TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 152


Masih di siang yang sama, di sebuah rumah makan bernuansa pedesaan, sepasang anak manusia nampak duduk berhadapan di ruang lesesahan dimana ada kolam ikan di bawahnya. Meski berada di tengah kota, tempat itu sepertinya memang sengaja dirancang khusus bernuanasa desa. Dari eksterior dan interior, semua bernuansa salah satu desa dan adat di Pulau Jawa.


Ting!


Sebuah tanda pesan masuk dari salah satu ponsel yang tergeletak di atas meja di hadapan mereka. Di lihat dari gerakannya, ternyata ponsel yang mendapat pesan masuk adalah ponsel si pria karena dilihat dari gerakannya, si pria lah yang mengambil ponsel dan menyalakannya.


"Dari siapa?" tanya si wanita.


"Papa," jawab si pria singkat. Tapi malah membuat si wanita geli mendengarnya. "Kenapa?" tanya si pria merasa aneh dengan senyum si wanita.


"Ya abis enak banget ngomong papa, padahal kan dia bos kamu," gantian si pria yang terkekeh mendengar ucapan si wanita.


"Hehehe ... ya, kali aja kelak dia menjadi papa aku, Non. Karena telah menjaga anak gadisnya luar dan dalam," ucap Jamal santai.


"Siapa juga yang mau menikah dengan kamu, Wlee."


"Non Selin."


"Dihh pede banget."


Jamal pun terkekeh lalu mulai mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya pada Tuan Gustavo. Bersamaan dengan itu makanan yang mereka pesan datang. Mereka mulai bersiap diri hendak menyantap ayam bakar dan nasi serta lauk lainnya sebagai pelengkap.


"Papa tanya apa?" tanya Selin sembari mulai menyantap makanannya dengan tangan.


"Ya biasa nyuruh Non Selin pulang sambil tanya lagi ngapain," balas Jamal. Dia juga melakukan hal yang sama seperti yang Selin lakukan. "Kita pulang ya, Non, kasian Tuan."


"Terus kalau kita pulang, entar kita nggak bisa tidur bareng lagi gimana?"


"Non Selin jangan mikirin hal itu, kan tiap hari kita masih tetap bareng. Yang penting utamakan papa dulu, oke."


"Tapi aku udah terlanjur nyaman tidur sambil meluk kamu, Jamal. Masa aku harus peluk bantal guling lagi."


Jamal pun menghela kasar nafasnya. Kalau sudah begini, dia pun bingung, solusi apa yang harus dia ambil. Sambil berpikir, dia menyantap hidangannya.


Sementara itu di dalam apartemen, Belinda dan Rio masih terlihat dalam pembicaraan yang hangat dan serius.


"Terus sekarang nasib adik kamu gimana?" tanya Rio dengan tatapan lekat ke arah Belinda.


"Jujur sih ya, Bel, kalau aku mungkin harus nyelidikin hubungan mereka. Bisa saja loh adikmu itu hubungannya lebih dari itu," ucap Rio mengutarakan unek uneknya.


"Mana mungkin? Kayaknya Karin nggak akan sampai sejauh itu deh," jawab Belinda ragu.


"Ya mungkin saja, Bel. Pacar aku aja selingkuh dengan supirnya, dan parahnya supirnya adalah teman dari supir adik kamu, kemungkinan besar itu ada, Bel. Apa lagi adik kamu lagi kalut, makin mudah lah dia masuk ke dalam hatinya."


Belinda terdiam, namun pikirannya bekerja dan mencerna perkataan pria di sebelahnya. Dan tak lama kemudian dia pun manggut manggut.


"Kamu waktu tahu pacar kamu selingkuh dengan supirnya, apa yang kamu lakukan?"


"Ya aku minta penjelasan lah, bahkan sampe berkelahi, eh malah aku yang kena skorsing dari kampus," sungut Rio masih dengan menggunakan dusta yang sama untuk meyakinkan wanita di sebelahnya. "Maka itu, Bel, mending kamu selidiki dan nyari bukti. Aku sih yakin, mereka ada hubungan lebih dari sekedar supir dan anak majikan."


Dan ucapan Rio tentu saja sukses membuat Belinda ikut memasang kecurigaan. Belinda pun akan mengikuti saran Rio, menyelidiki Karin dan Jamal. Jika memang mereka terbukti ada hubungan lebih, tentu saja Belinda akan memanfaatkannya untuk mengancam Iqbal agar mau memenuhi keinginannnya terutama tidur bersama.


"Kalau kamu nggak bisa nyari info sendiri, aku ada temen kok yang mau bantu. Asal bayarannya sesuai, gimana?" tawar Rio.


"Boleh lah, ajak dia ketemu sama aku, atur waktunya."


"Sip."


Suasana sejenak hening dalam pikiran masing masing. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi tiap mereka selalu saling melempar senyum.


"Kamu padahal cantik loh, Bel."


"Gombal."


"Serius, udah cantik, seksi. Pasti kamu makin cantik kalau lagi pakai lingerie yang tadi kamu beli yah?"


"Bisa saja kamu Rio."


"Aku ada tuh lingeri baru, niatnya buat kado pacarkku, tapi nggak jadi. Kamu mau mencobanya nggak?"


"Waduh."


@@@@