TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 112 (Iqbal)


Dua mata itu saling beradu. Dua wajah itu saling berhadapan. Dua nafas itu saling menderu. Dua benda pemberi kenikmatan tiada tara sedang bertemu, bercampur dan saling menyalurkan gejolak yang telah mendera jiwa dan raga sepasang manusia itu.


Si pria masih setia dengan pinggul yang bergerak maju mundur perlahan. Si wanita juga masih setia mengeluarkan suara rintihan nikmat yang belum lama tercipta setelah rasa sakit akibat sobeknya mahkota berharga miliknya.


Tangan si wanita bergerak terangkat, mengusap pipi dan dahi si pria yang penuh keringat tanpa rasa jijik.


"Kenapa kamu saat ini terlihat tampan sekali, Bal?" puji si wanita dengan suara terdengar menggoda.


"Kamu juga saat ini lebih cantik dari biasanya, Non," puji Iqbal kepada anak majikannya.


"Gombal," cibir Karin. Iqbal menyeringai lalu menyambar bibir Karin dan memagutnya.


"Udah nggak sakit?" tanya Iqbal setelah melepas bibirnya. Karin mengangguk.


"Enggak, Ini malah nikmat banget, Bal. Tapi aku kayak pengin kencing," balas Karin sembari merintih kenikmatan.


"Mungkin Non Karin akan meraih puncak nikmat, aku percepat sodoknya ya?" dan Karin mengangguk pasrah.


Iqbal kembali menyambar bibir Karin, kemudian dia menegakkan badannya guna akan fokus mempercepat gerakan pinggulnya.


Semakin cepat gerakan pinggul Iqbal, semakin keras pula suara rintihan kenikmatan yang keluar dari mulut Karin. Hingga beberapa menit kemudian, tubuh Karin bergetar hebat dan mengejang. Bahkan sampai menggelepar. Dan di dalam sana, Iqbal merasa ada sesuatu yang hangat mengalir membasahi benda menegang miliknya yang sedang dia sodokkan. Iqbal tersenyum, menatap wajah sayu dan penuh keringat anak majikannya. Kemudian dia kembali mencondongkan badannya menyerang leher jenjang wanita di bawahnya dengan segenap gejolak yang sangat membara.


"Gimana? Nikmat?" tanya Iqbal dan Karin mengangguk lemas sembari tersenyum tipis. Di usapnya dahi Karin yang sudah berkeringat. Iqbal menyerang bibir Karin kembali.


Sesaat setelah Iqbal memperlambat gerakan pinggulnya, kini gerakan itu kembali dipercepat. Iqbal juga merasa akan segera meraih puncak.


Benar saja, selang beberapa menit kemudian giliran tubuh Iqbal yang begetar hebat dan bersama dengan itu, menyemburlah air putih kental di dalam lembah nikmat Karin. Iqbal terus menghentakan pinggulnya hingga air itu tuntas dan Iqbal ambruk di sisi Karin.


Mereka saling telentang menghadap langit dengan mengatur nafas yang menderu. Mereka terdiam sejenak sembari mengatur nafas.


"Di sini ada cctv nya nggak, Non?" tanya Iqbal diantara deru nafasnya yang berangsur normal kembali


"Kenapa?" tanya Karin sembari menoleh sekilas menatap pria di sebelahnya.


"Nggak ada, aman disini. Mungkin temanku sering melakukan kayak gini bareng pacarnya disini, makanya nggak ada cctv."


"Owalah, ya syukurlah. Jadi kita aman."


Dan mereka kembali terdiam. Tak lama kemudian Iqbal bergeser dan mendekat ke arah Karin, mengangkat kepalanya dan mendaratkan bibirnya di kening Karin dengan segenap perasaan. Mata Karin terpejam meresapi apa yang Iqbal lakukan.


"Makasih ya, Non. Telah memberiku sesuatu yang berharga milik Non Karin," ucap Iqbal tulus sambil mengusap pipi Karin dengan lembut.


"Iya, kamu seneng?" Iqbal mengangguk dan kembali mengecup kening Karin.


"Tapi nanti kalau aku hamil gimana? Apa kamu mau tanggung jawab? Tadi aku ngerasa punya kamu nyembur banyak banget," tanya Karin selanjutnya. Iqbal terkekeh mendengarnya.


"Abis enak banget sih, Non," balas Iqbal sambil terkekeh. "Aku memang pemuda kampung, Non. Tapi pantang bagiku untuk jadi pengecut. Kalau seandainya suatu saat Non hamil ya aku harus tanggung jawab."


"Yakin itu? Bukan dimulut doang?"


"Yakin lah, kalau Non Karin mau, ayo kita menikah sekarang?" Karin malah tergelak mendengar tantangan dari Iqbal.


"Menikah? Hahaha ... Kita belum saling mencintai, Iqbal!"


"Soal cinta mah belakangan Non, yang pentingkan kita bisa enak-enak dan mencampur benih kita."


"Apaan lagi, mencampur benih, bahasamu, Bal," ucap Karin dan dia hendak bangkit, tapi bahunya di tahan oleh Iqbal hingga dia kembali terbaring dan Iqbal langsung menyerang bibir Karin dan memagutnya.


"Tapi aku serius dengan ucapanku, Non. Aku yang meminta mahkota Non Karin, maka aku yang akan mempertanggung jawabkan semuanya jika sesuatu terjadi pada kamu, selama aku masih bersama Non Karin."


Karin menatap manik mata Iqbal. Tidak ada kebohongan dalam manik hitam tersebut. Tangan Karin terangkat dan diusapnya pipi Iqbal dengan lembut.


"Iya, aku percaya," ucap Karin lembut kemudian mereka saling lempar senyum.


...@@@@@...