TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 56 (Rizal)


Hari kini berganti dan pagi kini menjelang kembali. Rizal memulai harinya dengan penuh semangat. Seperti biasa, Rizal selalu membantu meringankan pekerjaan Mbak Sari. Setelah selesai dia biasanya berbaring di kamarnya jika tidak ada tugas sambil menunggu majikannya berangkat. Rizal bersyukur mendapat pekerjaan di rumah ini. selain kerjanya ringan, Gaji yang dia dapat juga lumayan gede. Bagi Rizal, gaji dua juta lima ratus yang akan dia terima tiap bulan termasuk lumayan besar. Apa lagi Rizal tidak memikirkan kontrakan dan makan tiap hari. Rizal jadi lebih bersemangat menabung dan juga membantu ekonomi keluarganya.


Setelah tugas membantu pekerjaan Mbak Sari selesai, Rizal memilih rebahan di kamarnya. Lagi lagi pikirannya teringat dengan apa yang dilihat semalam. Keindahan tubuh Miranda benar benar sangat mengganggu pikirannya. Namun meski begitu, Rizal tetap senang membayangkannya.


"Ah! tegang lagi! Masa ngeluarin pake tangan mulu," gerutunya pada diri sendiri. Rizal pun mencoba mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikirkannya selain tubuh Miranda. Tapi sayang, semakin Rizal mencoba, semakin dia terus mengingatnya.


"Daripada main di wc, mending aku berlatih bela diri," lagi lagi Rizal berbicara sendiri. Rizal langsung bangkit dan keluar kamar menuju halaman belakang. Rizal tidak perlu ganti pakaian. Karena saat ini Rizal hanya memakai kaos dan celana selutut. Sudah cukup aman.


Sesampainya di halaman belakang, Rizal pun mulai melakukan pemanasan. Badan Rizal meliuk liuk untuk meregangkan otot di tubuhnya yang terasa kaku. Setelah merasa cukup pemanasannya, Rizal mulai ancang ancang latian bela diri. Dengan sangat semangat, Rizal mulai mengingat gerakan gerakan silat yang dia pelajari dan mempraktekannya.


Baru beberapa menit Rizal berlatih, keringatnya sudah membanjiri tubuh Rizal. Bahkan kaos yang Rizal pakai basah karena keringat. Rizal pun melepas kaosnya karena merasa tak nyaman dan menaruh kaos itu di bangku panjang yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada.


Rizal tak menyadari ada mata yang diam diam memandang ke arah Rizal dengan tatapan penuh gejolak. Berkali kali pemilik mata itu menelan salivanya menyaksiakan pria tampan yang sedang berlatih bela diri. Pikirannya semakin kacau dan resah saat Rizal membuka kaosnya. Tubuh Rizal yang atletis seakan akan mempertegas ketampanan Rizal. Belum keringat yang bercucuran, semakin membuat Rizal terlihat mempesona.


Karena pikirannya terlalu liar kemana mana, orang yang diam diam memperhatikan Rizal sedari tadi memilih melangkah mendekati Rizal.


"Kamu bisa bela diri?" tanya seseorang yang membuat Rizal berhenti seketika dan menoleh ke arah suara yang bertanya kepadanya.


Risal terperangah. Tiba tiba firasatnya merasa tak enak saat matanya melhat siapa yang bertanya padanya.


"Tuan Tomi?" ucap Rizal gugup.


"Kenapa? Kok gugup gitu?" tanya Tomi, namun matanya tak lepas dari tubuh Rizal yang bercucuran keringat. Sungguh membuat Tomi resah bukan main.


"Kamu bisa bela diri?" tanya Tomi sembari duduk dibangku dimana ada kaos Rizal disana.


"Iya, Tuan," balas Rizal berusaha tenang agar Tomi tidak curiga kalau supirnya itu tahu kekurangan Tomi.


"Wah! Sayang sekali, kamu punya bakat tapi malah kamu sia siakan, Zal? Coba kamu mau kerja di kantor, pasti bakat kamu masih bisa dilanjutkan?" ucap Tomi masih berusaha mempengaruhi pikiran Rizal.


Rizal hanya menyunggingkan senyum, bingung mau membalas ucapan Tuan Tomi dengan perkataan seperti apa. Dan yang pasti Rizal sangat tidak nyaman. Mata Tomi benar benar fokus memandang tubuh Rizal.


"Gaji kerja di kantor gede loh, Zal. sampai dua puluh juta tiap bulan. Sabtu minggu kamu bisa libur. Kamu juga bisa tetap tinggal disini. Makan tidur. Enak bukan?" ucap Tomi. Dia benar benar berusaha dengan gigih demi bisa menaklukan supir barunya.


"Jangan ragu untuk menerima tawaranku, Zal. Bukankah kamu ke kota untuk merubah nasib kamu agar lebih baik? Terus ada penawaran bagus, masa kamu tolak? Aku sih yakin, orang tua kamu juga pasti menyayangkan jika kamu membiarkan kesempatan ini pergi." Rayu Tomi terus menerus.


Apa yang dikatakan Tomi memang benar, ini kesempatan Rizal buat merubah masa depan. Tapi yang membuat Rizal ragu, Tomi serius mau memberi dia pekerjaan di kantor apa ada maksud lain yang Rizal takutkan? Sungguh ucapan Tomi membuat Rizal dilema.


Tomi beranjak melangkah mendekati Rizal. Di taruhnya tangan Tomi di pundak Rizal dan Tomi berkata, "Pikirkan baik baik tawaran saya, kesempatan tidak datang dua kali. Setidaknya buatlah orang tuamu bangga meski kamu bukan lulusan sekolah yang tinggi."


Setelah itu Tomi langsung pergi sembari menyeringai, meninggalkan Rizal yang mematung dengan perasaan dilema.


...@@@@@...