TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 210


Jamal ternganga mendengar kenyataan dari bapak dan anak yang ada dihadapannya. Hingga suara ponsel mengagetkannya. Arah pandang Jamal beralih ke layar ponsel. Nama Akmal terpampang disana. Jamal pun pamit sebentar kepada Gustavo dan Selin untuk mengangkat telfon dari adiknya.


"Pa, kira kira apa yang akan papa lakukan sama Mama Sandra?" tanya Selin begitu Jamal menyingkir sebentar. Sejak Selin mengetahui kalau Sandra bukan ibu yang melahirkannya, panggilan Selin kepada Sandra pun sedikit berubah.


"Sebenarnya Papa nggak mau memperpanjang masalah ini. Biar bagaimana pun Sandra berubah gara gara Papa. Tapi kalau jalur hukum bisa bikin Sandra jera, ya terpaksa Papa ambil jalur hukum agar dia menyadari kesalahannya."


"Tapi apa dia ngggak tahu kalau rencananya gagal? Apa mungkin sekuriti sudah menghubungi Mama Sandra?"


"Papa kurang tahu, Sayang. Bisa jadi saat ini dia sedang menunggu kabar dari orang suruhannya. Kecuali kalau sudah dilimpahkan ke polisi, bisa jadi Sandra akan mendapat panggilan. Apalagi dia dalangnya."


Ucapan Gustavo berakhir bersama dengan kembalinya Jamal ke hadapan mereka. Wajahnya terlihat cerah, tidak seperti tadi sebelum menerima telfon dari sang adik.


"Gimana, Mal? Aman?" tanya Gustavo begitu Jamal kembali duduk dihadapannya.


"Aman, Tuan. Mereka abis takziah, tetangga ada yang meninggal. Makanya tadi telfon nggak diangkat," terang Jamal.


"Ya syukurlah," ucap Gustavo ikutan merasa lega. "Sekarang kalian pesan makanan dulu gih, mumpung lagi disini. Papa telfon Pak Samsul dulu biar naik dan gabung sama kita."


Selin langsung mengiyakan. Dia dan Jamal pesan beberapa makanan dan mereka menyantapnya bersama.


Sementara dari dalam apartemennya, Sandra sedang ketar ketir menunggu kabar. Tentu saja dia sedang menunggu kabar dari orang suruhannya. Berkali kali dia mengecek ponselnya, tapi tetap saja, tidak pemberitahuan yang masuk.


"Apa Selin sudah pulang ke rumahnya?" gumam Sandra. "Harusnya mereka telfon kalau memang hari ini belum berhasil."


Sandra memang belum tahu, apa yang terjadi pada anak buahnya. Makanya dia masih sedikit tenang sampai saat ini.


Sandra sengaja merencanakan drama penculikan Selin. Dia tidak terima dengan sikap Jamal yang menghina dirinya. Dia ingin penculikan Selin jadi ajang unjuk diri kalau dia lebih berkuasa. Dia ingin Jamal mengakui kalau dia hebat.


Meskipun pada kenyataannya, apa yang dikatakan Jamal benar kalau Sandra terobsesi dengan isi celana pemuda itu. Tapi sebagai orang yang merasa benar, Sandra menganggap kalau ucapan Jamal adalah sebuah penghinaan, dan Jamal harus diberi pelajaran.


Setelah makan bersama di sebuah Mall, Jamal, Selin, Gustavo dan supir pribadinya memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, mereka menyempatkan diri, mampir sejenak ke ruang sekutiri untuk menanyakan perkembangan dari dua orang suruhan Sandra.


Ternyata keduanya sudah dilimpahkan ke pihak yang berwajib. Sesuai permintaan Gustavo, kasus yang menimpa anaknya akan diselidiki esok hari. Mereka pun pulang dengan mobil masing masing.


"Ngomong apa?" tanya Selin dengan ekspresi bingung.


"Ngomong tentang kita yang sudah pernah tidur bareng."


"Astaga! Mana aku ingat, Jamal. Orang abis ada kejadian apes. Lagian tadi Papa lagi emosi gara gara Mama Sandra. Kamu mau Papa tambah emosi?"


Jamal hanya manggut manggut beberapa kali. Apa yang Selin katakan ada benarnya. Situasi yang menimpa mereka tadi memang cukup menegangkan dan mencengangkan.


"Non gimana ceritanya sih? Kok Nyonya Sandra bukan ibu kandung No Selin?" tanya Jamal lagi. Sebenarnya dia penasaran dengan rahasia itu sejak tadi. Cuma pas mau tannya, Jamal merasa tidak enak dengan Tuan Gustavo.


"Aku juga baru tahu belum lama, Mal. Kamu inget, kan? Aku kemarin marah sama Papa sampai nggak pulang?"


"Astaga!" mata Jamal membelalak. "Jadi gara gara itu?"


"Iya, aku kecewa karena selama ini aku dibohongi. Semua awalnya aku rasa memang salah Papa. Sehingga Mama Sandra jadi begini, tapi dengar dari cerita kamu, aku rasa, Mama Sandra, beneran suka sama kamu," Jamal bergidik sekaligus tertegun mendengar perkataan Selin. Ucapannya terdengar menyedihkan. Jamal yang ingin bertanya lebih banyak, akhirnya memilih diam. Tangan kirinya meraih tangan kanan Selin, dan mncium punggung tangannya.


"Sabar, Ya non. Aku yakin Non Selin kuat menghadapinya," ucap Jamal pelan tapi menenangkan. Selin hanya tersenyum getir.


"Nggak tahu, Mal, sampai kapan aku bisa bertahan dengan keadaan seperti ini."


"Jangan begitu? Aku akan selelu berusaha ada untuk menjaga Non Selin."


Selin tersenyum kecut. Sejenak dia dan Jamal saling pandang, kemudian mata mereka kembali fokus ke arah jalan.


"Aku yakin, tidak ada satu pun laki laki, yang mau menikah dengan anak haram sepertiku, Mal."


Deg!


"Anak haram?"


...@@@@@@...