
Petang di tempat yang berbeda, Karin nampak sedang berdendang di kamar mandi sembari mengguyur badannya dengan air melalui shower. Sedangkan Iqbal, sedang menbereskan pakaian Karin yang baru saja dia ambil di jasa laundry yang tempatnya tidak jauh dari tempat kost mereka.
Meskipun hidup bersama, Iqbal selalu memposisikan dirinya kalau dia adalah penjaga Karin, bukan orang yang spesial, yang bisa seenaknya bermalas malasan hanya karena anak majikannya bersikap manis kepadanya.
Meski mereka sering tidur bersama atau pergi berdua, tidak membuat Iqbal lupa akan tugas yang semestinya.
Tak butuh waktu lama, terlihat Karin keluar kamar mandi dengan lilitan handuk di badan dan rambutnya. Sejak sering tidur dengan Iqbal, Karin menjadi sering keramas. Meski hanya tidur saja sekalipun. Begitu juga dengan Iqbal. Tapi kalau Iqbal memang tiap hari keramas meski jarang pakai shampo.
Karin dengan santainya melepas handuk dan mengeringkan badannya di hadapan Iqbal. Kebiasaan ini juga menjadi kegiatan baru Karin sejak berani buka bukaan dengan Iqbal. Mereka sudah tidak ada kecanggungan lagi, berpenampilan tanpa busana di hadapan satu sama lain, jika sedang berduaan di dalam kamar.
Setelah badannya cukup kering, Karin melempar handuk dan menghampiri Iqbal yang sedang menyusun underwear miliknya.
"Pilihin aku segitiga bermuda dan penutup bukit kembar dong, Bal?" pinta Karin sambil melingkarkan tangannya dari belakang ke pinggang Iqbal.
"Nggak usah pakai aja, percuma. Entar malam kalau tidur juga mau dilepas," usul Iqbal sedikit meledek. Karin pun mendengus dan mencengkram gemas isi celana Iqbal dari luar.
"Orang kita mau keluar cari makan, masa nggak pakai itu. Emangnya aku cewek apaan," sungut Karin. Iqbal hanya terkekeh sembari mengambil perabot penting pakaian wanit yang di minta oleh Karin.
Bukannya diterima saat Iqbal menyodorkan apa yang dia minta, tapi Karin malah menyuruh Iqbal memakaikannya juga. Gantian Iqbal yang mendengus, tapi dia tidak sanggup menolak sama sekali.
Yang pertama, Iqbal memakaikan kain penutup bukit kembar. Seperti kebiasaannya juga, Iqbal selalu menyesap terlebih dahulu sebelum bukit kembar milik Karin tertutup. Setelah selesai, Iqbal berjongkok guna memakaikan segitiga bermuda. Lagi lagi sebelum tertutup, Iqbal mencium sejenak lembah nikmat yang lumayan tembem tersebut.
"Mau memakai pakaian yang mana?" tanya Iqbal setelah tugasnya selesai.
"Aku aja deh yang milih, kamu siapin mobil aja," ucap Karin sembari maju menghadap lemari.
Iqbal pun keluar meningggalkan Karin yang sibuk memilih baju yang akan dia kenakan. Padahal mereka sudah sering makan bareng, tapi entah kenapa Karin selalu bingung setiap hendak memilih baju yang akan dia pakai jika mau keluar.
Sementara itu dikediamannya, Amanda sedang duduk bersama suaminya di ruang tengah. Setelah makan malam, kedua anak perempuannya memilih langsung naik dan masuk ke kamarnya masing masing. Entah apa yang mereka berdua lalukan dikamarnya. Yang pasti, mereka bisa saja enggan bercengkrama dengan orang tua mereka sejak dipaksa pulang dan mengekangnya.
"Gimana keadaan Karin, Pi? Apa dia selama ini tidak dalam kesulitan?" tanya Amanda setelah menyesap teh susu dalam cangkir yang dia pegang.
"Yah, sepertinya dia baik baik saja. Mungkin karena ada Iqbal, jadi dia merasa aman," jawab Martin setelah mengecek pekerjaannya lewat ponsel dan menaruh ponsel di atas meja dan meraih kopi putihnya.
Terdengar helaan nafas yang begitu berat dari seorang ibu tiga anak tersebut. Mungkin akhir akhir ini beban hidupnya kian bertambah. ketiga putri yang dulu sangat dekat dengannnya, kini malah menjaga jarak, bahkan ada yang pergi menjauh.
"Apa Papi tidak punya cara untuk membujuknya pulang? Mami nggak tenang kalau dia terus terusan berada diluar sana," ucap Amanda dengan wajah terlihat sangat gusar.
"Tidak perlu mami suruh, papi juga sudah melakukannnya, Mi. Tapi Mami sudah tahu kan jawabannya. Dia tidak ingin menjadi anak durhaka yang selalu berdebat dengan kita dan selalu merasa tak tenang karena di rumah pasti ribut terus," balas Martin dengan wajah yang terlihat sangat frustasi. "Tadi aja Papi nawarin dia apartemen, ditolaknya mentah mentah karena nggak mau nanti kita ribut dengan Aleta dan Belinda. Papi tuh sampe bingung mau membujuk dengan cara apa lagi."
"Apa Iqbal juga tidak membujuknya, Pih? Harusnya Iqbal juga membujuknya, kan?"
"Iqbal ya sudah pasti sering membujuknya, Mih. Tapi Karinnya yang ngotot tidak mau pulang. Bukankah Iqbal pernah cerita kalau dia diancam Karin kalau Iqbal masih membujuknya."
Amanda ikutan frustasi mendengar jawaban suaminya. Dia pun terdiam semberi berpikir.
"Apa Iqbal, kita pecat saja, Pi?"
...@@@@@@...