TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 84 (Rizal)


Cahaya matahari belum lama menyapa pagi. Sinar hangatnya menyelimuti semua yang ada di muka bumi. Termasuk dua anak manusia di halaman belakang sebuah villa. Mereka lah Rizal dan Miranda.


Rizal sedang membentangkan karpet lembut nan mahal diatas rumput dekat kolam renang. Sedangkan Miranda setia menanti sambil menatap tubuh berkeringat milik pria tampan yang sebentar lagi akan menikmati mahkotanya.


Tak lama kemudian setelah itu, Miranda segera berbaring di atas karpet lembut berwarna biru di belakang villa milik suaminya. Beruntung Villa tersebut sengaja tidak dilengkapi CCTV oleh Tomi karena Tomi juga sering merayakan pesta bersama teman-teman menyimpangnya disana. Jadi Miranda merasa aman melakukan hal gila di dekat kolam renang itu.


Wanita tanpa busana itu membentangkan kedua kakinya memamerkan lembah indah miliknya kepada laki-laki yang saat ini duduk bersimpuh diantara dua kakinya. Laki-laki bernama Rizal itu sedang memainkan jari tangannya dengan lembut di lembah indah nan basah yang beberapa hari ini sering dia bayangkan.


Rizal tidak pernah menyangka, wanita yang selalu menjadi alat menghayalnya saat bersolo di toilet, kini menyerahkan miliknya dengan senang hati agar dinikmati olehnya tanpa nego apapun.


"Enak banget, Zal," gumam Miranda saat jari tangan Rizal mengusap lembut lembah nikmat dan memijatnya perlahan. Bahkan kini lembah nikmat itu sudah kelihatan banjir.


"Masukin sekarang apa, Non?" pamitnya ketika jarinya sudah lumayan lama memainkan lembah indah milik Miranda.


"Iya, Sayang," jawab Miranda pasrah.


Rizal pun dengan senang hati bersiap diri. Insting lelakinya ikut membimbing dirinya melakukan hal ini untuk pertama kali. Sebelum benda menegang miliknya masuk, Rizal mengusap pelan pintu lembah dengan kepala rudal kebanggaannya di bibir lembah dan menggeseknya beberapa kali sebagai tanda perkenalan. Hingga beberapa saat kemudian, pinggul Rizal mulai bergerak maju perlahan setelah dia meyakini kalau titik yang akan dia masuki itu titik yang pas buat rudalnya menghujam lembah nikmat tersebut. Rizal seperti mengalami kesulitan karena lembah itu masih sangat sempit meski sudah sangat basah.


Miranda merintih menahan rasa sakit hingga kedua jarinya mencengkeram bulu karpet di samping kiri dan kanannya.


Meski agak bingung karena merasa susah, Rizal terus menggerakan pinggulnya perlahan karena hingga dia merasa ada sesuatu seperti dinding menghalangi di dalam lembah. Gerakan pinggang yang semula pelan, Rizal hentakan beberapa kali dengan keras hingga tiba-tiba Miranda menjerit kencang. Rizal terperangah dan dia merasa ada sesuatu yang mengalir dibenda miliknya.


Rizal menarik benda menegang miliknya keluar dan betapa kagetnya dia saat matanya melihat ada darah di ujung benda miliknya. Rizal tahu itu darah dan itu adalah darah mahkota wanita


"Non Miranda, ini!" pekik Rizal sambil menatap majikannya. Miranda mengangguk sambil mengulas senyum dengan menahan perih.


"Bagaimana bisa, Non?" tanya Rizal dengan ekspresi tak percaya.


"Ceritanya nanti aja, Zal. Lanjutkan aja dulu."


"Lanjutkan dulu, Sayang!"


"Baiklah."


Antara senang dan tak enak hati, Rizal pun menuruti perintah majikannya. Perlahan dia kembali memasukan benda yang masih menegang dengan sempurna di iringi dengan rintihan Miranda yang menahan rasa sakit.


Setelah semuanya masuk ke dalam, Rizal diam sebentar membiarkan benda miliknya merasakan nyaman di lembah wanita untuk pertama kalinya. Hingga beberapa saat kemudian pinggul Rizal pun mulai digoyangkan.


Pandangan mata Rizal terbagi antara wajah kasian Miranda dan lubang yang sedang dia tusuk pertama kali. Kenikmatan yang sedang dia rasakan ini membuat senyumnya terkembang sempurna. Rintihan kenikmatan pun keluar dari mulutnya.


"Ternyata seenak ini milik wanita?" gumam Rizal ditengah gerak pinggangnya.


Semakin lama, rintihan kesakitan Miranda berubah menjadi rintihan nikmat tiada tara. Untuk pertama kalinya kedua manusia itu merasakan kenikmatan dunia yang tiada duanya. Keduanya sama sama merintih, mengeluarkan rasa nikmat yang menjalar.


Rizal pun semakin lama semakin cepat menggerakan pinggulnya menghujam lembah Miranda dengan penuh semangat hingga keringat keduanya bercucuran. Tangan Rizal juga aktif memainkan benda kembar milik Miranda. Bibir Rizal juga tak henti hentinya menyerang bibir dan sekujur tubuh atas majikannya.


Entah berapa kali kata nikmat keluar dari mulut keduanya. Bahkan hujaman hujaman yang Rizal lakukan berhasil menggetarkan tubuh Miranda dan menyemburkan air nikmat dua kali di dalam sana.


Hingga beberapa saat kemudian, Rizal pun tak kuasa menahan sesuatu pada benda miliknya. Tanpa banyak tanya, Rizal langsung menyemburkan air putih nan hangat di dalam lembah Miranda. Tubuhnya bergetar hebat saat air itu menyembur. Untuk sesaat, Rizal terdiam. Dia menuntaskan air kental yang keluar disana. Setelah tuntas, Rizal pun langung menjatuhkan tubuhnya di sisi Miranda.


Dengan nafas yang menderu, keduanya menatap langit pagi melepas lelah dengan perasaan yang sangat bahagia.


...@@@@@@...


Kadang suka heran sendiri, kok aku bisa kepikiran bikin cerita kayak gini ya? hihihii ... Bagi yang ingin baca karya ku yang lain di lapak gratis bertanda f ada loh ya, no sensor no bintang, cari aja nama pena Rcancer pasti ada, oke. selamat berdenyut ria ...