
"Bagaimana reaksi Selin jika supir kesayangannya baru saja duduk mesra dengan cewek lain di tempat wisata?" ucap Rio.
Seketika langkah Jamal terhenti. Ucapan Rio yang pelan tapi terdengar mengancam, membuat Jamal menoleh dan menatap tajam pria yang sedang cengengesan karena merasa menang.
Tentu saja Rio seperti di atas angin karena dia memiliki kartu yang bisa digunakan untuk mengancam supir yang sangat dia benci.
"Apa menurut anda, saya takut dengan ancaman anda? Cuma pengecut yang mempunyai kemampuan seperti itu"
Deg!
Kini gantian Rio yang terperangah. Nyatanya Jamal hanya menunjukan reaksi terkejut bukan wajah takut karena sebuah ancaman. Bahkan dengan santainya Jamal melenggang ke arah luar toilet. Meninggalkan Rio yang terbungkam dengan menahan amarah.
Karena ulah Rio, Jamal mengurungkan niatnya ke toilet. Bahkan rasa ingin ke toilet mendadak hilang akibat rasa muaknya kepada pria yang selalu mengusiknya.
Entah apa yang menjadi alasan Rio membenci Jamal. Entah serius karena Selin atau karena Rio pernah dipermalukan. Hanya Rio yang tahu.
Jamal sendiri merasa heran, bagaimana bisa Rio begitu membencinya. Kalau memang menyukai Selin, kenapa dulu mengkhianatinya? Dan lebih parahnya lagi pengkhianatannya di lakukan bersama nyonya Sandra. Sungguh lucu, bukan?
"Yuk balik, perasaanku nggak enak," ucap Jamal begitu sampai di tempat kedua sahabatnya berada.
"Loh, kenapa? Apa Selin menghubungimu?" tanya Iqbal sambil bersiap siap meninggalkan tempat itu.
"Bukan, tapi ada pria pengecut yang bisanya cuma ngancam, payah," ucap Jamal merasa kesal.
Mereka segera saja beranjak meninggalkan tempat itu. Tapi saat mereka membalik badan.
"Bukankah itu Tuan Tomi, Zal?" tunjuk Iqbal yang melihat Tomi sedang ngobrol sama Rio dan mereka juga sedang bersiap pergi.
"Ah sial! Berarti dari tadi mereka lihat kita waktu ada dua cewek kakaknya Karin," ucap Jamal kesal sembari memandang ke arah Rio yang sudah melangkah meninggalkan tempat duduk menyusul Tomi yang jalan duluan.
"Yang benar, Mal? Dari mana kamu tahu?" tanya Iqbal.
"Tadi di toilet, aku ketemu Rio, dan dia ngancam gitu, mau ngomong sama Selin kalau kita sebenarnya main sama cewek lain."
"Rio?" tanya Rizal.
"Ya itu, pria yang bersama Tomi, masa kamu lupa?" terang Jamal.
"Kenapa kalian pada panik? Kan kalian nggak pacaran resmi?" ucap Iqbal santai meski merasa heran dengan sikap keduanya.
"Wajar lah kita panik, mereka tuh percaya sama kita, coba kamu bayangin jika kamu pulang dari sini terus Karin tahu kamu diam saja waktu kedua kakaknya nempel banget sama kamu kayak tadi? Apa yang akan kamu jelasin?" cecar jamal kesal. Sementara yang di cecar, hanya mampu cengengesan.
"Ya udah sih, daripada kita menerka nerka disini, mending secepatnya kita pulang, bentar lagi malam, kasian Karin, pasti dia nungguin," usul Iqbal.
Kedua sahabat Iqbal pun serentak setuju dan mereka bergegas keluar tempat wisata yang masih rame menuju mobil Rizal terparkir.
Sementara di mobil lain, Rio terlihat sedang merenung. Matanya nyalang menatap arah luar dari balik kaca mobil, tapi pikirannya tertuju pada sikap Jamal saat dia bertemu di toilet.
Sungguh Rio tak habis pikir, Jamal terlihat sangat tidak takut dengan ancaman yang Rio lontarkan. Jamal malah terkesan menantangnya. Rio sadar, jika adu fisik dengan Jamal, dia kalah jauh karena sudah menyaksikan sendiri kehebatan Jamal. Maka itu kali ini Rio harus pakai otak agar dia bisa memberi pelajaran pada Jamal.
"Kamu kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Tomi yang sedari tadi fokus menyetir. Tangan kiri Tomi mengusap paha Rio beberapa kali.
"Tidak, aku hanya merasa capek saja," kilah Rio.
"Tapi dari tadi kamu gelisah? Apa kamu masih memikirkan supir dan kekasihmu?" terka Tomi.
"Yah, aku cuma mau cari kelemahan dia saja, tapi sepertinya cara mengancam pakai foto kurang ampuh," ucap Rio yang mendadak ragu. Padahal tadi di tempat wisata dia sangat bersemangat akan menggunakan foto itu, tapi melihat Jamal yang tidak menunjukkan rasa takut sama sekali membuat keyakinannya berkurang.
"Coba aja dulu, kalau tidak berhasil bisa cari cara lain," usul Tomi.
"Cara lain seperti apa?" tanya Rio sembari menoleh menatap.
"Selidiki diam diam, cari kelemahan hubungan mereka,"
"Gampang kalau soal itu, tapi apa kamu juga akan menyelidiki istri dan supirmu juga, Mas?"
"Sepertinya begitu. Mungkin ucapanmu benar, aku bisa saja kecolongan dengan sikap mereka."
"Baguslah, biar para supir nggak pada belagu dan tahu diri siapa mereka."
Keduanya pun serentak menyeringai.
@@@@@