
Semakin siang, udara terasa semakin panas. Iqbal yang sedang menunggu anak majikannya, memilih berteduh di dalam mobil dan bisa menyalakan pendingin di sana. Matanya memandang ke segala arah, namun salah satu tangannya sedang memainkan benda miliknya yang sengaja dia keluarkan dari dalam celananya. Iqbal memainkan rudalnya yang terkulai lemas sembari mengenang kejadian semalam. Sungguh sentuhan mulut dan tangan Karin masih terasa membekas di rudal miliknya.
Iqbal masih tak menyangka kalau cewek secantik Karin suka dengan senjatanya. Bukan hanya Karin, kedua kakak Karin juga penasaran dengan rudal milik Iqbal. Pemuda itu sungguh tidak menyangka, belum genap satu bulan dia bekerja, ada tiga wanita sekaligus yang seakan memperebutkan dirinya. Padahal di kampung, Iqbal seperti pemuda yang tak laku meski dia memiliki ketampanan.
Iqbal tidak menyangka, keputusanya menerima pekerjaan supir, membawa dia kepada wanita cantik yang tak pernah memandang status sosialnya.
"Gimana ya, rasanya permainan Aleta dan belinda? Apakah seenak permainan mulut Karin?"
Saat pikiran Iqbal sedang melanglang ke berbagai penjuru, dia dikejutkan dengan ketikun kaca pintu mobil. Segera dia menoleh dan setelah tahu siapa yang datang, dia menekan tombol otomatis untuk membuka pintu.
"Loh? Kok dikeluarin?" ucap Karin saat kepalanya masuk ke dalam mobil dan melihat isi celana Iqbal berada di luar. Setelah kejadian semalam, mereka tak cannggung lagi dihadapkan pada situasi seperti itu.
"Habis dari tadi bingung mau ngapain? Ya udah mainin ini aja," balas Iqbal.
"Habis dikeluarin apa?" tanya Karin yang kini mengambil alih memegang rudah Iqbal.
"Nggak lah, sekarang sudah ada kamu. Kalau pengin keluar, minta tolong mulut Non Karin saja," balas Iqbal enteng sembari menyalakan mesin mobil.
"Dih, enak aja," ujar Karin.
"Tapi Non Karin mau kan?"
"Apaan sih, Bal! Udah, ah, ayo jalan."
"Oke, cantik."
Dan mobil pun segera melaju meninggalkan area kampus. Di tengah perjalanan, Karin minta mampir ke Mall sebentar karena ada barang yang ingin beli. Iqbal pun menurutinya dan langsung mengarahkan mobilnya ke Mall terdekat.
"Kamu pilih aja yang mana," titah Karin saat mereka sampai di tempat tujuan.
"Aduh, enggak deh, Non. harganya mahal banget," tolak Iqbal.
"Orang tinggal pilih, aku ini yang bayar," paksa Karin.
"Ya kamu pilih yang paling murah aja," saran Karin masih memaksa. Iqbal pun akhirnya mengalah. Dia melihat koleksi ponsel yang ada dihadapannya. Karin ingin membelikan Iqbal ponsel karena dia melihat Iqbal jarang pegang hp ternyata pas berada dikamarnya hp Iqbal sepertinya rusak.
Iqbal yang awalnya kaget dan menolak niat Karin, namun akhirnya dia pun memilih juga setelah melalui drama sedikit tadi.
Iqbal memutuskan memilih ponsel dengan harga dua jutaan dan itu yang paling murah. Jujur, Iqbal sebenarnya merasa tak enak hati karena Karin terlalu baik padanya. Belum genap sebulan kerja, dia sudah mendapat banyak barang dari Karin dan kalau di total, nilainya lebih besar daripada gaji yang dia akan terima dari orang tua Karin.
Setelah urusan ponsel selesai, Karin mengajak Iqbal makan sekalian mumpung lagi di Mall. Iqbal pun nurut saja. Mereka makan dipusat kuliner yang ada disana.
Setelah makan, bukannya langsung pulang, Karin mengajak Iqbal nonton bioskop dulu. Karin memang malas pulang lebih awal ke rumahnya. Malas ketemu sama kedua kakaknya.
Karin pikir dia memilih film yang biasa saja. Ternyata film yang saat ini mereka tonton, penuh dengan adegan pembangkit gejolak yang membuat para penontonnya menjadi resah. Begitu juga Iqbal dan Karin. Dan untuk mengurangi rasa resah, Karin dan Iqbal memilih melakukan perang bibir sambil tangan Karin memainkan rudal Iqbal yang sengaja dikeluarkan. Karena gelap dan mereka duduk di pojokan, jadi aman mereka melakukan hal itu. Mereka berhenti saat film menjelang usai dan mereka merapikan pakaianya sebelum keluar karena perang bibir yang mereka lakukan lumayan panas.
Seperti biasa begitu sampai rumah, Karin lewat pintu tengah dan Iqbal lewat samping rumah menuju kamarnya masing masing.
"Karin," langkah Karin langsung terhenti saat hendak menapaki anak tangga. Dia menoleh ke sumber suara.
"Ada apa, Pih?" balas Karin malas menatap orang yang memanggilnya.
"Bisa duduk sebentar? Papih ingin ngomong?" tanya Martin pelan. Karin pun menurutinya.
"Ada apa?" tanya Karin dingin begitu dia duduk di sofa seberang yang ada di ruang tengah.
Martin terdiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu agar bisa di ungkapkan kepada anak gadisnya yang satu ini. Melihat Papihnya tak kunjung menjawab, Karin pun merasa jengah. Dia juga punya firasat tak baik melihat sikap Papihnya.
"Kalau nggak jadi ngomong, mending Karin ke kamar dulu, Pih," ucap Karin sambil hendak beranjak.
"Tunggu!" cegah Martin, "Papih cuma mau bilang mulai besok kamu tukeran supir sama kakak-kakak kamu."
Deg!
...@@@@@...