TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 252 (Jamal)


Malam hari di sebuah desa. Tepatnya di kota kecamatannya, Jamal terlihat sedang melangkah menuju rumah sakit sambil menenteng kantung plastik berisi dua bungkus nasi goreng.


Hati Jamal saat ini sedikit lega setelah tadi tidak sengaja bertemu dua sahabatnya dan berbagi cerita. Tanpa mereka sadari, ternyata Jamal dan kedua sahabatanya sedang menghadapi masalah yang sama. Sama sama bermasalah dengan majikan mereka.


Meski jalan ceritanya berbeda, tapi kisah intinya tetap sama. Jamal dan yang lainnya hampir tidak percaya, awal kisah mereka sama sama di mulai sejak mereka memutuskan merantau ke kota.


"Kok lama, Mal?" tanya Bapak begitu melihat anaknya datang ke ruang rawat ibunya.


"Tadi ketemu Iqbal dan Rizal di jalan, Pak, jadi kita ngobriol sebentar," jawab Jamal sambil duduk di brangkar kosong sebelah brangkar ibunya berbaring. Bungkus nasi goreng, dia letakkan di atas meja kecil dekat brangkar.


"Iqbal sama Rizal? Mereka pulang juga?" tanya Bapak dengan kening berkerut. Jamal mengangguk dan Bapak manggut manggut.


"Mas, beli motor dong? Biar kalau ada masalah mendadak nggak bingung kayak gini?" pinta Akmal yang sedari diam karena fokus main game.


"Ya besok nunggu Emak sembuh," jawab Jamal seraya menarik badannya untuk bersandar.


"Emang kamu masih ada duit, Mal?" tanya Bapak dengan tatapan menyelidik.


"Masih, Pak. Buat beli motor bekas, cukup lah," jawab Jamal enteng. Seenggaknya dia kerja ada hasilnya walau hanya dua bulan. Apa lagi dia dapat transferan lumayan gede gara gara menyelamatkan Selin.


"Emang majikan kamu nggak nuntut kamu buat tanggung jawab apa gimana? Nggak ngancam kamu dipenjara kan?"


Jamal terkekeh pelan. Meski Bapak masih merasa kecewa dengan perbuatan anaknya, tapi dia kesampingkan egonya sendiri karena istrinya sakit. Dan juga, Bapak memang kalau marah tidak pernah lama. Asal unek uneknya sudah keluar dan memilih pergi sejenak, nanti kalau kembali marahnya reda.


"Dia sebenarnya nuntutlah, Pak. Nyuruh aku tanggung jawab."


"Loh, loh, loh, tanggung jawab? Apa dia?" tanya Bapak dengan raut wajah nampak akan emosi.


"Belum, Pak, belum sampai. Ini aja aku sama Non Selin udah sepakat untuk ngaku kalau kami sudah bertindak terlalu jauh. Maka itu setelah kami ngaku, aku dipecat dan disuruh ngaku juga sama Bapak dan Emak."


Bapak tertegun mendengar pangakuan anaknya. Meski masih terlihat bingung, Bapak terus mencerna dan mencari maskud dari ucapan anaknya itu.


Sejenak Jamal mengacak sedikit rambutnya dan mencoba mencari kata yang tepat untuk memberi penjelasan pada bapaknya. Ditatapa sekilas mata emak yang masih terpejam dan adiknya yang sekarang lagi fokus makan nasi goreng.


"Sebenarnya Jamal disuruh pulang itu untuk meminta Bapak sama Emak datang menemui majikan Jamal, Pak. Mereka butuh bukti kalau Jamal itu memang serius harus tanggung jawab sama anaknya."


"Astaga! Bagaimana mungkin Bapak sama Emak berani menemui majikan kamu, Mal. membayangkannya saja kita malu."


"Tapi Jamal memang harus tanggung jawab kan, Pak. Walaupun kesalahan awalnya bukan dari Jamal, tapi tetap, Jamal disini harus tanggung jawab."


"Kesalahan awal? Kesalahan awal bagaimana maksud kamu?"


Jamal menghela udara dalam dalam sejenak dan menghembuskannya. Kemudian dia mulai menceritakan awal terjadinya kejadian itu dan apa yang menimpa anak majikannya.


"Astaga! Kok kasian banget anak majikan kamu, Mal?"


"Maka itu, Pak. Dia jadi deket sama aku. Aku juga awalnya takut saat diancam sama Non Selin. Tapi lama kelamaan aku kasian juga sama nasib yang menimpa Non Selin. Maka itu aku berniat melindungi dia. Meski cara awalnya salah, tapi aku nggak salah kan, Pak? jika aku ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku? Lagian tujuan kita jujur sama orang tua kita masing masing, agar kita tidak kebablasan lebih jauh tanpa harus saling meninggalkan."


Bapak Jamal terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Matanya menatap lekat ke arah wanita yang telah menjadi teman hidupnya selama ini.


Sedangkan Jamal perasaannya saat ini merasa lebih tenang. Seenggaknya Bapak mau mendengarkan ceritanya tanpa harus pakai emosi. Untuk urusan Emak, Jamal berharap Bapak bisa membantu menjelaskan apa yang sudah Jamal ceritakan.


"Non Selin itu dari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, Pak. Punya ibu, tapi bukan ibu kandungnya. Entah kenapa Ibunya itu seperti nggak suka Non Selin bahagia. Padahal yang salah bapaknya, tapi yang disakiti malah anaknya."


Bapak kembali tertegun dengan apa yang Jamal ceritakan. "Maksudnya itu gimana, Mal? Dia punya ibu tapi bukan ibu kandungnya? Lah terus dia anaknya siapa?"


"Dia anak selingkuhan dari Tuan Gustavo, Pak. majikan Jamal."


"Hah!"


...@@@@@@...