
Siang itu, di lantai paling atas sebuah gedung perkantoran, suasana tegang sedang terjadi di dalam ruang kantor pemilik gedung tersebut. Sang pemilik gedung sedang menahan emosinya yang sedang menghadapi dua saudara sepupunya. Saudara yang terpecah karena keegoisan yang terjadi diantara keluarga mereka.
Salah satu alasan jadi keluarga kaya raya belum menjamin kebahagiaan adalah, karena dalam satu keluarga sudah saling menyinggung masalah harta.
Begitu juga keluarga Gustavo. Mereka terpecah gara gara masalah harta. Bahkan Gustavo yang sudah memilih mengalah dan mencari hartanya sendiri, masih diganggu oleh keluarga saudaranya.
Apalagi jika Gustavo sedang dalam masalah, mereka akan datang bagai malaikat. Dengan mulut manisnya, mereka akan menjilat Gustavo. Tapi jika tidak berhasil mempengaruhi Gustavo, mereka akan menojokkkan Gustavo dan mengungkit segala keburukan pria itu.
Begitu juga seperti saat ini, dua saudaranya datang dengan dalih ingin membantu Gustavo yang sedang bermasalah dengan Sandra, tapi berakhir dengan sindiran yang menyakitkan setelah Gustavo menolak dengan tegas bantuan mereka.
"Sudah tahu anak haram itu pasti akan membawa masalah, kenapa kamu dulu tetap membawanya ke rumah?" cibir saudara Gustavo yang bernama Dery.
"Iya, Kalau kamu nnggak membawa anak itu pulang, pasti kamu dan Sandra akan baik baik saja sampai sekarang. Nggak saling menjatuhkan seperti saat ini," timpal saudara yang lain bernama Alex.
"Ya iyalah, kalian tentu berharap agar aku selalu bersama Sandra. Karena kalian sudah berpikiran, hartaku akan jatuh ke tangan kalian, karena aku tidak memiliki keturunan," jawab Gustavo setenang mungkin. Dia tidak mau meluapkan emosinya meski amarahnya sudah sangat bergemuruh.
"Tapi percuma saja kan kamu punya anak? Yang ada kamu selalu mendapat masalah?" ejek Alex.
"Harusnya dari dulu, Selin kamu buang. Daripada selalu bikin masalah. Kamu sendiri kan yang repot?" sambung Dery. Mereka saling melempar senyum mengejeknya.
"Ya wajarlah, sebagai orang tua direpotin anaknya. Menolong anaknya jika ada masalah. Ya nggak beda jauh sama kalian. Bukankah anak anak kalian juga sangat merepotkan?" ujar Gustavo santai. Tapi kedua saudaranya malah wajahnya terlihat langsung panik. Gustavo menyeringai, dia tahu, kedua saudaranya juga sedang mendapatkankan masalah. Gustavo diam, bukan berarti Gustavo tidak tahu. Dia cuma tidak ingin seperti kedua saudaranya atau saudara yang lain.
Sejak Gustavo seperti diasingkan, dia tidak mau berurusan dengan keluarga besarnya. Apa lagi sejak kedua orang tuanya meninggal, Gustavo sama sekali tidak ada niat mendekati keluarganya. Bagi Gustavo mending memilih darah dagingnya sendiri daripada menuruti keluarga besarnya yang sangat egois.
"Apa maksudmu? Anak kami baik baik saja," balas Dery. Tentu saja Gustavo tahu Dery berbohong.
"Syukurlah kalau anak kalian baik baik saja. Kalian kan, ayah yang sangat menyayangi anaknya. Apa Viktor sudah keluar dari penjara? Terus Delia, apa dia sudah melahirkan? Kapan dia menikah? Kok aku nggak diundang? Tahu tahu keponakanku itu sudah punya anak."
Deg!
"Apa, Pa? Delia sudah punya anak?" Gustavo sedikit terkejut saat mendengar suara anaknya tiba tiba menggema di dalam ruangannnya. Begitu juga Dery dan Alex. Mereka langsung menoleh ke arah Selin berada.
"Loh, kamu disini, Sayang? Sejak kapan?" ucap Gustavo menyambut anaknya dengan bahagia.
"Udah lumayan lama sih," jawab Selin sambil duduk disamping Papanya. Selin sama sekali tidak menyapa suadara ayahnya karena dia tahu tanggapan mereka bagaimana jika Selin menyapa.
"Dasar anak tidak sopan, suka nguping pembicaraan orang," maki Dery.
"Wajarlah Der, namanya juga anak haram," cibir Alex.
"Berarti nasib anaknya Delia sama ya, om? anak haram?" balas Selin tak mau kalah. Alex langsung melotot dan dia hendak memaki Selin tapi Gustavo segera angkat suara.
"Nggak usah menghina anakku lagi. Karena kamu juga akan merasakan sakit hati yang sama saat cucu kamu dikatakan anak haram. Masih mending aku masih mau tanggung jawab. Nah laki laki yang menghamili anak kamu, tanggung jawab enggak?"
Alex langsung terbungkam dengan dada yang naik turun. Omongan telak yang Gustavo layangkan sungguh menghantam harga dirinya.
"Udah, Lex, mending kita pulang, ngapain kita disini," ajak Dery dengan sengit. "Datang dengan niat baik malah hanya dapat penghinaan."
"Kalian memang nggak pernah ngaca dari kesalahan sendiri yah? Kalian yang menghina saya dan anak saya duluan, malah kalian yang emosi, sana pergi! Yang nyuruh kalian datang juga siapa?" hardik Gustavo.
"Awas kamu!"
Mereka lantas segera pergi membawa amarah yang membara. Sedangkan Gustavo dan Selin hanya saling tersenyum penuh kemenangan.
...@@@@@...