TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 85 (Iqbal)


"Kalau aku yang pengin, kamu mau nggak main sama aku?" tanya Karin dengan wajah serius. Iqbal tercengang sesaat kemudian dia tertawa lirih.


"Jangan becanda, Nona cantik," ujar Iqbal.


"Aku serius, Bal. Jika aku yang ngajak, apa kamu mau?" tantang Karin lagi sambil terus menempalkan telapak tangannya di pipi Iqbal. Senyum Iqbal pun menghilang berganti tatapan serius menatap Karin.


"Kalau aku menolak ajakan Non Karin, berarti aku laki-laki yang bodoh," balas Iqbal. "Yang jadi masalahnya, emang Non Karin beneran mau main sama supir kayak aku?"


Karin tidak langsung menjawab, dia malah membenamkan kepalanya di dada Iqbal. "Kalau supirnya kayak kamu ya mau lah, Bal. Aleta sama Belinda aja gatal pengin digaruk kamu."


Iqbal tergelak, "Udah ah, jangan bahas gituan. Entar malah pengin gimana? Bahaya."


"Bilang aja kamu memang udah pengin, Bal. Tapi main disini ya kagak aman lah, Bal. Yang ada nanti kamar sebelah curiga."


Karin pun ikut terkekeh, tiba tiba dia punya ide untuk iseng jahilin Iqbal. Tangannya bergerak dan mendarat kemudian mencengkram benda milik Iqbal.


"Non!" pekik Iqbal kaget. pinggangnya bahkan sampai bergerak mundur saking terkejutnya. Karin terkekeh lirih takut kamar sebelah dengar, tapi tangannya tidak mau pindah. Masih mencengkram benda milik Iqbal dari luar kolor.


"Iseng banget sih? Itu nanti kalau bangun bahaya loh, nggak ada sarangnya?" ucap Iqbal.


"Ya pakai aja sarang Belinda atau Aleta. Mereka siap itu," balas Karin. "Bangun nih, Bal. Makin gede punya kamu."


"Astaga! Non Karin, lepas ih. Jangan nyiksa gitu, nggak kasian apa sama aku?" sungut Iqbal. Karin pun mengalah. Dia melepaskan rudal Iqbal yang sudah menegang, kemudian kepalanya bergeser dan terangkat lalu diciumnya pipi Iqbal dengan penuh perasaan.


"Ya udah, aku balik lagi ke kamar ya?" ucap Karin sambil bangkit dan duduk.


"Loh, kok gitu? Nggak tanggung jawab banget, udah bikin tegang malah mau ditinggalin," gerutu Iqbal dengan wajah cemberut.


"lah terus?"


"Ya dimainin sebentar dong, biar lemas lagi."


"Astaga, Iqbal! Mainin gimana? Aku nggak pernah mainin itu loh."


"Ya mainin sebentar aja, pakai tangan apa pakai mulut? Biar lemes, nggak nyiksa gini."


kini giliran Karin yang terkejut mendengar permintaan sang supir. Semua memang salah dia, pakai mancing mancing segala. Tapi karin tidak menyangka, Iqbal akan meminta seperti itu.


"Tapi serius Bal. Aku tuh nggak pernah mainin punya laki laki. Jadi aku nggak tahu," aku Karin jujur.


Karin pun merasa bersalah. Di pandangnya wajah Iqbal yang cemberut tak mau menatapnya. Kemudian dia melirik celana kolor Iqbal. Entah apa yang Karin pikirkan, tiba-tiba tangannya terulur ke arah kolor Iqbal dan menggenggam milik Iqbal yang masih menegang.


"Non," pekik Iqbal kaget. Dia hendak menghindar tapi genggaman Karin lumayan kuat. "Udah, Non. Nggak usah."


"Diam! Orang permintaanya dikabulin malah protes," hardik Karin. Iqbal pun langsung terdiam. Dia hanya mampu menatap tangan Karin yang memijat-mijat isi kolornya.


"Kamu nggak pake boxer?" tanya Karin dan Iqbal menggeleng sambil cengengesan. "Dih!"


Iqbal benar benar menikmati apa yang dilakukan Karin. Dia pun pasrah saat Karin menurunkan kolornya selutut. Dan untuk pertama kalinya senjata Iqbal dapat sentuhan tangan wanita. Iqbal mulai merasakan nikmat tiada tara.


Tangan Karin menggenggam punya Iqbal dan tangannya digerakan naik turun seperti video yang pernah Karin tonton.


Entah dapat keberanian darimana, Karin tiba tiba menurunkan kepalanya dan lidahnya menjilat ujung benda menegang milik Iqbal.


"Non Karin!" pekik Iqbal saat merasakan mulut Karin memakan rudalnya.


Antara kaget dan nikmat bersatu menjadi satu saat ini. Apalagi beberapa saat kemudian Iqbal merasakan mulut Karin bermain disana. Iqbal pun dibuatnya melayang saat itu juga. Tangan Iqbal meraih rambut Karin dan menggenggamnya, matanya memperhatikan kepala Karin yang maju mundur memainkan senjatanya.


Hingga beberapa menit kemudian, Iqbal merasa benda miliknya ingin mengeluarkan sesuatu. Saking nikmatnya permainan mulut Karin, menyemburlah air putih nan kental hingga membuat Karin kaget.


"Kok keluar nggak bilang-bilang sih, Bal?" sungut Karin. Dia meraih kaos yang sedang dipakai Iqbal untuk membersihkan mulutnya.


"Maaf, Non. Habis terlalu enak sih, jadi nggak sempat ngomong," balas Iqbal sambil cengengesan.


"Dih! Udah mau lemes itu, aku kembali ke kamar ya?" pamit Karin.


"Nggak cium dulu?" tanya Iqbal sambil memonyongkan bibirnya.


"Ya sini."


Iqbal pun bangkit dan bibir mereka langsung beradu, setelah itu Karin pamit kembali ke kamarnya. Mereka pun berpisah dengan senyum terkembang di bibir mereka.


"Nggak apa-apa malam ini dapat mulut, tinggal nunggu dapat lubang nikmatnya Non Karin, Ah, senangnya."


...@@@@@...