
Setelah Sandra pergi, Rio segera menghubungi temannya agar datang ke apartemen. Banyak rencana yang sudah dia siapkan dan semua itu menghasilkan uang pastinya. Tentu saja temannya tidak mungkin menolak jika itu menyangkut tentang uang.
Rio yang berasal dari keluarga sederhana, awalnya tidak menyangka akan terjun ke dalam dunia seperti ini. Bergelut dalam dunia kotor yang sering dipandang orang sebagai kehidupan yang hina.
Tidak ada manusia satupun yang bercita cita hidup seperti ini. Begitu juga Rio, dia juga memiliki cita cita layaknya pria sederhana pada umumnya. Memiliki kerjaan yang tetap dan gaji yang cukup, serta memiliki istri dan keluaega kecil yang bahagia.
Tapi sayang, impian tinggal impian. Faktor ekonomi selalu sukses menjadikan seseorang untuk beralih jalan dari yang direncanakan. Biaya kuliah, godaan gaya hidup, membuat Rio akhirnya bertekuk lutut dalam jalan yang salah. Jalan yang jika orang tuanya tahu, mereka akan sangat kecewa. Mungkin saat ini orang tuanya bangga karena Rio mengaku kuliah sambil bekerja di sebuah caffe, hingga dia selalu menolak uang dari orang tuanya.
"Sini, Can, masuk," ucap Rio begitu teman yang ditunggu telah sampai di apartemennya. Namanya Candra. Kerjaannya sama seperti Rio. Menjadi teman kencan tante tante kesepian.
"Ada kerjaan apa nih? Tumben aku diajak gabung?" tanya Candra setelah menaruh pantatnya di atas Sofa yang ada disana.
"Sabar dulu dong, Bro. Aku ambil minum dulu," ucap Rio sambil beranjak menuju letak kulkas berada. Diambilnya dua kaleng kopi kemasan lalau dia kembali ke tempat semula.
Setelah memberi salah satu kaleng minum, Rio duduk dan membuka kelengnya lalu meminum isinya.
"Cuma nyelidikin seseorang sih, biasa lah yang biasa kamu lakukan," ucap Rio setelah menenggak minuman kopinya sejenak.
"Gitu doang? Nggak ada yang menantang apa gimana?" tanya Candra meremehkan.
"Bisa saja ini menantang, karena jika kamu bisa membongkarnya, kamu bisa mendapatkan lebih dari yang kamu mau. Bahkan kamu juga bisa meniduri orangnya," balas Rio santai.
"Beneran?" tanya Candra, antara percaya dan tidak percaya. Rio menyeringai dan mengambil ponselnya dan mencari sesuatu.
"Nih, orang yang mau memakai jasa kamu?" ucap Belinda sembari menyerahkan ponselnya. Mata Candra langsung berbinar saat melihat wanita dalam dalam ponsel Rio.
"Gila! ini sih cantik banget! Beneran ini bisa di pakai?" tanya Candra yang langsung terpana melihat kecantika Belinda.
"Bisa lah, tadi aja aku maen dua ronde sama dia," ucap Rio pamer.
"Ah sial, kenapa kamu nggak ngajakin?" sungut Candra.
"Hahaha ... aku aja baru ketemu tadi siang, Bro, kalau kamu mau terima tawaran dia, nanti aku hubungin dia aja, gimana?" tawar Rio.
"Ya mau lah, tapi ini nggak ada bahayanya, kan? maksudnya sampe berurusan sama polisi?"
"Nggak bakal, aku jamin. Ya udah aku hubungi orangnya dulu," ucap Rio, lalu dia mencari kontak Belinda dan menghubunginya.
Kluntang kluntang kluntang.
Sebuah dering telfon mengagetkan dua gadis kakak beradik bernama Belinda
"Lihat, cowok yang baru kita omongin, telfon nih," ucap Belinda sambil menunjukkan layar ponselnya kepada sang adik. Terpampang nama Rio di layar ponsel yang sedang malukan panggilan.
"Ya udah angkat aja cepat," ucap Aleta dengan raut wajah tak sabar.
"Hallo."
"Iya, Ri, gimana?"
"Beneran?"
"Wah, bagus lah."
"Ketemu?"
"Baiklah. Nanti aku nyari waktu ya?"
"Oke, bye."
Klik.
"Gimana, gimana? Rio ngomong apa?" tanya Aleta. Di terlalu antusias.
"Beres, temannya mau bantu kita, buat jebak si Iqbal," ucap Belinda tak kalah antusiasnya.
"Wah! Akhirnya, ada cara buat naklukin Iqbal. Kenapa nggak kepikiran dari dulu sih?" ucap Aleta. Terlihat jelas sekali kalau dia menantikan saat saat seperti ini.
"Kita kan karena kurang gerak. Dikurung mulu dalam rumah. Untung ketemu Rio. Coba kalau nggak, bisa bisa Karin mulu yang terus terusan bersama Iqbal, dasar adik serakah," umpat Belinda yang selalu kesal jika menyebut nama adiknya.
"Tapi apa mungkin yang dikatakan Rio itu benar, Bel? Kalau Iqbal sama Karin ada hubungan lebih dari seorang supir dan majikannya?" tanya Aleta. Dia sepenuhnya belum percaya dengan apa yang dikatakan Rio melalui Belinda.
"Berharap aja mereka beneran ada hubungan, Let. Kita bisa menggunakan hubungan mereka buat ngancam Iqbal. Pasti Iqbal akan nurut dong buat melindungi Karin."
"Ah iya, kamu benar. Aku setuju kalau gitu."
"Hahaha ..."
...@@@@...