TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 227


"Mami masih mau disini apa mau ikut pulang?" suara sang suami menyadarkan sang istri yang masih melamun di salah satu kursi yang mengitari meja makan. Tanpa menjawab, wanita itu segera bangkit dan masuk menuju kamar lalu tak lama dia pun keluar dan mengikuti langkah sang suami.


"Kalian jangan berbuat jahat lagi sama siapapun. Jika saya tahu kalian menggangu anak saya maupun orang lain, saya tidak akan segan segan menjebloskan kalian ke penjara, camkan itu!" ancam Martin pada dua pemuda yang sedang duduk di kursi yang ada di teras bersama dua putri.


"Iya, Om. Maaf, kami janji nggak akan mengulangi perbuatan kami lagi," balas Rio.


"Iya, Om.Makasih mau memberi kami kesempatan," sambung Candra.


"Kalian juga cepat pulang," hardik Martin pada dua putrinya.


"Iya, Pi. Habis ini juga aku mau mandi terus pulang."


"Ho,oh."


"Ya udah, Papi sama Mami pulang dulu. Ingat! Cepat pulang."


"Siap! Hati hati Pi, dah Mami, dah Papi."


Mobil yang membawa Amanda dan Martin pun bergerak meninggalkan Villa kembali menuju kota. Sedangkan Belinda dan Aleta, kembali duduk bersama Rio dan Candra.


"Untung Papi kamu nggak memperpanjang masalah, bisa bisa makin runyam hidup aku, Huft," ungkap Rio merasa lega.


"Iya, bisa gila aku kalau sampai di penjara. Apa jadinya masa depanku?" sambung Candra.


"Hahaha ... untung ya? Ya begitulah Papi. Sebenarnya dia orangny baik dan nggak tegaan. Makanya dia selalu nurut apa kata Mami. Tapi kali ini, tumben sih Papi tegas sama Mami," ungkap Belinda.


"Namanya juga laki laki, Bel. Nggak mungkinlah mau selamanya disetir cewek. Kayak nggak ada pendirian aja. Ada saatnya, kita harus tegas juga," jawab Candra yang semakin membuat kagum dua wanita yang ada disana.


"Ya bener juga sih, tapi aku seneng melihat Papi tegas sama Mami. Wibawanya kelihatan gitu," balas Aleta.


"Terus nasib adik kalian bagaimana? Apa mungkin, orang tua kalian merestui?"


"Kalau Papi sih sepertinya merestui, tapi Mami masih galau gitu. Tapi aku nggak nyangka Karin senekat itu. Padahal itu pertama kalinya loh," ujar Belinda.


"Wah! Beruntung banget tuh supir, sebagai pembobol pertama," puji Candra.


"Kalau gitu aku mau mandi dulu lah ya? Gerah," ucap Belinda beralasan.


"Eh aku juga, pinjamin handuk, dong, Bel," ucap Rio cepat tanggap.


"Oh, ya udah ayo," ajak Belinda. Dan mereka pun beranjak masuk ke dalam untuk mandi di kamar mandi yang sama tentunya.


Tinggalah Candra dan Aleta yang ada di teras. Awalnya mereka saling diam. Entah karena canggung apa malu malu kucing. Tapi seperti biasa, dalam hal seperti ini, pria memang harus lebih agresif jika mendekati wanita. Begitu juga dengan Candra. Dia pun berpindah tempat duduk di sebelah Aleta.


"Candra! Kamu ngapain duduk di sini?" tanya Aleta pura pura terkejut. Padahal hatinya girang bukan main.


"Kenapa? Nggak suka aku duduk disini?" tanya Candra sambil mengulum senyum.


"Bukan begitu," jawab Aleta semakin menuduk.


"Terus kenapa kamu curi curi pandang dari tadi? Kamu suka yah sama aku?" ledek Candra.


"Siapa yang curi curi pandang? Ih pede," ucap Aleta dusta.


"Hahaha ... Pake nggak ngaku. Dikiranya aku nggak merhatiin apa?" Wajah Aleta pun semakin merona merah menahan malu mendengar ucapan Candra yang menangkap basah dirinya.


"Siapa juga yang lihatin kamu? Aku tuh cuma lihatin tato kamu doang," Candra sontak terbahak mendengar alasan konyol wanita disebelahnya. Dia pun akhirnya memilki ide untuk memamerkan tattonya. Aleta terkesiap saat Candra tiba tiba membuka kaosnya. Dia sempat terpana melihat tubuh atletis Candra. Ditambah tatto yang bertebaran, membuat Candra semakin terlihat seksi.


"Kamu ngapain buka baju!" pekik Aleta. Sontak wanita itu langsung berpaling.


"Kalau mau lihat ya lihat aja. Kalau ingin pegang dan meraba juga boleh, goda Candra, tapi Aleta hanya mendengus. Padahal dalam hati ingin sekali memandang dan meraba tubuh pria itu. Beberapa saat kemudian Aleta tersentak saat tangannya di raih Candra dan diarahkan meraba tubuhnya.


"Candra!" pekiknnya.


"Nikmati saja. Nggak usah dipendam. Kapan lagi ada momen seperti ini," ucap Candra lembut dan hal itu sukses membuat Aleta luluh. Awalnya memang Candra yang mengarahkan. Namun tak lama kemudian, tangan Aleta mulai berani meraba dada dan perut Candra. Pria itu tahu, wanita disebelahnya lagi pengin.


"Biar kamu puas merabanya, mending kita ke kamar yuk," ajak Candra lembut. Mata mereka saling beradu dan Aleta mengangguk pelan. Candra pun tersenyum dan dia bangkit sembari menggandeng Aleta yang diam diam tersenyum juga.


...@@@@@@...