TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 193


"Sebentar ya, saya ke toilet dulu."


"Oh iya, silakan jeng."


Setelah pamit kepada rekan bisnisnya, Miranda segera beranjak menuju toilet yang ada di caffe tersebut. Mungkin karena masig agak pagi, jadi caffer masih nampak sepi. Begiti juga dengan toilet yang Miranda tuju.


Miranda tidak menyadari kalau tak jauh dari tempatnya, ada seseorang yang mengawasi. Dia pun dengan santainya masuk ke dalam toilet tanpa curiga apapun.


Hingga beberapa saat kemudian seteleh urusannya dengan toilet selesai, Miranda membersihkan tangan sejenak terus dia beranjak menuju pintu. Saat Miranda baru keluar beberapa langkah dari toilet.


Hap!


Mata Miranda membalalak. Ada yang membekap mulutnya dari belakang hingga Miranda lama kelamaan merasa lemas dan akhirnya tak sadarkan diri.


Di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Rizal panik luar biasa saat melihat Miranda masuk ke dalam toilet dan ada seseorang yang mengikutinya. Meski Rizal berada di dalam mobil, tapi dari dalam mobil jelas sekali terlihat keadaan di dalam caffe tersebut. Makanya, Rizal dengan mudah mengetahui Miranda beranjak dan diikuti seseorang.


Rizal terus berpikir, bagaimana keluar dari mobil, sedangkan salah satu komplotan yang mengikutinya berdiri di sebelah pintu mobil, seakan sengaja menahan Rizal agar tidak bisa keluar.


Tapi sayang, Rizal masih punya cara lain. Rizal bergeser ke sisi sebelah dan langsung keluar. Orang yang sedari tadi berdiri disisi yang lain tersentak kaget. Dia langsung berupaya menahan Rizal.


"Eh, Mas permisi, saya mau tanya," ucap Pria itu dengan langkah cepat. Tapi Rizal hanya menoleh dan langsung berlari ke dalam caffe.


"Ah, sial!" umpat orang itu dan dia langsung lari mengejar Rizal masuk ke dalam.


"Mas, lapor polisi! Ada penjahat masuk ke sini!" teriak Rizal pada pelayan caffe sambil lari menuju toilet. Beberapa pengunjung seketika terkejut termasuk pelayan caffe.


Begitu orang yang mengejar Rizal masuk ke caffe, semua mata pengunjung langsung menatap ke arah orang itu. Sontak saja, orang itu menghentikan langkahnya dengan wajah heran dan penuh tanya.


Suasana semakin menegang saat dari dalam area toilet terdengar teriakan dari suara Rizal.


"Berhenti kau! Sialan!" bentak Rizal lantang. Pria yang hendak membopong tubuh Miranda sontak kaget dan mendongak. Dan mata pria itu membelalak saat telapak sepatu yang terpasang di kaki Rizal melayang dan tertuju ke arahnya.


Dak!


Pria itu terpelanting ke belakang karena dadanya kena tendangan Rizal dengan cukup keras. Rizal langsung berlutut dan meraih tubuh Miranda yang sudah pingsan.


"Non Miran! Non ... bangun!" teriak Rizal dengan raut wajah yang sangat panik.


Si penjahat mengerang sambil memegang dadanya berusaha bangkit. Sementara di luar toilet, penjahat lainnya berjalan pelan menuju toilet. Meski dia preman, saat dihadapan dengan tatapan tajam dari pengunjung caffe yang ada sekitar sepuluh orang dan juga dua pelayannya yang terdiri dari pria dan wanita, tentu saja preman itu merasa panik juga.


"Anda mau kemana? Kalau mau numpang ke toilet bukan di sini tempatnya!" ucap pelayan pria. Sontak saja preman itu langsung menatap tajam si pelayan.


"Sial!" umpat si preman. Dia bergegas keluar menuju mobilnya.


"Loh, kok kamu sendirian? Bejo mana?" tanya rekannya yang sedari tadi menunggu di toilet.


"Kita kepergok, aku kecolongan, sial!" umpatnya dengan geram.


"Waduh, gawat! Terus ini kita gimana?"


Bukan hanya mereka yang panik, rekannya pun sedang merasakan panik yang sama di dalam toilet. Preman yang akrab di panggil Bejo itu berusaha bangkit. Namun sayang, sebelum badannya tegap berdiri, lagi lagi Bejo dikejutkan lagi dengan telapak sepatu yang melayang.


Dak!


"Aakh!"


Rizal menatap tajam preman yang kembali terkapar. Dadanya naik turun, amarahnya membuncah. Dibiarkannya Miranda yang belum sadarkan diri tergeletak di lantai.


"Berdiri kau, sialan!" teriak Rizal lantang. Amarahnya berkilat kilat dari bola matanya.


Sementara para pengunjung yang mendengar teriakan Rizal langsung berhambur masuk ke dalam toilet.


"Jeng Miran!" pekik rekan bisnis Miranda yang ada diantara tamu tersebut. Mereka langsung berkerumun menolong wanita itu.


"Mari kita angkat sama sama, bawa ke kamar karyawan saja. Itu di sebelah sana," ucap pelayan wanita sambil menunjuk ruangan paling ujung.


Sementara sang preman kembali berusaha berdiri. Rizal yang amarahnya sudah memuncak langsung menyerang dengan tendangan memutar.


"Kyaaaaat!"


Dak!


Kaki Rizal tepat mengenai pipi sang preman hingga dia terhuyung membentur tembok dan kembali terjerembab ke lantai.


Melihat preman yang sepertinya tidak bisa berkurik, Rizal segera berjalan cepat menuju ke tempat Miranda berada.


"Tolong, Mas, kamu ikat preman itu! Agar dia tidak lari, aku yakin, itu preman suruhan orang," pinta Rizal kepada pelayan laki laki.


"Baik, Mas."


...@@@@@...