
Pergi berdua dengan orang yang spesial adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Kemanapun perginya, dimanapun tempatnya, jauh dekat, tetap terasa indah meski tempat yang dikunjungi bukan tempat yang sangat indah.
Begitu juga yang dirasakan Karin dan Iqbal. Dua anak manusia yang sudah lama tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis. Mereka sangat menikmati pantai yang mereka datangi
Hingga tak terasa sore sudah menjelang, mereka masih enggan beranjak. Sepertinya mereka akan berada di sana hingga senja menjelang.
Hubungan Karin dan Iqbal sudah terlihat kalau hubungan mereka bukan seperti hubungan supir dan majikan. Meski kata cinta belum pernah terucap dari mulut keduanya, tapi sikap dan tingkah mereka sudah selayaknya di anggap sepasang kekasih. Apa lagi jika di lihat dari hubungan ranjang mereka. Harusnya mereka sudah memiliki buku nikah.
"Bal."
"Hum."
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Iqbal melirik sejenak ke arah wanita yang sedang bergelayut di lengannya, kemudian dia kembali memandang ke arah laut.
"Aku memikirkan masa depan," jawab Iqbal.
"Memikirkan masa depan?"
"Iya ... aku harus serius memikirkan masa depan."
Karin menegakan tubuhnya. Dia menoleh sedikit mendongak menatap wajah supir penghangat tidurnya. Iqbal pun membalas tatapan Karin dan tersenyum. Di tahu, wanitanya akan bertanya.
"Aku harus memikirkan masa depan hubungan kita akan kemana, dan aku juga akan memikirkan cara mencari rejeki untuk menghidupi kamu."
"Menghidupi aku?"
"Iya. Bukankah jika kamu menikah, kamu sudah menjadi tanggung jawabku?"
"Oh," ucap Karin menggut manggut. "Lah kamu ingin bekerja atau gimana?"
"Paling ya mecoba buka usaha. Lulusan SMP susah nyari kerja. Jadi ya mending buka usaha."
"Kira kira usaha apa yang ingin kamu lakukan?"
"Penginnya sih, tempat fitnes dan sekolah bela diri di kampung."
"Baguslah, jika kamu sudah berpikir sejauh itu. Aku tinggal dukung calon suamiku," Iqbal sontak nyengir mendengar perkataan wanita yang kembali bergelayut manja dilengannya.
"Eh, Bal. Kamu kapan sih ngenalin aku sama keluarga kamu? Kok kamu nggak ada rencana gitu buat ngajakin aku main ke kampung. Kamu malu?"
"Yaelah, Non. Ngapain malu? Mau ditutupin kayak apa juga, miskin tetap miskin. Nanti kalau Non Karin libur kuliah, rencananya aku akan ajak Non Karin."
"Oh," Karin kembali menggut manggut. "Bal, kita tuh udah rencanain mau nikah, kok kamu mamggil aku, Non Non mulu? Nggak romantis banget."
"Hahaha ... gimana ya? udah kebiasan kali."
"Hahaha ... maap, Entar deh, pelan pelan belajar. Ya udah sekarang kita pulang, udah sore Ini. Nyampe rumah bakalan petang pasti."
"Ya udah ayok."
Mereka lantas meninggalkan pantai dengan perasaan bahagia. Entah kedepannya akan seperti apa, yang pasti mereka bertekad akan menghadapi apapun yang akan terjadi.
Sebelum sampai ke tempat kost, mereka mampir dulu membeli makanan. Meskipun dipantai mereka sudah makan, tapi mereka butuh bekal buat di kost. Karena kalau sudah di kost, akan males keluar buat beli makan. Apa lagi jika tubuh sudah lelah.
Hampir memakan waktu satu jam, akhirnya mereka sampai di kostan. Begitu mereka turun dari mobil, sang pemilik kosan menghampiri mereka.
"Eh Mas Iqbal, Mbak Karin. Ada tamu untuk kalian itu," ucap Pak Amar.
"Tamu? Buat kita?" Pak Amar mengannguk. "Siapa, Pak?"
"Nggak tahu, katanya saudaranya Mbak Karin."
Iqbal dan Karin sontak terkejut dan sejenak saling tatap dengan penuh tanda tanya.
"Ya udah, Pak. Kami akan menemui mereka. Makasih, Pak."
Pak Amar kembali ke dalam. Mau tidak mau Karin dan Iqbal mengkutinya. Rumah pemilik kos memang menyatu dengan tempat kost. Kedua tempat berhadapan dan terpisah oleh halaman buat parkir.
"Belinda! Aleta! Kalian ngapain disini?"
Sementara itu di kediaman Tuan Martin, Amanda sedang duduk melamun di ruang tengah. Satu hari ini wanita itu tidak melakukan kegiatan apapun. Pikirannya masih tertuju pada pemberontakan anak anaknya. Wajahnya sungguh sangat kusut dan kalut.
Yang paling menyita pikiran Amanda adalah sikap anak ketiganya. Dia masih tidak menyangka Karin akan memberontak seperti itu. Karin yang dulu penurut, benar benar hilang dan digantikan Karin yang pembantah dan pemberontak.
Hal lain yang membuat Amanda sangat terkejut adalah saat satu kamar bersama Iqbal. Amanda tidak menyangka Karin akan nekat melakukannya. Amanda sungguh hancur perasaannya. Pemberontakan ketiga anaknya sangat membuat Amanda terpukul.
"Inah!" teriak Amanda. Sang pembantu sontak berjalan cepat ke arah Miranda.
"Iya, Nyah, ada apa?"
"Kamu tahu alamat orang yang dulu menyalurkan Iqbal kerja"
"Tahu, Nyah, kenapa?"
"Sini aku minta."
"Baik Nyah, sebentar aku ambil," Mbak Inah lantas pergi ke kamarnya.
"Orang tua Iqbal harus tahu kelakuan anak mereka selama disini," gumam Amanda.
...@@@@@...