
Ada banyak jenis aktifitas yang dapat dilakukan di pagi hari. Melanjutkan tidur, memasak, mandi, bersiap siap berangkat kerja, menyiapkan barang dagangan dan masih banyak lagi sesuai kebutuhan dan keadaan orang yang bersangkutan.
Tapi berbeda dengan aktifitas dua manusia yang sedang dilanda gelora panas. Terlihat di salah satu kamar dari sebuah apartemen, dua manusia berbeda jenis itu sedang menikmati perang bibir mereka. Dan saat ini keduanya sedang dalam keadaan tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya dan melanjutkan permainan panas juga penuh nikmat yang mereka rengkuh semalam. Terlihat dua telapak tangan pria yang beprofesi sebagai supir sedang memijat mijat bukit kembar milik anak majikannya dengan bibir yang masih beradu.
Setelah perang bibir terjadi cukup lama, si supir bernama Jamal itu menjelajahkan bibirnya ke leher jenjang wanita bernama Selin yang tak ingin melepas lingkaran tangannya di leher Jamal dengan mengeluarkan suara rintihan nikmat.
Kini bibir Jamal sampai pada bukit kembar yang masih kencang dan elastis. Dengan buas Jamal menerkam satu persatu bukit kembar Selin dan memainkan pucuk pucuknya dengan lidahnya. Bagaimana bayi yang kehausan, Jamal menyesap bukit itu dengan rakusnya. Tubuh Selin pun meliyuk liyuk dengan menekan kepala jamal di dadanya.
"Kenapa kamu pintar memainkannya sih, Mal? Ini nikmat sekali?" racau Selin.
"Naluri Non," jawab Jamal singkat. Dia hanya ingin fokus menikmati sarapannya kali ini. Menu yang berbeda. Sangat nikmat dan tidak mungkin akan habis maupun kadaluarsa.
Sementara dua benda inti mereka bertemu di bawah sana dan saling gesek membuat hawa panas semakin membakar tubuh yang sudah penuh gelora.
"Non, pengin nyoba yang kayak di video video nggak?" tanya Jamal menghentikan aktifitas mulutnya.
"Yang kayak di video?"
"Iya, Non makan punyaku dan aku makan punya, Non," usul Jamal antusias.
"Boleh, yuk, coba,"
Mereka pun melepas diri sejenak, kemudian Jamal berbaring dan Selin mengambil posisi merangkak di atas Jamal dengan posisi berlawanan.
Selin langsung melahap milik Jamal yang sudah menegang sempurna dan Jamal juga jari dan lidahnya sudah bermain main di lembah basah milik Selin.
"Jamal, kok enak banget sih? Mulutmu pintar," puji Selin. Jamal hanya menyeringai tanpa ada niat menjawabnya. Dia terlalu fokus memasukan jari tengahnya dan memaju mundurkan secara perlahan. Bibir dan lidah Jamal pun tak henti hentinya menikmati lembah nikmat milik Selin dengan rakusnya.
"Mal, aku duduk dipangkuanmu sambil masukin ya?" pinta Selin disela sela menikmati benda milik Jamal.
"Coba dulu, entar kalau sakit tinggal pindah posisi," balas Selin.
"Baik lah, ayo," ajak Jamal.
"Kita pindah yuk, di sofa depan?" usul Selin.
"Loh? Apa aman? Kalau ada cctv nya gimana?"
"Nggak ada, papah sengaja nggak pasang cctv di sini. Biar aman kali buat Papah," jawab Selin. Sekilas dia kembali teringat kejadian papahnya tertangkap basah main dengan sekretarisnya. Dan Selin akhirnya menyimpulkan alasan apartemennya tidak dipasangi cctv. Biar Gustavo aman main sama wanita wanita lain. Pikir Selin.
Sebelum beranjak, mereka melakukan perang bibir sejenak, kemudian mereka bergandengan tangan menuju sofa yang biasa di jadikan ruang tamu. Selin memeriksa pintu terkunci sempurna atau tidak. Sedangkan Jamal langsung duduk di sofa.
Setelah memastikan pintu aman, Selin mendekat dan berlutut di hadapan Jamal dan memainkannya kembali milik Jamal dengan mulutnya. Jamal pun hanya memperhatikan gerakan kepala Selin dengan sesekali mengeluarkan suara sebagai tanda kalau dia sangat menikmatinya.
Hingga beberapa menit berlalu, Selin naik keatas sofa dan membentangkan kakinya diatas tubuh Jamal.
Saat Selin menurunkan badannya perlahan, Jamal membimbing rudal miliknya tepat di titik lembah Selin. Meski agak sakit, Selin tetap memaksakan diri mengambil posisi seperti itu. Namun rasa sakit itu seakan akan sirna, saat semua milik Jamal benar benar masuk. Dan rasa sakit itu berubah menjadi nikmat saat Selin mulai bergerak naik turun.
Jamal mencondongkan wajahnya dan mulutnya bergantian menikmati benda kembar milik Selin yang bergerak menggoda.
"Ah! Nikmatnya, bawah sodok atas kenyot."
Plok Plok Plok.
...@@@@@...