TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 235 (Rizal)


"Jika kalian takut, Mulai hari ini saya akan menarik semua saham saya dikantor anda!" tegas Papi mertua pada besannya. Sontak saja saja kedua orang tua Miranda langsung syok. Bagaimana mungkin bisa berakhir seperti ini?


Niat hati ingin mencari muka, malah mereka seperti kehilangan muka. Orang tua Miranda berpikir kalau besannya akan sejalan pemikirannya, mendukung Tomi dan menyelamatkan rumah tangga anak anaknya. Nyatanya tindakan mereka adalah sebuah kesalahan besar.


Bahkan Papi Miranda berpikir, dengan mengatakan siapa sebenarnya Miranda, membuat mereka leluasa bisa menekan Miranda untuk balas budi. Nyatanya tindakan mereka salah langkah. Kini mereka mendapat ancaman yang tidak pernah mereka inginkan.


"Tidak bisa begitu dong, Besan! Jangan sangkut pautkan bisnis dengan masalah kita?" protes Papi Miranda. Dia tidak mungkin mau kehilangan apa yang menjadi sumber kekuatan perusahaannya.


"Jangan sangkut pautkan bisnis dengan masalah rumah tangga? Apa saya tidak dengar?" tanya Papi Tomi sedikit terkekeh. Baginya, sikap Papi Miranda sangat konyol bin lucu. "Terus tujuannya apa? Kalian menghina Miranda dan menyanjung anak saya? Kalau tidak ada hubungannya dengan bisnis? Kalian itu aneh. Dewasa jangan usianya saja, tapi pemikirannya juga."


Orang tua Miranda terkesiap kembali. Ucapan Besannya membuat mereka malu setengah mati. Mereka terbungkam tanpa bisa membantah kembali ucapan yang terlontar dari mulut besannya.


"Sudah, Mir. Sekarang jelaskan kenapa kamu memanggil kami kemari? Nggak usah takut sama orang tua angkatmu. Katakan saja. Kalau anak saya memang salah, jangan khawatir, Papi yang akan bertindak," sambung Papi mertua.


Miranda melepaskan diri dari pelukan Mami mertuanya. Dia menyeka airmatanya dan memandang semua yang ada disana kemudian dia menceritakan semuanya.


"Astaga!" ucap orang tua Tomi hampir bersamaan. Orang tua Miranda juga sebenarnya sama kagetnya, tapi mereka terlanjur malu dengan apa yang mereka lakukan.


"Itulah, Mir, kenapa Papi sempat protes, ada pria muda di rumah ini? Ini yang Papi takutkan, Miranda," ucap Papi mertua terdengar memilukan. "Tujuan Papi menikahkan Tomi, karena banyak yang bilang kalau pria seperti Tomi akan sembuh jika menikah. Tapi mungkin itu berlaku bagi yang niat sembuh. Tidak seperti Tomi, malah memperburuk keadaan."


Miranda sungguh tak tega melihat mertuanya saat ini. Jelas sekali mereka sangat kecewa dengan kelakuan anaknya. Sedangkan Tomi, dia juga terbungkam. Sejatinya, dia juga tidak ingin terlahir menjadi manusai seperti ini. Tapi apa mau dikata, hasratnya lebih mendominasi daripada rasa untuk memperbaiki diri.


"Sekarang terserah kamu, Mir. Apa keputusan yang akan kamu ambil. Papi nggak akan menghalangi. Kalau kamu mau melaporkan Tomi ke polisi ya silahkan. Mungkin memang sudah saatnya, aib anak Papi diketahui dunia luar."


Lagi lagi ucapan Papi mertua terdengar menyayat hati. Siapapun orang tuanya juga mungkin enggan berada di posisi seperti mereka. Tapi sayangnya takdir berkata lain, dan itu sangat menyakiti mertua Miranda.


"Nggak! Aku nggak mau bercerai!" tolak Tomi. "Mir, tolong. Kasih aku kesempatan, Mir. Aku tahu aku salah, tapi tolong, kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


"Percuma kamu minta kesempatan, kalau kesempatan itu hanya kamu manfaatkan untuk kebebasan kamu menumpahkan liarnya hasratmu. Aku lelah, Tom. Tiga tahun bersandiwara demi menutupi aibmu, demi menolong orang tua yang ternyata hanya memaanfaatkan aku. Aku lelah, Tom."


"Tidak, Mir, tidak. Aku nggak mau kita bercerai. Oke, kamu boleh selingkuh. Kamu silakan menjalin hubungan dengan Rizal atau siapapun. Tapi, plis, kita jangan cerai."


"Astaga! Kamu sudah gila, nak?" Mami mertua bersuara. "Bisa bisanya kamu berpikiran kayak gitu?"


"Kamu sungguh tidak punya akal sehat, Tom!" hardik Papi mertua. "Ya udah, Mir. Kalau itu sudah keputusan kamu. Papi akan bantu. Maafin Papi, membuat kamu terpenjara dengan pernikahan ini."


"Papi nggak salah. Papi nggak perlu minta maaf. Justru Miranda yang minta maaf sama Papi dan Mami. Karena Miranda gagal membantu Tomi sembuh, Pi."


"Kamu tidak gagal, Sayang. Tomi yang tidak ada keinginan untuk sembuh dan memperbaiki diri."


"Kenapa kalian malah membela Miranda? Hah! Kenapa kalian tidak mendukung anak kalian sendiri? Kalian keterlaluan!" teriak Tomi penuh amarah. Dia langsung beranjak meninggalkan semuanya.


Di ruang tengah, Tomi melihat Rizal dan Sari yang ternyata sedang mendengar semuanya. Dengan penuh amarah dia mendekati Rizal.


"Aku pastikan kamu tidak akan pernah bahagia, karena kamu telah menghancurkan rumah tangga orang lain."


Deg!


...@@@@@...