
"Saya akan menyerahkan tubuh saya untuk Iqbal, jika ada yang mengganggunya, maka dipastikan, aku akan mati!" Karin masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras.
Brak!
"Karin!" teriak Martin dan Amanda bersamaan. Sementara Belinda dan Aleta serta dua pria di sebelah mereka merasa takjub dengan keberanian Karin. Berani-beraninya dia mengancam seperti itu di depan ayahnya sendiri.
"Karin! Buka pintunya, Karin! Karin!" teriak Martin sambil menggebrak pintu dengan keras.
"Pi, Karin, Pi, kenapa Karin jadi seperti ini? hiks ... hiks ..." rintih Amanda sembari mengetuk pintu kamar dimana Karin dan Rizal berada.
"Karin seperti itu juga pasti tertekan, Mi, apalagi Mami berencana mau memecat Iqbal agar Karin mau pulang. Iqbalnya sih ngak masalah, tapi Karin, akan semakin membenci Mami," cerocos Belinda.
"Diam kamu, Belinda!" hardik Martin. Pria itu sungguh merasa gagal menjadi seorang ayah. Dia nampak frustasi dengan kejadian yang menimpa keluarganya saat ini. Rasa sesal bergelayut dibenaknya.Semua yang terjadi pada anak anaknya, akibat kesalahannya dia juga. Martin dan Amanda, hanya mengerti keinginan mereka saja, tapi mereka tidak mau mengerti dengan keinginan anak anak mereka.
Dengan tujuan agar mereka tidak terlalu repot, Belinda dan Aleta, mereka kirim ke tempat nenek kakeknya. Demi membesarkan usahanya, mereka abai kepada keinginan anaknya. Seandainya ketiga putrinya tidak hidup terpisah, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini.
Sementara di dalam kamar, Iqbal menatap kedatangan Karin dengan rasa panik dan takut. Karin masih memegang pisau saat mendekatinya. Namun diluar dugaan, Karin malah menghambur dan menangis sambil memeluk Iqbal.
"Kenapa mereka jahat, Bal? Kenapa mereka jahat sama aku? Kenapa semuanya tidak suka lihat aku bahagia, Bal?" rintih Karin sambil terisak.
"Tidak, mereka tidak jahat, Non. Mereka hanya khilaf," ucap Iqbal membalas pelukan Karin.
"Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang jadi pelampiasan kekecewaan mereka? Bahkan Mami mau memisahkan aku sama kamu karena kecewa, hanya karena aku nggak mau pulang. Kenapa mereka tega sama aku?"
Iqbal hanya bisa menghela nafasnya. Dia bingung mau menjawab apa dari semua pertanyaan Karin. Iqbal hanya bisa menepuk punggung wanita itu agar tenang.
Martin dan Amanda masih berusaha menggedor pintu kamar. Tapi semuanya nampak sia sia. Tidak ada respon dari dalam manusia yang berada di dalam kamar.
"Apa kamu juga mendukung keinginan mereka? Baiklah, berarti memang aku harus mati," ucap Karin lalu melepas pelukannya.
"Non!"
"APA!" bentak Karin hingga suaranya terdengar sampai keluar. Iqbal terperangah. Baru kali ini Iqbl melihat Karin semarah itu hingga berani membentaknya.
"Apa aku nggak boleh egois, Bal? Hah! Dari dulu aku selalu nurutin mereka. Mereka nyuruh ini dan itu, aku tidak menolak sedikitpun. Karena aku ingin mereka bahagia, aku ingin menjadi anak berbakti. Tapi disaat Belinda dan Aleta datang. Mereka malah lebih percaya anak mereka yang lain daripada aku yang bertahun tahun nurutin mereka. Kamu tahu nggak sih, Bal, rasanya bagaimana?" Iqbal semakin terperangah mendengar pengakuan Karin. Direngkuhnya tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Iqbal sungguh tidak pernah tahu kalau Karin juga punya rasa sakit yang dia pendam sendiri.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu semenderita itu?" ucap Iqbal lirih.
"Aku hannya ingin bahagia sedikit saja, Bal. Aku hanya ingin egois sebentar saja. Aku juga butuh dimengerti, Bal. Tapi kenapa mereka tidak mau mengerti perasaanku sedikitpun? Bahkan mereka ingin misahin kita, apa mereka tidak peduli perasaanku."
Tangisan Karin semakin menjadi. Iqbal terus berusaha menangkannya. Hingga dari luar kamar, suara Iqbal dan Karin tidak terdengar lagi. Amanda dan Martin pun semakin kelimpungan dibuatnya.
"Pi, apa Karin benar benar melakukan ancamananya? Kenapa mereka tidak ada suara lagi?" tanya Amanda dengan wajah was was. Martin tak mampu lagi menjawab pertanyaan istrinya. Martin terduduk lemah diatas sofa. Begitu juga Belinda dan yang lain. Mereka hanya terdiam, tak bisa melakukan apa apa. Sementara Amanda masih berusaha menggedor pintu kamar dan terduduk disana.
"Sekarang, apa yang akan Mami lakukan?" tanya Martin tiba tiba setelah beberapa saat terbungkam.
"Apa maksud Papi?"
"Mami lihat kan? Karena Karin terlalu kecewa pada kita, terutama Mami yang berencana memecat Iqbal, Karin menyerahkan dirinya pada Iqbal. Setelah Karin menyerahkan kehormatannya pada Iqbal, apa Mami tetap ingin memecatnya?"
...@@@@@...