TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 215


"Sekarang, apa yang akan Mami lakukan?"


"Apa maksud Papi?"


"Mami lihat kan? Karena Karin terlalu kecewa pada kita, terutama Mami yang berencana memecat Iqbal, Karin menyerahkan dirinya pada Iqbal. Setelah Karin menyerahkan kehormatannya pada Iqbal, apa Mami tetap ingin memecatnya?"


Amanda terbungkam, matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Tubuhnya sangat lelah. Dia tidak menyangka anak bungsunnya akhirnya berbuat nekad. Setelah tekanan demi tekanan yang dia berikan kepada sang putri bungsu, dia baru melihat anak bungsunya bersikap diluar dugaan.


Memang benar apa yang dikatakan Belinda, Amanda berpikir kalau Iqbal dipecat, pasti Karin tidak akan berani lagi tinggal jauh dari rumahnya. Amanda menduga, Karin akan memilih pulang. Begitulah Amanda, dia akan selalu memakai cara apapun untuk mengatur dan mengendalikan anaknya.


Belinda dan Aleta juga korban dari keinginan Amanda yang selalu harus terwujud. Kebebasan mereka berdua, Amanda renggut. Mereka dipaksa pulang dan mengekang pergerakan kedua putrinya. Bahkan Amanda sudah mengatur perjodohan Belinda dan Aleta dengan anak anak rekan bisnisnya.


Keinginan Amanda memang baik. Dia tidak ingin anak anaknya terjerumus pergaulan bebas. Cuma caranya saja yang salah, hingga Belinda dan Aleta melampiaskan kekecewaanya dengan menghancurkan Karin.


Tapi sekarang, Karin memilih bertindak nekat di hadapan orang tuanya. Rasa kecewanya sudah melebihi batas, dan puncak kekecewan Karin adalah mendengar Amanda akan memecat Iqbal.


Martin dan Amanda kembali berusaha mengetuk pintu kamar, dimana Karin dan Iqbal berada. Sedangkan Belinda, Aleta, Rio dan Candra, masih setia dengan diamnya tanpa ada niat membantu dua orang tua untuk membujuk Karin.


Sedangkan di dalam kamar, Karin hanya berbaring diatas ranjang sambil dipeluk Iqbal tanpa peduli suara orang tuanya diluar kamar. Dan Iqbal diam membisu tak bisa berbuat apa apa. Membujuk Karin agar membuka pintu, tapi Karin malah menodongkan pisau. Diam saja seperti saat ini, pasti nanti Martin murka dan semakin serius memecatnya.


Karin memang saat ini terdiam, tapi tanganya tetap memainkan isi celana Iqbal. Bagi Karin, berbaring sambil memegang batang Iqbal terasa sangat nyaman dan menenangkan.


"Non."


"Hum."


"Kalau setelah ini aku beneran dipecat gimana?"


"Ya aku akan maksa Papi nikahkan kita, terus aku ikut kamu pulang kampung. Gampang."


"Astaga! Gampang bagaimana? Yang ada entar orang tuaku murka, dikiranya aku hamilin anak orang."


"Astaga! Non, mending kita cari solusi untuk masalah yang sekarang deh. Jangan ngelantur kemana mana. Tuan Martin pasti nanti akan murka banget sama aku."


"Oh, kamu lebih peduli sama Papi daripada sama aku? Oke, mana pisaunya tadi."


"Astaga! Iya iya aku diem, iya."


Iqbal mendengus dan terlihat sangat frustasi. Sedangkan Karin tersenyum tipis sambil terus memainkan isi celana Iqbal.


"Mami sama Papi mending istirahat. Ini udah tengah malam. Daripada nanti Karin semakim nekat," ucap Belinda. Masalah apapun yang terjadi diantara mereka, Belinda tetap merasa tak tega melihat keadaan orang tuanya.


"Bagaimana mami istirahat, kamu lihat kan apa yang terjadi sama Karin? Kalau kalian tidak melakukan hal diluar batas, Karin tidak akan pernah seperti ini," hardik Amanda kepada sang anak.


"Kenapa Mami nggak sadar juga sih? Karin begini karena tertekan dengan sikap Mami juga. Kenapa hanya aku yang disalahkan? Apakah setelah ini, Mami juga akan memecat Iqbal? Kalau Mami ingin lihat Karin bunuh diri yang silakan," ucap Belinda santai. Dia males berdebat.


Untuk sekian kalinya, Amanda terbungkam. Pikiranya buntu. Martin yang ada disisinya juga tak bisa ngomong apa apa. Hingga beberapa lama kemudian pintu kamar terbuka dan keluarlah Iqbal dari dalam kamar tersebut. Semua mata sontak menghadap ke arahnya. dengan langkah gontai, Iqbal melangkah kemudian dia berlutut. Semua mata terperangah.


"Ampuni saya, Tuan. Saya tidak bisa menjaga Non Karin. Ampuni saya, Tuan, Nyonya." ucap Iqbal terdengar penuh sesal dan frustasi.


"Apa Karin?" Martin tidak berani meneruskan kata katanya. Iqbal mengerti apa yang akan Martin katakan. Dengan lemah Iqbal mengangguk.


Lutut Martin lemas seketika. Dia ingin marah, tapi disini, Iqbal tidak salah. Bahkan pergelangan tangan kiri Iqbal nampak sangat merah. Belinda dan Aleta juga nampak terkejut mendengar pengakuan Iqbal. Karin luar biasa, dia sungguh melakukan ancamannya.


Berbeda dengan Amanda. Dia malah memandang benci kepada supir tersebut. Tatapannya tajam penuh Amarah.


"Lebih baik kamu besok tidak usah kerja lagi. Saya pecat kamu."


"Mami!"


...@@@@@...