
Senyum bahagia terkembang dari bibir seorang pria yang usianya sekitar empat puluh lima tahun. Betapa dia sangat bahagia, saat dirinya sampai di halaman rumah, matanya melihat mobil yang dia kenal sudah terparkir di halaman rumah yang sama pula. Mobil yang biasa dikendarai putri kesayangannya sudah ada di sana, berarti itu pertanda kalau sang anak yang sangat dia sayangi, sudah kembali ke rumah. Pria itu pun bergegas turun dari mobil dan beranjak masuk ke dalam rumah.
"Sayang!" teriaknya saat memasuki ruang tengah. Dahinya berkerut karena setelah beberapa kali memanggil, tidak ada sahutan dari seorang pun yang ada di rumah ini.
"Pada kemana mereka?" gumam pria bernama Gustavo. Namun saat dia hendak naik ke lantai atas, dia melihat sosok pemuda yang selama ini menjaga anaknya berjalan ke arahnya.
"Tuan mencari Non Selin?" tanya pemuda yang bekerja sebagai supir pribadi tersebut.
"Iya, dimana dia?" jawab Gustavo sambil melempar pertanyaan kembali.
"Non Selin ada di kamar, Tuan. Mungkin sedang istiharat," balas pemuda bernama Jamal.
"Oh ya udah, saya langsung ke kamar saja, makasih, Mal."
"Sama sama, Tuan."
Gustavo pun melanjutkan naik ke lantai atas, sedangkan Jamal kembali menuju arah dapur. Begitu sampai lantai atas, Gustavo segera menuju ke kamar sang anak. Beruntung pintunya tidak terkunci. Perlahan gustavo membuka pintu kamar tersebut. Seketika senyum pra itu terkembang saat matanya menangkap seorang wanita sedang berbaring miring sambil menatap layar ponsel dan telinganya terpasang headphone. Gustavo pun perlahan mendekat dan membelai rambut sang anak.
"Papa!" pekik Selin sedikit terkejut. Dia pun langsung membuka headphonenya.
"Papa ganggu ya?" tanya Gustavo sedikit tak enak karena Selin mendadak mengakhiri keasyikannya.
"Nggak kok, Pa. Papa baru pulang?" tanya Selin.
Gustavo mengangguk dan bibirnya masih mengembangkan senyum. "Makasih ya, sayang. Sudah mau kembali ke rumah."
"Iya, pa. Selin juga minta maaf, karena lama ninggalin papa," ucap Selin terus bergerak memeluk ayahnya.
"Nggak perlu minta maaf, Papa yang salah sama Selin, jadi wajar jika Papa dihukum. Terima kasih sudah mau memaafkan Papa, ya Sayang."
Selin tidak menyahut. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada seorang pria yang telah membuatnya terlahir di dunia ini. Sejenak suasana kamar menjadi hening, karena dua manusia itu sedang saling melepas rindu dan meluapkan kebahagiannya.
"Ajak mereka? Tumben?" tanya Selin merasa heran.
"Ya anggap aja ini syukuran kembalinya kamu ke rumah. Mau ajak keluarga besar kita? Yang ada Papa disindir habis habisan. Lagian kan mereka juga jauh jauh semua," Selin cukup menganggukan kepala mendengar alasan Papanya.
Apa yang dikatakan Gustavo ada benarnya. Kadang ada saudara tapi seperti orang asing, dan juga ada orang asing tapi rasa saudara. Seperti Jamal dan Mbok Sum. Tapi bagi Selin, Jamal bukan seperti saudara, malah udah bisa dikatakan sebagai teman tidur.
Gustavo akhirnya pamit dan beranjak keluar dari kamar anaknya. Sedangkan Selin juga keluar kamar tak lama setelah ayahnnya. Selin segera saja memberi tahu Mbok Sum dan Jamal, pesan dari Gustavo. Jamal juga memberi tahu penjaga rumah dan supir pribadi tuan Gustavo atas perintah Selin.
Hingga beberapa waktu kemudian, di meja makan, semua sudah duduk di kursi yang ada disana. Kehangatan benar benar tercipta meski status mereka asisten rumah tangga dan majikannya.
"Rasa masakan Mbok sum tidak berubah, masih tetap enak," puji Selin ditengah tengah menikmati makanannya.
"Iya lah, biar Non Selin kangen terus sama Mbok, biar kalau pergi dari rumah, nggak bertahan lama," balas Si mbok sedikit menyindir.
"Haahaha ... Si Mbok bisa aja," ucap Selin sambil tergelak. Semuanya yang ada disana pun sontak ikut menyunggingkan senyumnya.
"Jamal, kamu masih suka diganggu Sandra?" Jamal sontak terkejut dengan pertanyaan Gustavo. Sejenak dia terdiam sembari menatap Gustavo dan Selin. "Jawab aja, nggak apa apa. Nggak perlu sungkan."
"Iya, Tuan. Tadi pagi, Nyonya kembali menemui saya," jawab Jamal agak terbata. Seketika semua yang ada di meja makan terkejut mendengar jawaban dari Jamal.
"Dia ngomong apa?" tanya Gustavo lagi.
"Seperti biasa, Tuan. Saya disuruh meninggalkan Nona Selin," lagi lagi jawaban Jamal membuat semuanya terkejut, kecuali Gustavo.
"Apa dia juga mengancam kamu dengan sebuah foto?"
"Foto? foto apa, Pa?" Selin yang bertanya.