
"Non Karin tenang saja, aku akan selalu percaya sama Non Karin kok."
Seketika Karin menoleh dan menatap lekat wajah supirnya kemudian senyumnya mengembang.
Tentu saja Karin merasa senang. Di saat semua orang rumah yang seharusnya mendukung dan mempercayainya tapi menaruh curiga padanya dan tidak mempercayainya, justru ada orang lain yang baru dia kenal beberapa hari dan menaruh kepercayaan pada Karin. Meski dia hanya seorang supir, tidak masalah bagi Karin. Selama di rumah masih ada yang percaya, Karin bisa melewati kehidupan yang menjenuhkan di kediamannya.
Iqbal pun merasa senang saat melihat Karin kembali tersenyum. Entah tindakannya benar atau salah, yang pasti dia hanya ingin membuat wanita yang sedang menyeruput cup es jeruk di sebelanya itu merasa tenang. Dan Iqbal yakin kalau anak majikannya ini mempercayai dirinya.
Bukan hanya batagor yang dinikmati sepiring berdua, bahkan es jeruk juga mereka nikmati bersama. Jika ada yang melihatnya, pasti semua mata menyangka kalau mereka itu sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Wajar jika Iqbal dan Karin dianggap sepasang kekasih. Iqbal penampilannya sekarang lebih modis dan rapi. Tidak ada yang akan menyangka, di balik wajah tampannya kalau dia adalah seorang supir pribadi.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersama, akhirnya mereka memutuskan beranjak pulang. Tentu saja mereka terpaksa pulang karena mereka tidak mau orang tuanya Karin berpikir macam macam.
"Bal," panggil Karin saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Iya, Non." balas Iqbal sambil menyalakan mesin mobil.
Karin tidak menjawab, namun dia menggunakan telunjuknya dan mengetuk ngetukan telunjuk itu ke bibirnya. Iqbal sejenak terkejut, tapi tak lama kemudian senyumnya merekah saat mengerti kode yang Karin tunjukkan. Iqbal mematikan mesin mobilnya kembali dan mencondongkan kepalanya ke arah karin. Seketika Karin tersenyum dan ikut memajukan kepalanya hingga bibir mereka bersatu dalam waktu yang lumayan lama.
Mereka tidak khawatir ada orang yang melihatnya karena kalau dari luar mobil, tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sana.
Setelah perang bibir selesai, mereka saling melempar senyum dan tak lama kemudian mobil pun melaju menembus jalan raya menuju arah pulang.
Tak butuh waktu lama, mobil yang dikemudikan Iqbal pun sampai di tempat tujuan. Sebelum turun, Karin melayangkan bibirnya ke pipi Iqbal. Sungguh Iqbal tak pernah menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu. Namun Iqbal menikmatinya.
Karin bergegas masuk duluan lewat pintu utama sedangkan Iqbal seperti biasa, memilih lewat samping rumah.
"Sudah, Mih." balas Karin sedikit malas. Apalagi wajah sang Mamih terlihat tak bersahabat.
"Tadi Mamih mampir ke kampus dan katanya kamu pulang lebih awal, pergi kemana kamu? nggak langsung pulang?" tanya Amanda tajam.
Karin menghela nafasnya berat, dadanya seketika bergemuruh. Dia pun membalas tatapan tajam mamihnya.
"Apakah kalau aku menjawab pertanyaan, Mamih akan percaya? Apakah kalau aku ngomong kemana, mamih percaya? Bukankah Mamih sudah tidak percaya sama aku? Terus kenapa mamih selalu menyerangku dengan pertanyaan pertanyaan yang Mamih tidak akan pernah percaya dengan jawabannya." ucap Karin lantang.
Amanda sangat terkejut mendengarnya. Memang benar adanya apa yang Karin katakan. Amanda ujung ujungnya selalu tak percaya dengan jawaban Karin. Yang ada Amanda akan melarang dengan petuah petuah yang membuat Karin sesak.
"Mamih tanya baik baik loh, Rin?" hardik Amanda.
"Karin ngerti Mih, Karin ngerti Mamih tanya baik baik. Tapi ujung-ujungnya, Mamih tetap tidak percaya sama aku kan? Terus apa bedanya?" ucap Karin semakin lantang.
"Kenapa kamu jadi semakin berani sama Mamih? Mamih tanya baik baik ... "
"Mamih memang bertanya baik baik, tapi pernah nggak sih Mamih sadar? Pertanyaan Mamih yang ujung ujungnya tidak percaya selalu nyakitin Karin? Pernah nggak? Bukankah dimata Mamih, Karin selalu salah? Terus Karin harus bagaimana, Mih?"
Amanda terbungkam. Dia tidak menyangka Karin merasa tersikiti karena sikapnya selama ini. Dia kehilangan anak yang dulu penurut. Amanda baru menyadari, sikap Karin berubah. Bukan anak penurut seperti dulu. Karin lebih dingin dan sapaan hangat Karin pun menghilang. Sungguh Amanda tak menyangka sikapnya membuat anaknya berubah.
"Mamih tanya supir aja deh, kalau pun mamih masih tidak percaya dengan jawaban supir, Mamih bisa buang aku sesuka mamih, biar aku nggak jadi beban buat mamih dan papih." ucap Karin dan dia segera melangkah menuju kamar dengan perasaan sakit luar biasa dan mata yang mulai basah.
...@@@@@...