
Sayang! Bangun, nak ... udah siang .."
Ceklek.
"Loh nggak di kunci."
Seorang pria dewasa menjelang tua langsung masuk ke kamar yang ternyata tidak terkunci. Pria itu mengedarkan pandangannya hingga matanya tertuju pada sosok perempuan yang masih terlelap berbalut selimut.
Pria itu mengulas senyum kemudian mendekat dan duduk di tepi ranjang. Di tatapnya wanita itu dan diusap kepalanya dengan lembut.
"Selin, udah siang ... bangun hey," ucap pria itu dengan suara menggelegar khas kebapakan.
"Euggh ..." wanita melenguh dan menggeliat tapi matanya masih terpejam.
"Udah siang, sayang. Ayo bangun ..."
"Masih ngantuk, Pa," jawab Selin dengan suara khas orang bangun tidur. Matanya masih terpejam dan semakin merapatkan selimutnya.
"Kan kamu kuliah, Sayang? Ayo bangun," Sang papa masih membujuknya dengan suara lembut.
"Bolos lah, Pa, nggak semangat," balas Selin. Perlahan dia membuka matanya. dan menatap papanya.
"Masa nggak ada Jamal, kuliahnya malah malas sih? Ayo bangun."
"Sehari saja, Selin bolos, yah? Selin nggak ada semangat sama sekali, Pa. Yang ada entar malah moodnya buruk."
Gustavo menggeleng pelan. "Baiklah, tapi sekarang bangun. Temenin Papa sarapan."
"Ya udah Selin cuci muka dulu."
"Baiklah, Papa tunggu di bawah."
Selin mengiyakan. Gustavo mengacak rambut anaknya kemudian dia beranjak pergi keluar kamar.
Selin mengulas senyum, meski hatinya sangat prihatin melihat nasib Papanya. Diusainya yang menjelang tua. Gusavo malah melakukan apa apa sendiri. Menyiapkn baju kerja dan lain sebagainya.
Sejak mencuat Gustavo memiliki anak kedua, Sandra seperti tak peduli dengan urusan suaminya. Gustavo maklum, Sandra mungkin kecewa. Sejak itu, Gustavo selalu menyiapkan segala keperluannya sendiri.
Selin bangkit dan turun dari ranjang untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu lantas Selin merapikan rambut dan pakaiannya kemudian keluar kamar menyusul sang Ayah. Tidak lupa dia juga menenteng ponsel untuk berkirim kabar dengan supir pujaannya.
"Mbok Sum kenapa? Kok kayak nggak semangat gitu?" tanya Selin saat sampai di meja makan dan melihat wanita paru baya kesayanganya merasa lesu, tak seperti biasanya.
"Nggak ada Jamal kayak sepi aja, Non. Biasa kalau pagi, Mbok ada temen ngobrol, tadi malah sepi banget," keluh Mbok Sum. Setelah meletakkan sepiring ayam goreng bumbu lengkuas untuk sarapan.
"Pake nasi, Sel. Orang masih pagi, makan sambal," dumel Gustavo. Selin hanya nyengir saja. "Emang Rio masih suka gangguin?"
"Masih, Pa. Kan Rio pernah tuh dibanting Jamal ke aspal gara gara gangguin Selin. Makanya Rio benci banget tuh sama Jamal, pake pernah fitnah Jamal lagi."
"Fitnah gimana?" tanya Gustavo sedikit terkejut, sedangkan Mbok Sum sudah kembali ke dapur.
Selin lantas menceritakan kejadian dimana Jamal dan Rio disidang sampai Rio kena skorsing karena terbukti bersalah.
Sementara di kampungnya, Jamal juga sedang menikmati sarapannya bersama orang tua dan adiknya. Jarang sekali mereka sarapan bersama seperti ini. Biasanya mereka sarapan sendiri sendiiri sesuai kebutuhan dan sesempatnya. Mungkin karena Jamal baru pulang, jadi waktu untuk sarapan bersama.
"Mas, gaji Mas Jamal dikota berapa sih? Kok bisa beli hp mahal?" tanya Akmal disela sela santap sarapannya.
"Aku nggak beli, Mal. Itu ponsel bekas majikan. Punyaku aja dikasih majikan."
"Wuihh! mantap! Walaupun bekas tapi kalau di jual tetap mahal itu, Mas."
"Makanya dirawat baik baik. Mumpung ada yang ngasih."
"Iya, dong," balas Akmal. Kelihatannta dia telah selesai makan. Akmal berdiri membawa piring kotor ke dapur terus kemabali ke kamar untuk bersiap siap berangkat kesekolah.
"Bapak nggak ke pasar?" tanya Jamal beberapa saat kemudian setelah Akmal pergi.
"Libur, Mal. Dagangan lagi sulit, ditambah harga naik terus. Bikin susah untuk jual kembalinya," jawab Bapak. Jamal nampak manggut manggut paham.
Untuk sehari hari pekerjaan orang tua Jamal adalah berjualan bandeng. Mereka hanya pedagang kecil yang paling mampu berjualan pindang bandeng sepuluh atau dua puluh kilo perhari.
"Mal, kamu pulang mendadak kayak gini, karena ada masalah atau kamu memang sengaja libur?" tanya Emak. Dari semalam Emak sebenarnya penasaran saat anaknya pulang.
Dada Jamal mendadak bergemuruh, tapi dia berusaha bersikap tenang. Sendok yang dia genggam, ditaruhnya dalam piring.
"Sebenarnya Jamal lagi kena masalah, Mak, Pak."
"Masalah? Masalah apa?"
Jamal menghirup udara dalam dalam agar hati yang bergemuruh bisa dia tenangkan. Jamal menunduk dengan kedua telapak tangan saling menggenggam erat.
"Jamal telah berhubungan badan dengan anak majikan Jamal, Mak."
Deg!
...@@@@@@...