
"Papih cuma mau bilang mulai besok kamu tukeran supir sama kakak kakak kamu," ucap Martin hati-hati. Karin yang belum sepenuhnya menegakkan badan seketika gerak badannya terhenti. Tatap matanya tajam dengan dahi yang berkerut menatap sang papih.
"Papih nungguin aku cuma mau nyampein hal kayak gitu?" Martin mengangguk, "Apa pendapatku penting sampai Papih mau susah-susah begitu nungguin Karin pulang?"
Martin terkesiap mendengar jawaban anaknya. Jawaban Karin cukup menampar hati kecilnya. Sejak ketidak percayaannya hilang terhadap sang anak, Martin memang selalu mengambil keputusan tanpa memikirkan perasaan anaknya yang satu ini.
"Meskipun aku bilang tidak setuju? Apakah Papih akan menurutinya? Tidak bukan? Aku nggak tahu, tujuan Mamih sama Papih tuh apa, membatasi kegiatanku, melarang aku bergaul dengan teman teman kampus, menyuruh Iqbal mengawasi kegiatanku, dan kini apa yang Papih rencanakan lagi agar aku tertekan? Lakukan, Pih? Lakukan sesuka hati Papih. Biar aku benar benar hidup sendirian gitu," ungkap Karin getir. Dadanya sesak hingga ingin rasanya dia menangis saat itu juga.
"Kok kamu malah ngomong gitu? Papih cuma mau bilang besok kamu tukeran supir,"
"Ya terus aku harus gimana, Pih?" balas Karin sedikit keras, "Kalaupun aku tidak setuju, apa Papih akan menurutinya? Enggak kan?"
"Rin ... "
"Sudahlah, Pih. Terserah Papih mau gimana? Silakan, Karin udah nyerah untuk melawan, Karin lelah, Pih," ucap Karin dan dia segera pergi menuju kamarnya ingin segera menumpahkan sesak yang saat ini bergemuruh di dadanya. Sedangkan Martin menatap nanar kepergian sang anak dengan perasaan yang campur aduk.
Martin sebenarnya melakukan hal itu karena rengekan Belinda dan Aleta. Entah bujuk rayu apa yang mereka gunakan, tapi mereka berhasil mempengaruhi Papihnya.
Tentu saja Aleta dan Belinda punya tujuan sendiri. Mungkin ini gila, tapi apa yang mereka lakukan hanya demi mewujudkan obsesi mereka yang ingin dicelup oleh senjatanya Iqbal.
Haus sentuhan lelaki dan penampilan Iqbal yang sangat menggoda dan selalu sukses membuat milik mereka berdenyut gatal, mereka benar-benar melakukan segala cara agar bisa memikat Iqbal.
Aleta dan Belinda sadar, di rumah dia tidak akan bisa mewujudkan keinginanya. Seperti malam kemarin, rencana mereka gagal total. Maka itu mereka berencana menjerat Iqbal di luar rumah. Karena mereka tahu, orang tua mereka percaya pada Iqbal jadi mereka ingin memanfaatkan keadaan itu agar bisa mengajak Iqbal keluar terus menjeratnya. Dan jalan satu satunya adalah menukar supir.
Bukannya Iqbal tidak tertarik dengan kedua kakak Karin yang memang cantik semua, dia hanya ingin menjaga Karin. Saat ini di rumah itu, Karin merasa sendirian. Tak ada satupun keluarga yang memihak dirinya. Tapi Iqbal juga bukan pria munafik, jika terus digoda oleh Aleta dan Belinda, sudah pasti dia akan luluh karena biar bagaimana pun, dia laki-laki, disodorin makanan enak, masa tidak tergoda.
Dengan malas Iqbal beranjak dan membuka pintu. Iqbal tersenyum saat tahu siapa yang mengetuk pintu, tapi senyumnya memudar karena si pengetuk langsung memeluknya erat dan membenamkan kepalanya di dada bidangnya. Iqbal langsung menutup pintu kemudian membelai lembut wanita itu.
"Non Karin kenapa lagi? Perasaan tiap kesini wajahnya sedang sedih terus?" tanya Iqbal lembut, tapi Karin tidak menjawabnya. Untuk saat ini dia hanya ingin memeluk Iqbal tanpa berniat melepasnya. Karena sejak bicara dengan Papih, Karin menantikan saat seperti ini untuk menumpahkan sesak yang dia rasakan.
"Kita duduk ya? Aku mau melanjutkan itu?" ajak Iqbal sambil menunjuk ke arah ponselnya.
"Emang ponselnya kenapa?" tanya Karin setelah menoleh ke arah yang Iqbal tunjuk.
"Nggak kenapa kenapa? Aku cuma lagi mindahin nomer kontak," balas Iqbal dan mereka beranjak menuju kasur.
Iqbal duduk meraih ponselnya sedangkan Kari duduk di sebelahnya. Mata Karin melihat ada nomer yang menempel di belakang hp lama Iqbal, Karin berpikir itu nomer Iqbal dan dia memintanya. Di cabutnya kertas yang dan Karin masukkan ke saku baju tidurnya.
Karin sedikit merasa bosan karena Iqbal sangat serius mengutak atik ponsel barunya. Karin melihat Iqbal hanya memakai kolor, senyumnya pun tiba tiba terkembang. Dia geser dan memilih duduk di belakang Iqbal. Tangan Karin bergerak melingkar memeluk pinggang Iqbal. Sejenak dia terdiam dan tak lama kemudian, tangan Karin masuk ke dalam kolor Iqbal dan langsung memijit mijit pelan senjata Iqbal yang tidak terbungkus boxer.
Iqbal hanya tersenyum melihat kelakuan anak majikannya dan dia melanjutkan kegiataannya dengan ponsel baru.
...@@@@@...