TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 266 (Iqbal)


"Mami kemana sih?" gumam seorang gadis dengan wajah terlihat sangat khawatir. Berkali kali dia menoba menelfon orang yang dicarinya, tapi tak kunjung mendapat respon sekalipun. Wajahnya terlihat sangat panik. Wanita itu memilih duduk di lorong rumah sakit sambil menunggu seseorang.


Sementara dalam salah satu ruangan rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari keberadaan wanita itu, dua wanita juga sedang merasakan kegelisahan yang sama. Mereka sama sama panik karena kehilangan wanita yang yang telah melahirkan mereka. Mereka bertiga merasa bersalah. Apa lagi anak ketiga mereka.


Air mata Karin seaakan berhenti menetes. Sejak Maminya tidak ada kabar dari pagi, rasa bersalah menyeruak begitu saja dari dalam hatinya. Karin yakin, menghilangnya Mami ada sangkut pautnya dengan ancaman Papi yang meminta cerai. Sungguh, bukan seperti ini yang Karin mau. Karin tidak mau orang tuanya berpisah hanya gara gara perbuatan anaknyya.


"Mami kemana sih?" gumam Aleta yang memilih duduk di sofa yang ada. Berkali kali dia mencoba telfon Maminya, hasilnya masih sama, Tak ada respon satupun.


"Ini semua salah aku, Let. Pasti Mami menghilang gara gara aku, hiks ... hiks ..." rintih Karin dari atas brangkarnya.


"Nggak perlu merasa bersalah Karin. Mungkin Mami sedang menenangkan hatinya. Aku yakin Mami sangat terpukul mendengar keputusan Papi," balas Aleta.


"Tapi, Let. Coba kalau aku nggak berbuat nekat, Papi sama Mami pasti masih baik baik saja. Justru aku yang sangat egois karena mentingin diri sendiri tanpa mau mengerti perasaan Mami sama Papi."


"Rin, udah deh. Kalau ngomong tentang siapa yang salah, kita semua salah. Aku sama Belinda juga turut andil dengan kekacauan keluarga kita. Tapi kalau kita larut dan saling menyalahkan, apa Mami akan kembali? Belum tentu bukan?"


Karin semakin tergugu. Rasa bersalahnya semakin menyeruak. Dia masih tidak menyangka, semuanya akan sekacau ini.


"Gimana? Ada kabar dari Mami?" tanya Martin begitu masuk ke dalam ruang perawatan Karin. Wajah Bapak tiga anak itu terlihat lelah dan panik. Belinda juga ikut masuk ketika melihat Papinya datang. Sedari tadi dia keluar dan duduk di lorong rumah sakit.


"Belum Pi. Nomernya nggak aktif. Nomer supir yang pergi sama Mami juga sama," jawab Aleta.


"Papi sudah menghubungi teman teman Mami belum?" tanya Belinda.


"Sudah, tapi nggak ada satu pun yang tahu keberadaan Mami," jawab Martin.


"Terus Mami dimana?"


Sementara itu, di saat keluarganya sedang sibuk mencari keberadaan Amanda, wanita itu justru saat ini ada di rumah salah satu supir anaknya. Ya, Amanda memutuskan pergi ke rumah Iqbal. Entah apa tujuan wanita itu datang ke tempat sejauh ini. Tapi yang pasti sekarang Amanda terlihat sedang berbincang dengan keluarga Iqbal.


"Maafkan anak kami, Bu. Anak kami telah lancang dan berbuat yang tidak menyenangkan pada keluarga Ibu," ucap Ibu Iqbal merasa sangat bersalah dengan kelakuan anaknya. Sungguh mereka kaget san tidak pernah menduga saat mereka tahu siapa tamu yang datang ke rumahnya.


Sejenak Amanda mengulas senyum. Dia memandang lekat wanita yang usianya mungkin sama dengan diirnya. "Anak Ibu tidak salah, justru anak saya lah yang salah, Bu."


Rini, Bapak dan Ibu tertegun mendengarnya. Pandangan mereka tertuju pada satu wanita yang sedang mengulas senyum meski hati wanita itu juga sedang diliputi kekecewaan.


"Anak sayalah yang memaksa Iqbal untuk melakukannya. Karena saya melihat sendiri kejadian itu," sambung Amanda.


"Astaga! Yang benar, Bu?" tanya Rini nampak terkejut, begitu Ibu dan Bapak.


Amanda mengangguk. "Maafkan saya, karena terlalu kecewa, saya sampai mengatakan kalau mereka kumpul kebo. Padahal disini anak saya juga salah. Dia terlalu menyukai Iqbal, hingga dia nekat berbuat di luar batas."


Ketiga orang di hadapan Amanda nampak manggut manggut. "Terus, apa yang akan Ibu lakukan pada adik saya? Bahkan Ibu sampai datang ke rumah kami?"


Lagi lagi Amanda mengulas senyum. "Saya ingin meminta maaf sama Iqbal dan keluarganya. Saya takut, akibat ucapan saya, Keluarga Iqbal akan menanggung malu. Maafkan saya ya, Bu, Pak," ucap Amanda terdengar sangat tulus.


"Kami juga minta maaf, Bu. Jika anak kami ada salah sama Ibu dan keluarga Ibu."


"Nyonya Amanda!" pekik Iqbal yang saat ini baru pulang dari rumah Jamal. Wajahnya nampak terkejut dan bingung saat tahu siapa tamu yang datang.


"Nggak perlu bingung, Bal, aku kesini mau jemput kamu kerja kembali," ucap Amanda santai.


"Menjemput saya?" tanya Iqbal. Wajahnya terlihat sangat bingung.


"Karin kecelakaan, dan dia butuh kamu, Bal."


"Apa!"


...@@@@@@@...