TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 55 (Rizal)


Sejak kedatangan orang tua Tomi, pasangan Miranda dan Tomi kini merasa gelisah. Meski ini menjadi hal yang biasa mereka dapatkan setiap kali orang tua berkunjung, tetap saja, ucapan dan keinginan mereka selalu menjadi hal yang bisa membuat mereka menggalau.


Memang hal wajar, keingininan setiap orang tua jika anak anaknya sudah menikah, pasti yang ditanya tentang anak. Bagi yang sudah mempunyai anak pasti bangga mengakui walaupun baru punya satu. Tapi bagi pasangan yang belum dikaruniai anak hingga beberapa tahun pernikahan, bukankah pertanyaan seperti itu sangat tidak menenangkan? Di kamarnya masing masing, Tomi dan Miranda merenungi setiap ucapan orang tua Tomi.


Miranda yang rasa kantuknya hilang karena terlalu memikirkan ucapan orang tuanya memilih bangkit. Dia keluar kamar dan menuruni anak tangga. Langkahnya pelan menuju meja makan. Miranda mengembil air minum disana dan setelah itu dia memilih duduk di sofa depan televisi.


Rumah terlihat begitu sepi, mungkin hanya Miranda yang belum tidur saat ini. Miranda memilih membaringkan tubuhnya di sana dan memejamkan matanya. Bukan untuk tidur tapi untuk mencari jalan apa yang harus dia tempuh.


Di saat yang bersamaan, Rizal terbangun dari tidurnya karena tiba tiba ingin ke toilet. Karena sudah tak tahan, Rizal langsung saja ke toilet meski rasa ngantuk masih menyelimutinya.


Hingga beberapa menit kemudian, Rizal nampak keluar toilet dengan perasaan lega. Sebelum kembali ke kamar, Rizal memilih masuk ke dapur mengambil air minum seperti biasanya.


Saat tangannya hendak mengambil gelas, dia melihat ruang tengah depan televisi lampunya menyala. Rizal mengurungkan niatnya mengambil gelas dan beranjak menuju ke ruang tengah untuk mematikan lampu.


Saat langkahnya sampai di ruang yang dia tuju, Rizal dibuat terkejut tatkala matanya menangkap sosok wanita terpejam di sofa. Rizal mendekat dan ternyata itu adalah majikannya.


"Non Miran ngapain tidur disini?" gumam Rizal lirih takut suaranya membangunkan majikannya. Tanpa sepengetahuan Rizal, sebenarnya Miranda mendengarnya karena dia hanya memejamkan matanya saja.


Mata Rizal sontak saja memperhatikan tubuh Miranda yang terlihat sangat memukau. Mungkin itu kebiasaan Miranda jika tidur memakai pakaian tipis. Lagi lagi Rizal dihadapkan dengan pemandangan yang membuat jiwa laki lakinya meronta.


Rizal menatap mata Miranda untuk memastikan kalau sang majikan memang sudah terlelap. Setelah yakin, Rizal sedikit jongkok dan memperhatikan tubuh majikannya lekat lekat. Pakain luar yang menerawang memperlihatkan isinya. Pada bukit kembarnya, Miranda memakai kain kecil yang hanya menutupi pucuknya. Kain itu terikat kuat di leher dan punggung Miranda hingga bukit Miranda terlihat seperti susah bernafas. Rizal hanya bisa menelan ludahnya menatap bukit kembar itu.


"Bukit kembar Non Miranda kenapa indah banget begini sih? Bikin pengin megang dan memijat aja," gumam Rizal. Biar bagaimanapun Rizal tetap laki laki yang bisa berpikir liar.


Pandangan Mata Rizal menyusuri hingga kebagian bawah. Kepala Rizal menggeleng beberapa kali, saat matanya jatuh pada keindahan milik wanita yang hanya ditutupi segitiga bermuda selebar tiga jari berjajar. Tampak dimata Rizal, sisi sisi keindahan tersembunyi itu begitu bersih. Tidak ada bulu yang mencuat. Kaki Miranda yang posisinya membentang karena satu kakinya terkulai di lantai, memudahkan Rizal mengamati keindahan yang seumur hidup baru dia lihat secara nyata. Meski lubangnya tertutup kain, namun bentuknya masih bisa terlihat secara jelas di mata Rizal.


"Ah sial, sepertinya aku harus segera ke toilet lagi." sungutnya karena terus terang saja, melihat pemandangan indah milik Miranda, membuat sesuatu yang membesar di dalam celana Rizal berdenyut tak karuan. Rizal pun bangkit dan segera ke toilet untuk mengeluarkan beban akibat apa yang dia tonton barusan.


"Gila! Tubuh sebagus Nona Miranda kok disia siain Tuan Tomi. Kalau aku jadi Tuan Tomi, aku tidak akan berhenti mandi keringat dengan Non Miranda," ucap Rizal pada diri sendiri di dalam toilet, sambil tangan kanannya bergerak maju mundur memegangi miliknya yang menegang dengan busa sabun agar lebih licin. Semakin liar pemikirannya membayangkan tubuh Miranda, semakin berdenyut miliknya dan semakin ingin dikeluakan.


Tanpa sepengetahuan Rizal, ternyata Miranda tidak tidur sejak tadi. Dia sengaja diam saat tahu ada Rizal datang keruang tengah. Dia pura pura memejamkan matanya. Namun yang terjadi berikutnya malah membuat Miranda bahagia. Entah kenapa dia merasa bahagia saat dia menyadari Rizal yang menatap kagum saat melihat tubuhnya. Baru kali ini, ada pria yang memuji keindahan tubuhnya yang hampir terbuka semuanya. Miranda pun bergumam dalam hati.


"Baiklah Zal, mulai detik ini aku akan memakai pakaian seperti ini jika di rumah, agar kamu bisa menikmatinya."


...@@@@@...