TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 199


"Eughh."


Suara lenguhan terdengar dari mulut seorang wanita yang terbaring di atas brangkar. Suara itu sontak mengejutkan seorang pemuda yang sedari termenung dengan perasaan gelisah karena wanita di hadapannya cukup lama tidak sadarkan diri.


"Non Miran," panggil pemuda bernama Rizal dengan suara pelan. Wajahnya paniknya berangsur menghilang menjadi raut wajah penuh kelegaan.


"Rizal," panggil Miranda pelan. "Aku dimana?"


"Non Miran berada di klinik. Syukurlah, akhirnya Non Miran sadar," ucap Rizal sambil menggenggam tangan Miranda. Beruntung, tak jauh dari lokasi kejadian, ada klinik pribadi dari seoang dokter umum.


"Aku takut, Zal," rintih Miranda. Jelas saja dia masih merasa takut saat dia teringat kejadian sebelum Miranda tidak sadarkan diri. Masih jelas sekali dalam bayangan saat dia tiba tiba di bekap dan tidak lama setelahnya, Miranda tidak sadarkan diri.


"Jangan takut, ada saya. Saya akan selalu melindungi Non Miran," ucap Rizal lembut. Miranda memilih bangkit dan duduk bersandar. Tangannya menggenggam erat tangan Rizal, seakan akan dia enggan ditinggal sendirian.


"bagaimana aku bisa selamat, Zal? Bukankah saat itu kamu ada di mobil?" tanya Miranda penuh tanda tanya. Rizal pun menceritakan semua kejadian selama Miranda pingsan. Dia juga bercerita kalau para penjahat sudah mengikuti mereka sejak keluar dari rumah sewa.


"Dua orang sedang dimintai keterangan di kantor polisi, sedangkan satu orang lagi kabur," terang Rizal mengakhiri ceritanya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Tomi, Zal? Kalau iya, kenapa aku yang diserang?" tanya Miranda. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang luar biasa.


"Aku sendiri kurang tahu, Non. Nanti kita sama sama ke kantor polisi. Tadi ada salah satu polisi yang ikut sama kita, Non Miran juga harus memberi keterangan untuk penyelidikan," terang Rizal masih dengan sikap lemburnya. Dia tahu, majikan kesayangnya pasti masih syok hingga saat ini.


Miranda pun bertekad dalam hati. Kalau kejadian ini ada sangkut pautnya dengan Tomi, Miranda tidak akan tinggal diam lagi. Cukup sudah selama ini dia mengalah menutupi aib Tomi. Bagi Miranda, tindakan Tomi saat ini sudah sangat keterlaluan jika dia benar benar terlibat.


"Kita ke kantor polisi sekarang aja, Zal. Aku sangat penasaran, siapa mereka? Kenapa berbuat itu sama aku?" ucap Miranda.


"Nanti saja, Non Miran baru sadar," tolak Rizal.


"Udah baikan kok, yuk. Biar masalahnya cepat selesai," paksa Miranda.


"Ya udah aku panggil perawat dulu."


Rizal bangkit memanggil perawat yang ada di depan. Tak lama kemudian, perawat dan seorang dokter pemilik klinik pun datang. Setelah mengecek keadaan, Miranda dinyatakan baik baik saja dan sudah boleh pulang.


Tidak sampai sepuluh menit, Rizal dan Miranda telah sampai di tempat tujuan. Begitu turun dari mobil, mereka bergegas masuk menemui polisi yang menangani kasus Miranda.


"Silakan duduk dulu, Bu Miranda, nanti pelaku akan kami bawa kehadapan anda," ucap Pak polisiz begitu Miranda menceritakan kedatangannnya ke kantor polisi.


Tak lama setelah itu, satu orang polisi datang sembari menggiring dua orang pelaku yang hendak menculik Miranda. Dua orang itu hanya bisa menunduk. Mungkin malu dan menyesali perbuatannya.


"Sekarang korban ada di depan kalian. Katakan sejujurnya apa motif kalian bertindak kejahatan seperti itu kepada Ibu Miranda," tanya polisi lantang.


"tunggu, Pak. Saya ingin merekam pengakuan mereka," ucap Miranda tiba-tiba. Dia mengambil ponsel dan meminta Rizal merekamnya dalam bentuk Video.


"Sudah, Pak? Silakan, lanjut interogasinya," ucap Rizal. Polisi pun mengiyakan dan dia kembali mengulang pertanyaan yang sama.


"Ampuni kami, Bu, kami hanya disuruh," ucap salah satu mereka dengan perasaan yang sangat takut.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Rizal yang bertanya.


"Suami Ibu yang membayar kami, Bapak Tomi."


Deg!


Dugaan Miranda benar, Tomi dalangnya. Dada Miranda bergemuruh. salah satu tangan Rizal menggenggam tangan Miranda agar wanita itu kuat, dan ternyata cara itu lumayan ampuh. Miranda menggenggam tangan Rizal dengan erat.


"Apa alasan lelaki itu menyuruh mencelakai isrtrinya? Apa dia suaminya punya selingkuhan?" cerca pak polisi.


"Saya kurang tahu, Pak. Dari yang saya dengar, kemungkinan istri pak Tomi selingkuh degan supirnya, dan Pak tomi ingin supirnya bertekuk lutut di hadapan Bapak Tomi. Itu yang saya tahu, Pak."


Miranda sudah menduga, kalau Tomi melakukan ini semua, demi mendapatkan Rizal. Miranda tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Kali ini, dia akan bertindak tegas pada suaminya.


"Awas kau, Tomi! Kamu sudah sangat keterlaluan!"


...@@@@@...