
Tok! Tok! Tok!
Seorang pemuda nampak sedang mengtuk pintu rumahnya dengan perasaan was was. Setelah cukup lama mengtuk pintu dan menyucap salam sambil memanggil orang yang ada di dalam rumah, pintu rumah pun akhirnya ada yang membuka. Pemuda bernama Iqbal langsung mendapat sambutan dingin dari orang yang membukakan pintu itu yaitu kakaknya Tanpa bersuara, kakak Iqbal berbalik badan.
Iqbal menghirup nafasnya dalam dalam. Senyyum yang hendak dia kembangkan langsung surut saat kakaknya memilih langsung berpaling. Iqbal melangkah masuk kedalam.
Iqbal melihat sang ibu juga berdiri di depan pintu. Iqbal mendekat hendak menjabat tangan ibunya, tapi setelah dia dekat, Sang Ibu mengangkat tangan.
Plak!
"Ibu!" pekik Iqbal.
"Puas, bikin malu ibu, Hah! Puas!" bentak Ibu lantang. Iqbal hanya mematung menatap nanar wanita yang sedang dilanda amarah dan kecewa akibat perbuatan anaknya.
"Kenapa kamu tidak bunuh saja ibu, Hah! Kenapa? Harusnya kamu bunuh Ibu dulu, Iqbal! Setelah itu baru kamu bisa berbuat seenaknya tanpa memikirkan orang tuamu!"
Iqbal semakin syok mendengar amarah ibunya. Dia tahu salah dia apa. Dimata ibunya, pasti perbuatan Iqbal sudah sangat keterlaluan dan diluar batas.
"Kamu bangga, Bal? Kamu sangat bangga bisa berbuat zina di kota, Hah?" maki ibu.
Iqbal tak kuasa menahan makian ibunya. Bahkan hati Iqbal merasa sakit melihat ibunya marah sambil mengeluarkan airmata. Beruntung Iqbal memakai jaket yang menutupi lehernya hingga dagu. Entah kemarahan seperti apa yang akan Ibu tunjukkan jika Ibu melihat tanda merah yang bertebaran di lehernya.
Iqbal seketika langsung berlutut. "Maafkan Iqbal, Bu. Maafkan Iqbal."
"Udah, Bu. Malu sama tetangga. Nggak baik ribut ribut tengah malam," ucap Rini, kakaknya Iqbal.
"Buat apa malu sama tetangga, Rin? Adik kamu sendiri juga sudah tidak punya malu hidup bareng wanita dalam satu kamar. Biar saja ibu sekalian malu. Bukankah ini yang adikmu inginkan? Membuat orang tuanya malu!"
Hati Iqbal merasa tersayat mendengar tuduhan ibunya. Dia tahu, ibu sangat kecewa. Tapi Iqbal tidak ada niat sedikitpun membuat malu keluarganya. Iqbal yang salah. Iqbal yang tidak bisa mengendalikan diri.
"Sudah, Bu. Sudah. Ibu mending istirahat, ya?" ucap Rini lembut sambil memeluk ibunya bisa tenang. Rini tidak mau terjadi hal hal yang tidak di inginnkan nantinya. Dia membawa sang ibu yang sedang menangis ke dalam kamar ibu.
Beruntung, Bapak tidak ada di rumah. Malam ini bapak sedang berjaga di salah satu SMP negeri di kecamatan ini. Bapaknya Iqbal memang bekerja sebagai penjaga sekolah. Jika ada Bapak di rumah, mungkin Iqbal sudah dapat bogem mentah dari Bapak.
"Berdirilah, Bal. Ngapain masih berlutut. Nggak akan merubah apapun juga," cibir Rini begitu kembali menghampiri Iqbal dan duduk di kursi yang ada disana.
Iqbal lantas berdiri dan langsung duduk di kursi yang lain tapi masih satu meja dengan sang kakak.
"Mbak tahu dari siapa? Kalau aku ..." Iqbal tak berani meneruskan kata katanya. Entah kenapa Iqbal merasa jijik saat ingin mengucap kata kumpul kebo. Padahal dia memang melakukannya.
"Kalau kamu kumpul kebo, gitu?" tanya Rini, guna mempertegas ucpan Iqbal yang terpotong. Pemuda itu hanya terdiam sembari menunduk. "Apa kamu tidak menyukainya kalau keluarga kamu tahu kelakuan bejat kamu di kota?"
Iqbal sontak mendongak. "Bukan begitu, Mbak?"
"Terus apa?" tanya Rini dengan nada yang lebih tinggi. Iqbal kembali menunduk dan terdiam. Dia tidak memiliki ucapan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang kakak.
"Kalau tidak ada yang memberi tahu, kamu pasti tidak bakalan ngaku sendiri, kan? Kamu lebih memilih terus melakukan zina daripada harus jujur sama keluarga kamu,Iya kan?" cecar Rini dengan geramnya. Iqbal semakin terbungkam. Dia sungguh tidak bisa membalas semua ucapan kakaknya.
"Kita itu hanya orang miskin, Bal. Kita tiap hari bisa makan saja sudah senang. Tapi kamu ... kamu seenaknya melempar kotoran ke muka Ibu dan Bapak. Apa salah orang tua kita Bal? Mereka percaya, kamu ke kota bisa merubah keadaan kamu agar lebih baik. Tapi apa yang kamu berikan, Hah! Apa?"
"Maaf, Mbak. Iqbal tahu Iqbal salah. Iqbal hilaf, Mbak."
"khilaf yang sangat nikmat sampe orang yang memberi gaji pun kamu khianati gitu? Otak kamu dimana, Bal? Apa karena orang tua kamu miskin jadi kamu tidurin anak majikanmu dan berharap jadi orang kaya, iya? Jawab, Bal!"
Iqbal semakin menunduk. Tanpa terasa airmatanya luruh. Hanya penyesalan yang kini bergelayut dalam jiwa raganya. Iqbal bingung, bagaimana caranya agar dia bisa membela diri kali ini.