
"Jadi diam diam tante masih mengharapkan Jamal?"
"Rio!" pekik Sandra begitu melihat siapa yang menahan pintu mobilnya.
"Kenapa? Tante kaget?" tanya Rio sinis.
Sandra yang sedang emosi karena gagal dan terus tersindir oleh ucapan Jamal, kini emosi itu semakin ingin dia luapkan saat melihat sikap Rio yang sangat tidak menyenangkan.
"Kaget kenapa?" balas Sandra tak kalah sinis. Kini giliran Rio yang terkejut mendengar pertanyaan sinis dari tantenya.
"Karena aku tahu, tante masih mengharapkan Jamal, iya kan?" terka Rio tajam. Tatapannya tersirat amarah yang siap dilontarkan.
"Emang masalahnya apa buat kamu? Hak saya, kan? Kalau saya masih tertarik pada Jamal?" balas Sandra tak kalah sinis, tapi cukup membuat Rio tercengang mendengar.
Bagaimana bisa Sandra melawannya? Tidak, Rio tidak ingin Sandra berpaling. Rio ingin Sandra selalu bersamanya. Rio belum siap kehilangan sumber uangnya.
"Sekarang Tante tanya masalahnya apa? Setelah Tante berhasil merayuku hingga menyakiti Selin, dan aku lebih memilih tante, Tapi Tante akan membuangku begitu saja? Apa Tante sekejam itu?" ucap Rio sarkas dan ucapannya cukup telak menampar Sandra.
"Kejam? Kamu bilang aku kejam?"
"Ya. Tante adalah wanita paling kejam yang pernah aku kenal. Setelah tante berhasil menyakiti Selin karena merebutku, kini Tante juga akan merebut Jamal dari Selin? Astaga, tante, aku sungguh tak percaya tante setega itu sama anak tante sendiri," ucap Rio penuh emosi.
"Siapa yang tega menyakiti Selin? Justru aku menyelamatkan dia dari laki laki seperti kamu dan Jamal. Laki laki yang suka mempermainkan wanita, laki laki yang tidak ada tanggung jawabnya sama sekali," ucap Sendra lantang.
"Apa? Menyelamatkan Selin? Hahaha ..." ucap Rio terdengar sangat meremehkan. "Jamal hanya seorang supir, Tante. Bagaimana bisa Jamal ngecewain Selin? Alasan tante sungguh konyol. Apa Tante pikir aku bodoh."
"Terserah apa yang kamu pikirkan tentang tante," ucap Sandra yang sudah kehabisan kata kata untuk membela diri. "Minggir! Tante mau masuk."
Rio bergeser membiarkan Sandra membuka pintu mobilnya. Tapi saat Sandra hendak masuk, Rio berkata lirih, "Awas aja jika Tante Sandra berpaling dariku, aku akan melakukan hal yang tak terduga pada Tante dan juga Selin. Camkan itu!"
Sandra tercekat. Dia langsung menatap tajam Rio yang melenggang pergi setelah memberi ancaman.
"Sial!" umpat Sandra.
Jamal baru masuk ke dalam mobilnya saat melihat pertengkaran Sandra dan Rio selesai. Bahkan Jamal sempat melihat Rio yang menatapnya dengan penuh kebencian. Tapi Jamal tak ambil pusing. Dia tidak merasa memiliki masalah dengan Rio jadi dia santai saja dan acuh saat Rio menatapnya tajam.
Jamal mengambil ponselnya dan mengecek pesan yang masuk dan membalasnya termasuk pesan dari Gustavo yang menanyakan jam berapa mereka akan pulang ke rumah.
Setelah membalas pesan, Jamal pun beralih ke menu game dan memainkannya. Sudah menjadi rutinitas Jamal, jika sedang menunggu Selin kuliah, Jamal lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermian game.
Hingga tak berapa lama kemudian, jam pulang pun tiba. Bebarapa hari ini, Selin memang terlihat ceria. dia sudah tak canggung lagi berbaur dengan teman temannya. Dulu dia merasa malu saat teman teman kampusnya mengetahui persingkuhan Sandra dan Rio. Padahal teman temannya tidak pernah mengejek atau bicara hal yang buruk, cuma Selin yang merasa malu saja.
Dari dalam mobil, Jamal tersenyum saat melihat Selin sedang tertawa lepas bersama temannya. Hatinya menghangat, Jamal merasa senang melihat Selin yang sekarang.
"Sepertinya Non Selin sedang bahagia hari ini? Apa yang membuat Non Selin bahagia yah?" tanya Jamal setelah Selin masuk dan duduk disebelahnya.
"Siapa yang bahagia? Orang aku lagi sedih," Jamal langsung menoleh tatkala mendengar jawaban Selin.
"Sedih? Orang aku lihat Non Selin ketawa ketawa gitu sama teman teman, sedih darimananya?"
"Itu kan cuma kedok, cuma akting, agar teman teman tidak tahu kalau aku tuh sebenarnya lagi sedih banget," ucap Selin dengan wajah berubah murung.
"Loh? Sedih kenapa? Ada masalah apa?" tanya Jamal mendadak ikut merasa panik.
"Kamu nggak tahu aku sedih kenapa?" Jamal menggeleng. "Dasar cowok nggak peka."
Jamal terkesiap. "Nggak peka bagaimana, Non?"
"Aku tuh sedih, karena mulai nanti malam kita tidak tidur satu kamar lagi."
"Astaga!"
...@@@@@...