
"Linda!" pekik Rizal.
Ya. Orang yang mengetuk pintu kamar adalah Linda. Pembantu baru nan cantik dan juga seksi. Dimata pria normal seperti Rizal, Linda tergolong wanita yang cantik dengan kulit mulus berwarna putih, bibir sedikit tebal dan terlihat sensual, bulu mata yang lentik serta rambut sebahu dan bergelombang. Badannya juga seksi.
Terpampang jelas di hadapan Rizal, Linda memakai rok super pendek berbahan jeans dan tangtop super ketat yang seakan mempertegas kalau bukit kembarnya besar dan menantang. Bahkan pucuk bukit kembar milik Linda, tercetak jelas menonjol dari balik tangtop putih yang Linda pakai. Area perut dan pinggangnya juga sengaja Linda biarkan terbuka.
Rizal sempat tertegun dan terpana saat matanya menangkap sosok seksi di hadapannnya. Rizal berusaha menahan gejolaknya agar bisa bersikap tenang.
"Iya, ada apa ya, Mbak?" sapa Rizal sembari sedikit maju agak keluar kamar.
"Maaf, aku ngganggu ya, Mas?" tanya Linda basa basi dengan raut wajah nampak dibuat tak enak.
"Nggak kok, mbak, ada apa?" tanya Rizal ramah.
"Cuma pengin ngobrol dan saling kenal aja, Mas," kilah Linda. "Apa aku boleh masuk?"
Rizal tercengang mendengar alasan dan permintaan wanita itu. Rasa aneh pun menyergap dalam pikiran Rizal seketika.
"Masuk? Masuk ke kamar saya?" Linda mengangguk antusias dengan senyum sumringah. "Maaf, Mbak. Nggak bisa. Baru kenal. Kalau mau ngobrol disana saja yuk?"
Senyum Linda seketika surut mendapat penolakan dari Rizal. Dia pun menoleh mengikuti arah jari Rizal menunjuk tempat untuk ngobrol.
"Kan mending di dalam, Mas? Kalau di luar dingin," ucap Linda beralasan sambil mengusap lengannnya seolah olah kedinginan.
"Ya Mbak mending ganti pakaian dulu yang lebih rapat, udah tahu dingin ngapaian pake baju seperti itu, Mbak?" tanya Rizal dan secara tak sengaja pertanyaannya memohok ulu hati Linda sampai dia harus menahan malu.
"Yah, padahal aku sudah bikin kopi tuh buat teman ngobrol di dalam," keluh Linda dengan wajah dibuat sedih. Tentu saja salah satu kopi yang Linda taruh di meja depan kamar Rizal telah dimasukin sesuatu.
"Emang ngopi harus di dalam? Di luar juga bisa, apa lagi kopinya masih panas tuh, pas buat menghangatkan badan," ucap Rizal. Dan dia segera menutup pintu kamar dan mengambil nampan berisi dua kopi yang berbeda. " Yok kita duduk di sana."
Dengan terpaksa Linda pun mengikuti langkah Rizal menuju kursi di belakang rumah. Tapi senyum Linda yang tadinya dipaksakan sekarang malah terlihat lebih sumringah saat mengingat kopi yang Rizal bawa. Senyum liciknya pun terkembang dan berharap obat dalam kopi tersebut bekerja sesuai harapan yang Linda inginkan.
"Loh? Kok kopiku, kamu minum, Mas? Punya kamu yang kopi hitam itu," Rizal sedikit kaget mendengar ucapan Linda yang terdengar kesal.
"Waduh, maaf, aku pikir yang kopi putih buat aku, aku nggak suka kopi hitam soalnya," balas Rizal merasa tak enak hati karena telah lancang meminum kopi milik orang lain tanpa bertanya.
Sedangkan Linda semakin frustasi, rencananya tidak berjalan dengan apa yang dia harapkan. Dia pun memaksakan diri tersenyum dan duduk di kursi lainnya.
"Sekali lagi maaf loh, Mbak, aku nggak tahu," ucap Rizal sembari meletakkan cangkir kopinya di atas meja.
"Iya nggak apa apa, aku juga yang salah, nggak tanya dulu, kamu sukanya kopi apa," balas Linda dengan senyum yang dipaksakan.
"Iya," balas Rizal singkat. Dan mereka pun terdiam. Yang satu bingung mau ngobrol apa, yang satu kesal rencananya gagal jadi dia juga ikutan bingung mau ngobrol apa. Saat keduanya masih berkelana dengan pikiran masing masing, tiba tiba terdengar suara yang mengalihkan perhatian keduanya.
Rizal! Kamu lagi ngapain?" Serentak keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Non Miran!" pekik Rizal terperangah. Terlihat Miranda berkacak pinggang. Dia pun mendekati Rizal dan Linda.
"Kalian lagi pada ngapain malam malam di sini?" tanya Miranda sambil matanya memicing menatap pakaian yang melekat pada tubuh Linda.
"Ini, Non. Mbak Linda yang ngajakin, pengin ngobrol katanya," balas Rizal merasa tak enak hati.
"Iya, Non, saya pengin ngobrol saja," balas Linda gugup.
"Masuk! Kita besok berangkat pagi!" titah Miranda menatap tajam ke arah Rizal.
"Ba-baik," ucap Rizal gugup. Dia segera bangkit meninggalkan dua wanita tersebut. Setelah Rizal pergi, Miranda menatap tajam ke arah Linda kemudian tanpa kata dia juga pergi.
Linda yang juga merasa gugup seketika minum kopi yang sudah dia bubuhi obat perangsang hingga hampir habis tanpa sadar.
...@@@@@...