air kental berwarna putih menyirami mulut Selin hingga wanita itu kaget.
"Ih, keluar kok nggak bilang-bilang sih Mal?" ucap Selin cemberut namun Jamal hanya tersenyum tanpa dosa.
...@@@@@@...