
"Ya udah, Mami sama Papi mau berangkat dulu, kamu jaga diri baik baik, kalau ada apa apa, jangan sungkan hubungi Mami."
"Baik, Mi. Makasih sudah mendukung Miran."
Setelah berpeluk sesaat, orangtua Tomi itu lantas masuk ke dalam taksi yang akan membawa mereka ke bandara.
Hati Miranda kini sedikit lebih tenang. Beban di dalam hatinya seakan berkurang banyak setelah berani berterus terang. Meski karena kejadian itu dia juga harus mengetahui kenyataan pahit.
Ya. Miranda sekarang tahu kalau dia adalah anak adopsi. Miranda juga sekarang tahu kalau dia hidup sebatang kara. Tapi Miranda belum tahu alasan apa orang tuanya mengadopsi dirinya tapi memperlakukan Miranda seperti itu. Masih banyak yang Miranda belum tahu.
Sedih, tentu saja, Miranda sangat sedih mendengar kenyataan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin memang jalan takdir seorang Miranda. Mau tidak mau dia harus bisa menjalaninya.
Miranda lantas masuk ke dalam menuju dapur dan memanggil pembantunya. Dia mau menanyakan tentang kepergian Rizal. Miranda belum tahu kalau Rizal masih di dalam kamarnya.
"Mbak Sari."
"Iya, Non, ada apa?"
"Jam berapa tadi Rizal pergi?"
"Rizal? Pergi?" Mbak Sari mengerutkan keningnya.
"Iya, kamu tahu kan kalau Rizal diusir Mami aku?"
"Tapi Rizal masih di kamarnya, Non, dia belum pergi."
"Astaga! Benarkah?" Sari mengangguk. "Ya udah, tolong Panggilan dia ya Mbak, aku tunggu di ruang tamu."
Sari mengiyakan, lantas dia pergi ke kamar Rizal untuk menyampaikan pesan dari majikannya. Tak berapa lama, Rizal kini sudah berdiri dihadapan Miranda. Mereka saling pandang dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Non Miran baik baik saja?" tanya Rizal dengan penuh rasa khawatir.
"Ya seperti yang kamu lihat, Zal," jawab Miranda dengan senyum manis seperti biasanya.
"Non Miran jangan berbohong. Aku tahu, Non Miran sedang tidak baik baik saja."
"Terus aku harus bagaimana? Aku harus sedih dan nangis nangis gitu?"
Rizal tersenyum kecut. "Maafin saya, Non. Gara gara aku, Non Miran harus ..."
"Kamu nggak salah, Rizal. Semua masalah datang karena aku yang mulai. Kamu nggak perlu minta maaf."
"Udah ya, Jangan dibahas lagi. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang yang kita pikirkan adalah kedepannya kita akan gimana."
Di saat mereka sedang berdiskusi, mobil yang dikendarai Tomi masuk ke pelataran rumah. Bergegas dia turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Oh, sekarang kalian sudah berani terang terangan mengumbar kemesraaan di dalam rumah? Hebat!" ejek Tomi, begitu melihat Miranda dan Rizal sedang bersama di ruang tamu. Meski mereka duduk terpisah, tapi bagi Tomi, itu tidak ada bedanya.
"Maksud kamu apa?" hardik Miranda.
"Kalau kamu punya otak, nggak perlu aku kasih tahu, kamu pasti maksud apa arti ucapanku."
"Tuan, ini semua tidak ..."
"Nggak usah ikut bicara! Kalian berdua sama saja! Munafik!" maki Tomi penuh dengan amarah. "Sari! Sar!"
Merasa ada yang teriak memanggil namanya, Sari pun bergegas lari menuju ke sumber suara.
"Iya, Tuan, ada apa?" tanya Sari agak gugup.
"Sini kamu!" hardik Tomi. Sari yang tidak pernah melihat Tuannya semarah itu sontak ketakutan.
"Sekarang jujur sama saya, apa benar Rizal sepupu kamu?" tanya Tomi kemudian membuat ketiga orang yang ada disana terkejut bukan main. Mereka tidak tahu kenapa Tomi menanyakan hal itu.
"Jawab!" bentak Tomi dengan keras hingga semua yang disana sedikit terlonjak.
"Eh itu ..." Sari tergagap. Dia bingung mau menjawab apa. Dia menunduk dengan rasa takut yang luar biasa karena baru kali ini dibentak oleh Tuannya.
"Atau kalian dari awal memang sengaja bersekongkol untuk menipu saya, iya? Hahaha ... hebat!"
Semua sontak terkesiap mendengarnya. Tatapan ketiganya berpusat pada pria yang sedang meluapkan amarahnya.
"Bagus! Drama kalian sungguh sempurna. Dari awal kalian sudah sangat rapi merencanakannya. Aku tidak menyangka, ternyata di rumah ini, semua orang yang aku percaya ternyata ular," ucap Tomi dengan penuh rasa amarah. "Kamu tahu, Mir. Sebejat bejatnya aku, aku sama sekali tidak pernah membohongi kamu. Bahkan aku berterus terang dengan keadaanku dari awal kita menikah. Tapi kamu dan dua orang ini. Kalian semua ular."
"Cukup, Tomi!" kini Miranda yang membentak. "Aku yang salah, bukan mereka. Aku yang menyebabkan mereka semua berbohong. Jangan bawa bawa mereka. Meraka tidak terlibat apapun."
"Oh ya? Hahaha ... kamu kira aku percaya?" ucap Tomi sinis lalu dia memandang Rizal dengan penuh kebencian. "Dan kamu Rizal, aku pastikan sebentar lagi orang tuamu akan malu karena memiliki seorang anak yang sukses menjadi penghancur rumah tangga majikannya!"
Deg!
...@@@@@...