TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 260 (Iqbal)


"Mami benar benar keterlaluan," umpat Martin penuh kekecewaan. "Papi nggak nyangka, Mami bisa sepicik itu."


"Maafin Mami, Pi. Mami hanya ..."


"Kalau Mami terus menyusahkan anak anak, lebih baik kita cerai Mi. Papi sudah gagal jadi seorang ayah dan suami."


"Papi!" pekik Amanda dan Karin hampir bersamaan. Mereka tidak menyangka Martin akan bicara seperti itu. Airmata kedua wanita beda usia itu lolos dari dari sudut mata masing masing menatap pria yang nampak lelah dan sangat frustasi. Pria itu melangkah gontai dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.


Amanda bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menuju tempat di sebelah sang suami. "Papi nggak serius, kan, dengan ucapa Papi? Papi bohong kan? Papi hanya ingin menggertak Mami, iya kan?"


"Apa di saat seperti ini, Papi masih sanggup bercanda buat berbohong, Mi? Disaat Papi ingin merubah sikap demi anak anak, justru Mami malah mengacaukannya dan masih berbuat seenaknya. Pikiran Mami dimana sebenarnya? Belinda dan Aleta akan pergi dan tidak pernah mau kembali. Sekarang Karin juga nggak akan mau tinggal sama kita, terus masa tua kita mau kita habiskan sama siapa? Papi lelah, Mi. Papi lelah. Kita ingin melakukan yang terbaik untuk anak anak, tapi anak anak sudah dewasa, apa masih pantas kita mencampuri urusan mereka? Mereka juga punya impian, kayak Mami waktu muda. Bisa nggak sih, Mi belajar dari yang sudah sudah?"


Amanda hanya tertunduk sambil menangis sesenggukan. Martin beranjak mendekati anaknya. Martin duduk di kursi dekat brangkar. Matanya saling tatap dengan mata sang anak


"Papi nggak serius, kan? Papi nggak akan pisah dari Mami kan? Karin janji, Karin akan jadi anak yang patuh dan penurut lagi. Asal Mami sama Papi tidak pisah. Karin Janji, Pi."


"Jangan mengorbankan kebahagianmu lagi, Nak. Kamu juga berhak bahagia sesuai dengan hatimu sendiri. Mungkin ini saatnya Mami sama Papi harus intropeksi diri, agar anak anak Papi bisa bahagia sesuai dengan keinginannya. Papi sudah mengorbankan kebahagiaan kalian demi ambisi dan kebahagiaan Papi. Sekarang sudah saatnya, Papi mengalah dan tidak egois lagi. Papi nggak mau, dimasa tua Papi, Papi kehilangan masa tua Papi bersama anak anak Papi."


Tangis Karin semakin tumpah. Begitu juga Amanda yang dangat tersayat hatinya mendengar pengakuan suaminya. Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan. Entah apa arti kata maat itu, yang pasti hatinya merasa perih untuk saat ini.


Mereka saling terdiam. Hanya ada isak tangis yang menggema disana. Hingga Amanda memilih keluar dari ruangan Karin, guna menangkan hatinya yang sangat kacau.


Hingga tanpa terasa, waktu kini berganti lagi. Di dalam kamar yang lain, Iqbal memilih bangkit setelah bangun tidur beberapa saat tadi. Pukul sembilan, Iqbal baru bangun tidur. Pikiran kacau tentang kejadian semalam, membuat Iqbal langsung terlelap. Meski badan sangat lelah, Iqbal membuka matanya lumayan cukup lama.


Iqbal membongkar tasnya dan mengambil peralatan mandi. Dia keluar kamar dan melihat Bapaknya sedang duduk dan mengantuk sambil nonton tv. Iqbal lantas mendekat dan menyapa Bapaknya


"Kalau ngantuk, tidur di kamar aja, Pak," suara Iqbal tentu saja mengagetkan sang Bapak.


"Eh, Bal. Baru bangun kamu?" tanya Bapak mencoba bersikap biasa saja. Padahal sejak mendengar kalau Iqbal kumpul kebo, Amarah dan rasa kecewa Bapak juga sama dengan apa yang dirasakan Ibu dan Kakak Iqbal.


"Kamu pulang sendiri?"


Kening Iqbal berkerut. "Iya, Pak."


"Kirain kamu akan membawa pulang pacar kamu yang hidup bareng di kota."


Deg!


Hati Iqbal mencelos. Bapak mulai menunjukan amarahnya. Iqbal hanya berusaha tersenyum sambil menatap Bapaknya yang terlihat santai menatap layar tv.


"Pak, Iqbal ..."


"Setelah ketahuan baru minta maaf dan bilang menyesal gitu?" Iqbal semakin terkejut. Apa yang Bapak ucapkan memang ada benarnya. "Kalau nggak ketahuan, nggak pernah ada niat untuk ngomong gitu?"


"Pak ..."


"Nggak usah membela diri kalau nyatanya kamu memang salah. Bapak pikir kamu anak yang selamanya akan bisa membanggakan orang tua, tapi nyatanya Bapak salah. Bapak lupa kalau ada Tuhan yang bisa membolak baliklan hati manusia dengan mudah. Bapak salah, Bapak yang terlalu angkuh karena terlalu membanggakan anak Bapak. Dengan sangat telak, Tuhan langsung meruntuhkan keangkuhan Bapak."


"Pak ..." Cuma itu yang sanggup Iqbal katakan. Ucapan kekecewaan Bapak, mampu membuat Iqbal semakin merasa bersalah.


"Bapak hanya ingin anak Bapak berada di jalan yang benar. Meski minim Iman tapi setidaknya bisa jaga diri dan jaga kepercayaan, tapi .." ucap Bapak dengan suara bergetar.


Iqbal langsung bersimpuh dihadapan Bapaknya. "Maafin Iqbal, Pak. Maafin Iqbal."


...@@@@@@...