
"Iqbal!" pekik lembut suara wanita seketika mendiamkan suara tiga pemuda yang sedang tertawa. Mereka serentak menoleh.
"Non Belinda!" pekik Iqbal dengan mata sedikit membelalak. Sementara dua temannya hanya terdiam sembari memperhatikan wanita cantik yang sedang mendekat dan dengan santainya duduk di sebelah Iqbal.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Belinda begitu meletakkan pantatnya d bangku sebelah Iqbal. Bahkan badannya menempel.
"Lagi main, Non. Non Belinda ngapain di sini?" tanya Iqbal.
"Main juga, sama Aleta, tapi dia tuh di sana, lagi beli jajan," terang Belinda dan Iqbal hanya manggut manggut. "Mereka siapa?"
"Oh, ini teman teman aku, Non. Teman dari kampung," jawab Iqbal.
"Wah! Ganteng ganteng banget, kenalin dong, Bal?" rengek Belinda terdengar manja. Bahkan dadanya digesek gesekan ke lengan Iqbal hingga darah pria itu berdesir. Iqbal pun merasa canggung karena kedua temannya menatap Iqbal dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya.
"Ini Rizal dan itu Jamal," ucap Iqbal. Belinda dengan senang hati menjulurkan tangannya.
"Aku Belinda," Jamal dan Rizal pun mengangguk sambil membalas sambutan tangan Belinda sembari mengucap nama masing masing.
"Loh, kok aku nnggak dikenalin sih, Bal?" ucap seorang wanita yang baru saja datang. Wajahnya dibuat cemberut hingga Iqbal merasa tak enak hati.
"Kalau ini Aleta, adiknya Belinda," ucap Iqbal kepada dua temannya. Lagi lagi Rizal dan Jamal berjabat tangan dengan Aleta dan menyebut nama masing masing.
"Senang ya Iqbal, dikelilingi wanita cantik," puji Jamal.
"Cantik apaan, enggak lah, Mas. Iqbal aja nggak suka sama aku, berarti aku nggak cantik," cicit Belinda dengan gaya yang sangat menggemaskan.
"Serius, Mbak? Iqbal nggak suka sama cewek secantik kamu?" tanya Rizal merasa tak percaya.
"Beneran? Iqbal selalu nolak jika aku ngajak kencan? Malah dia sekarang mau maunya tinggal di kost bareng adikku," kini giliran Aleta yang bersikap menggemaskan dengan bibir mengerucut.
Iqbal terbungkam. Dia bingung mau ngomomg apa untuk membela diri. Sedangkan tubuh Aleta dan Belinda benar benar sangat nempel di sisi kanan dan kirinya.
"Kost bareng adik?" tanya Jamal agak kaget.
Sontak saja Jamal dan Rizal matanya membelalak. Mereka ingat dengan apa yang Rizal ceritakan dan sekarang mereka memiliki bukti kalau Iqbal memang direbutin tiga cewek cantik kakak beradik.
"Kalian sudah kenal Karin?" tanya Aleta sesaat setelah mendengar Iqbal bicara.
"Iya, sempat ketemu beberapa waktu yang lalu di Mall," jawab Rizal.
"Tu kan, Iqbal suka gitu deh," rengek Belinda sambil bergelayut manja di lengan Iqbal semakin membuat pemuda itu sesak nafas. "Kenapa Karin dikenalin dengan teman teman kamu yang tampan? Kenapa aku nggak?"
"Iya, Bal. Kamu kenapa nggak adil sih?" ucap Aleta sembari menautkan jari jarinya dengan jari tangan Iqbal. "Padahal kamu kerja yang gaji orang tuaku, tapi kamu selalu saja bikin Karin seneng, sedangkan kita, kamu anggap apa coba? Nggak adil kamu, Bal."
Jamal dan Rizal hanya bisa memandang Iqbal dengan tatapan iri dan juga heran. Iri karena Iqbal diperebutkan oleh tiga wanita dan heran karena Iqbal nampak seperti orang bingung.
"Bukan gitu, Non. Kalian kan tahu, aku ditugasi oleh papih kalian untuk jagain Non Karin," ucap Iqbal membela diri.
"Ya kamu jangan ikutan ngekos kan bisa. Kamu siang jagain Karin, malam jagain aku gitu. Aku bisa loh ngomong Mamih apa Papih buat pecat kamu, tapi kan aku mana tega sama kamu, Bal," ucap Belinda makin bergelayut manja. Otak Iqbal seakan buntu. Di tempat seramai ini, Iqbal tidak bisa berbuat apa apa. Jamal dan Rizal pun tak bisa membantu. Mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.
"Ya bukan kamu aja yang butuh dijaga, aku juga, Bel. Emangnya anak papih kamu sama Karin doang?" protes Aleta. Kemudian dia mengambil ponsel dalam tasnya. "Mumpung lagi ngumpul kita foto bareng ya?"
"Jangan!" teriak Jamal dan Rizal bersamaan hingga membuat Aleta tersentak kaget.
"Loh kenapa melarang? Kan cuma foto doang?" tanya Aleta bingung.
Tentu saja mereka menolak foto bersama. Bisa bisa nanti para wanita mereka malah pada salah paham.
"Kalian nggak suka foto?" tanya Belinda.
Rizal dan Jamal saling pandang, mereka juga menatap Iqbal dengan penuh tanya. Apa yang harus mereka lakukan?
...@@@@@@...