TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 76 (Iqbal)


Malam belum terlalu larut. Tapi di salah satu rumah mewah ada sepasang mata yang sedang mengendap endap memperhatikan ke sekitar sambil menuruni anak tangga. Merasa suasana aman, orang itu pun menyeringai senang.


Dilantai bawah suasana nampak lebih gelap. Hanya ada pencahayaan redup di beberapa sudut rumah. Orang itu terus mengendap endap menuju ke arah dapur.


Sesampainya di dapur, orang itu kembali celingak celinguk melihat keadaan dan setelah merasa aman, orang itu melangkah menuju salah satu kamar yang letaknya tak jauh dari arah dapur.


Tok! Tok! Tok!


Orang itu mengetuk pintu kamar secara perlahan. Dari dalam kamar, ada orang yang belum tidur dan merasa kaget saat mendengar pintu kamarnya di ketuk. Orang itupun bangkit dan membuka pintu kamarnya.


"Non Belinda!" pekik si pemilik kamar terkejut.


"Hust!" ucap Belinda memperingati supaya si pemilik kamar jangan berisik. Dan wanita itu dengan entengnya langsung masuk kamar sebelum dipersilakan.


"Non Belinda, ngapain malam malam kesini? Nanti Tuan tahu bisa bahaya," tanya si pemilik kamar merasa heran dan tak nyaman.


"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, Bal! Nanti Mbak Inah dengar," hardik Belinda setengah berbisik dan dia langsung duduk di atas kasur yang tergeletak di lantai.


Sontak perasaan Iqbal menjadi tak enak sendiri. Bagaimana bisa seorang wanita nekat malam hari mengendap dan masuk ke kamar seorang pria tanpa rasa canggung. Dan Iqbal semakin dibuat resah saat melihat apa yang dipakai Belinda. Wanita itu hampir nyaris tak berbusana.


"Non, ini udah malam, Non sebaiknya ke kamar deh," ucap Iqbal yang masih berdiri sambil memegangi ujung pintu yang belum tertutup sempurna.


Entah sengaja atau tidak, Belinda malah duduk menghadap Iqbal dengan kaki menekuk, tapi kedua kaki itu sedikit membentang hingga mata Iqbal melihat isi dari dalam rok yang di pakai Belinda. Jiwa laki-laki Iqbal pun berdesir dan rasanya agak memanas.


"Belum ngantuk, Bal, makanya aku sengaja turun pengin ngajak ngobrol kamu," ucap Belinda dan tentu saja itu adalah dusta. Dia telah merencanakan segalanya.


Bukannya menutup kedua kakinya, Belinda malah melebarkan sedikit bentangan kakinya dan manaruh satu telapak tangan di belakang tubuhnya.


"Maaf, Non. Bukannya aku nggak mau ngobrol sama Non Belinda. Tapi ini udah malam dan aku sangat ngantuk," ucap Iqbal masih dengan kewarasannya. Jujur sebagai pria normal, dia sangat tergoda dengan pemandangan tersebut.


Belinda menyeringai. Sebagai wanita yang berpengalaman dengan dunia laki-laki, dia tahu banget kalau Iqbal sedang berusaha menahan gejolak jiwanya yang sedang meluap. Tugas Belinda adalah terus bertahan dan menggodanya. Dia yakin sebentar lagi pasti Iqbal akan luluh dan bertekuk lutut di hadapannya.


Belinda sengaja meluruskan salah satu kaki jenjangnya dengan badan yang meliuk liuk agar Iqbal semakin tak mampu menahan rasa yang sedang berkobar di dalam dada pemuda itu.


Dan apa yang diperkirakan Belinda memang tak salah. Iqbal sedang mati-matian menahan jiwanya yang sedang menggeliat. Iqbal bahkan tidak berani menatap lurus ke arah Belinda yang posisi duduknya sama persis dengan wanita yang ada di video dewasa yang Iqbal tonton dulu.


"Tapi, Non. aku nggak mau besok kesiangan. Nggak enak sama Mbak Inah, Non," ucap Iqbal terus mencari alasan.


"Astaga, Iqbal! Aku kan cuma pengin ngobrol, emang kamu pikir kita mau ngapain? Cuma ngobrol doang kali, Bal. Kalau kamu emang mau kita ngapain ya boleh aja. Siapa takut," Goda Belinda membuat Iqbal semakin frustasi.


"Bentar, Non. Aku mau ambil minum dulu, haus," ucap Iqbal dan dia langsung keluar kamar tanpa persetujuan Belinda yang sedang tersenyum nakal.


"Aku harus bagaimana? gila, gila! Masa tiga cewek, mau sama aku semua? mana kakak beradik lagi, yang ada entar perang," gumam Iqbal begitu dia sampai dapur.


Tangannya meraih gelas dan mengisinya dengan air putih penuh lalu menenggaknya sampai habis guna mengurangi gejolak yang kian memanas. Iqbal kembali mengisi penuh gelas yang ada di tangan dan lagi lagi dia meminumnya sampai habis.


Setelah gejolak di hatinya sedikit mereda, Iqbal kembali melangkah ke kamar. Betapa kagetnya Iqbal saat pintu kamar di buka, dia melihat Belinda berbaring dengan mata terpejam dengan kaki yang menekuk dan juga membentang seperti wanita yang mau melahirkan. Tentu saja mata Iqbal semakin jelas melihat Keindahan milik Belinda yang berwarna putih dan mulus tanpa pembungkus. Iqbal semakin kelimpungan dan dia mundur sedikit keluar.


"Apa mungkin ini memang sudah saatnya aku merasakan surga dunia itu? Kalau iya, baiklah. Toh dia yang nawarin, bukan aku yang minta," gumamnya.


...@@@@@...