
Hari berganti lagi. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Di dalam sebuah kamar dari salah satu rumah yang berada di sebuah kompleks perkampungan, seorang pemuda masih berada di atas kasurnya. Udara pagi yang sangat dingin, membuat pemuda itu semakin merapatkan selimutnya.
Pemuda bernama Jamal itu, sebenarnya sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu. Tapi udara dingin yang menusuk kulit, membuat Rizal enggan beranjak dari kasurnya. Apa lagi sejak mata terbuka, pesan chat dari wanita yang dia rindukan telah menghampiri dirinya. Semakin menambah rasa malas Jamal untuk keluar kamar. Mending memilih berbalas chat dengan calon istri daripada bangun dan keluar kamar.
"Jamal!" sebuah teriakan dari luar kamar sungguh mengusik ketenangan paginya. Panggilan dari seseorang yang Jamal kenal tapi sangat tidak diharapkan kehadirannya saat ini. Jamal memilih pura pura diam dan melanjutkan berkirim pesan dengan wanitanya.
Tok! Tok! Tok!
"Mal, ada Rizal itu!" suara Emak nyaring memanggil membuat sang penghuni kamar makin merasa kesal.
"Iya," jawab Jamal malas. Jika Emak udah turun tangan, itu tandanya Jamal tidak punya pilihan selain keluar kamar menemui tamu yang tidak diundang. Setelah pamit dan mengakhiri pesan chat dengan wanita yang Jamal sayang, pemuda itu mau tidak mau bangkit dan beranjak keluar kamar.
"Ada apa sih? Pagi pagi udah bertamu, nggak sopan," sungut Jamal begitu dia keluar menemui Rizal di depan rumah.
"Hehehe ... kangen aja aku, nggak boleh?" balas Rizal sambil cengengesan.
"Amit amit hih," jawab Jamal sambil bergidig. "Sejak kapan kamu jadi kangen cowok? Apa kamu sudah mulai membuka hatimu untuk Tuan Tomi?"
"Hih najis! Amit amit! Enakan lubang Miranda kemana mana," balas Rizal sambil bergidig.
"Hust! Jangan keras keras ngomong soal lubang. Emak dengar bakalan kena ceramah kamu."
"Ups!" Rizal langsung menutup mulutnya. "Motor kamu baru,Mal?"
"Udah, nggak usah basa basi," sungut Jamal. "Ngapaian pagi pagi udah kesini. Nggak siangan dikit gitu?"
"Astaga! Galak amat?" cibir Rizal. "Aku cuma mau ngucapin makasih aja. Berkat kamu, Ibu sama Bapak dan Mbak Andini nggak marah lagi."
"Siapa juga yang mau bantuin kamu, aku tuh cuma kasihan saja sama Mbak Andini kemarin pas ketemu di pasar. Udah kayak orang frustasi l. Jadi aku cerita tentang kamu. Nggak ada niatan tuh nolong kamu," kilah Jamal ketus.
Rizal bukannya tersinggung, dia malah terbahak mendengar jawaban Jamal. "Iya, iya ... terserah kamu deh, Mal. Eh ngomong ngomong, katanya kamu mau lamaran? Wuih mantap!"
"Iya dong," jawab Jamal jumawa. "Terus hubungan kamu gimana? Apa bubar?"
"Nggak lah, Miranda lagi ngurusin surat cerainya dengan Tuan Tomi."
"Terus Ibu sama Bapak?"
"Oh," ucap Jamal sambil manggut manggut. "Ya baguslah, ada kemajuan."
"Iqbal sendiri gimana nasibnya, Mal?"
Jamal menghembus kasar nafasnya. "Nggak tahu. Sepertinya masalah dia lebih berat dari kita. Kemarin dia kesini, ya gitulah ceritanya."
Kini Rizal yang manggut manggut. "Apa kita coba bantu ngomong ke orang tuanya, Mal? Kali aja kalau kita ikut ngomong, orang tua Iqbal mau mengerti."
"Gimana caranya?" tanya Jamal. "Masalah Iqbal kan beda sama kita. Kalau Iqbal melakukannya atas dasar suka sama suka. Kalau kita bantu ngomong, nanti orang tua Iqbal mikirnya kita nutupin kesalahan Iqbal gimana?"
"ah iya, Situasi Iqbal memang lumayan susah sih. Lebih baik kita ke rumahnya Yuk. Kasian. Siapa tahu dengan adanya kita, Iqbal tidak merasa putus asa."
"Ya ayok! Tapi aku mau ke belakang dulu. Perutku mules."
"Hih! Ya udah sana!"
Jamal cengengesan sambil beranjak masuk. Dia bahkan sampai kentut beberapa kali. Jamal bukan hanya buang air saja, tapi juga cuci muka dan gosok gigi lalu ganti baju. Beberapa menit kemudian, mereka pun jalan kaki menuju rumah Iqbal yang ada di Rt sebelah. Tidak perlu pakai motor. Cukup lewat gang udah sampai.
Sesampainya di halaman rumah Iqbal, kedua pemuda itu bertemu sama Ibunya Iqbal yang sedang belanja pada pedagang sayur keliling. Kata Ibunya Iqbal, Rizal dan Jamal disuruh langsung ke kamar Iqbal. Mereka berdua sedikit terkejut saat Ibunya Iqbal bilang Iqbal sedang berkemas sambil nunggu jemputan.
"Bal," panggil Jamal saat berada di depan pintu kamar Iqbal. Pintu kamar pun terbuka.
"Lagi ngapain kamu, Bal?" tanya Rizal begitu masuk ke kamar dan melihat Iqbal sedanh memasukan beberapa pakaian ke dalam tas.
"Lagi siap siap dong," jawab Iqbal terdengar antusias.
"Bersiap siap mau kemana?" tanya Jamal penasaran.
"Mau pergi sama calon mertua, bentar lagi aku di jemput."
Calon mertua?" tanya Rizal dan Jamal bersamaan.
...@@@@@@...