TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 253 (Rizal)


Tak terasa malam beranjak menuju larut. Karena terlalu asyik ngobrol dengan dua sahabatnya, Rizal seolah olah lupa kalau dia sedang ada masalah yang harus dia pertanggung jawabkan kepada orang tuanya.


Karena salah satu sahabatnya harus kembali ke rumah sakit, dengan terpaksa obrolan mereka harus berakhir dan mereka bertiga membubarkan diri dengan membuat kesepakatan untuk bertemu lagi dan saling berbagi cerita.


Sama seperti yang Iqbal lakukan, Rizal juga memakai jasa ojeg untuk mengantarnya pulang. Kurang dari sepuluh menit, ojeg yang mengantarkan Rizal sampai di depan rumahnya.


Jangan ditanya, perasaan Rizal saat ini bagaimana. Yang pasti saat ini, dia tidak tenang dan sangat was was. Ada rasa takut juga dalam benaknya. Semakin langkah kakinya mendekati pintu rumah, perasaan tak enak semakin menyeruak dan nafasnya terasa semakin sesak.


Saat Rizal datang, rumahnya sudah dalam keadaan gelap. Dengan hati yang dibuat semantap mungkin, dia memberanikan diri untuk mengettuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


Pintu diketuk dan tak lupa juga mulutnya mengucap salam sambil memangil orang orang yang ada di dalam rumah. Cukup lama Rizal melakukan hal itu, hingga akhirnya dia melihat lampu ruang depan menyala. Tak lama setelah itu, pintu pun terbuka.


"Bu," panggil Rizal pelan. Ternyata sang ibu yang membukakan pintu. Bukannnya mendapat sambutan hangat atas kepulangan anaknya, tapi Ibu malah bersikap sangat dingin kepada Rizal. Bahkan Ibu hanya menjawab salam dari hati lalu berpaling meninggalkan sang anak yang mematung di depan pintu.


Rizal menghembus kasar nafasnya, kemudian dia masuk dan duduk di kursi yang biasa digunakan untuk menerima tamu. Rizal melongok ke dalam, berharap sang Ibu kembali lagi karena Rizal yakin sang ibu sedang menuju dapur.


Benar saja, ibu kembali menuju tempat Rizal berada dengan membawa segelas teh manis hangat. Rizal berharap Ibunya akan duduk dan mengajaknya ngobrol, tapi yang Rizal dapatkan justru sang ibu hanya meletakkan gelas berisi teh hangat di atas meja kemudian dia pergi lagi meninggalkan Rizal yang terpaku menatap nanar ibunya.


Rizal tahu betul, Ibunya sedang sangat marah. Sambutan hangat yang Rizal inginkan, hanya tinggal impian semata. Ibu berlalu meninggalkannya.


Rizal mendengar suara Ibu memanggil kakaknya. Dan tak lama kemudian kakak Rizal datang menyapanya.


"Kapan datang, Zal?" tanya Andini, kakak Rizal. Dia lantas duduk di hadapan adiknya.


"Baru saja, Mbak," jawab Rizal singkat. Dia tahu kakaknya juga sedang marah sama dia. Sikapnya juga agak dingin. Rizal semakin merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada orang tuanya. Larut dalam kenikmatan dunia, membuat Rizal lupa kalau ada orang yang akan kecewa karena perbuatannya. Meski sepenuhnya buka salah Rizal.


"Kirain nggak berani pulang," sindir Andini. Rizal hanya tersenyum kecut. "Istirahatlah, kamar sudah di beresin."


Rizal terdiam, suasana hati kakaknya juga sedang tidak baik baik saja. Maka itu, Rizal memilih memendam pertanyaan yang sangat ingin dia lemparkan.


"Yah, seperti yang kamu lihat. Semuanya sehat," jawab Andini, sikapnya masih agak kaku dan terasa dingin.


"Syukurlah, Mbak. Ibu tidur lagi apa yah?"


"Mana mungkin Ibu bisa tidur, kayak nggak tahu ibu aja kamu, Zal."


Rizal kembali tersemyum kecut. Dia tahu sang ibu tidak akan bisa tidur nyenyak jika ada masalah yang menimpa keluarganya. Ibu pasti akan sangat memikirkannya. Apalagi masalah anak anaknya.


"Ibu pasti sangat kecewa banget sama aku ya, Mbak," akhirnya ada jalan untuk Rizal menunjukkan rasa penyesalannya.


"Bukan hanya Ibu yang kecewa. Bapak dan Mbak juga. Bahkan pihak agen juga sangat menyayangkan perbuatan kamu, Zal," Andini sebenarnya sangat ingin memarahi sang adik saat itu, tapi dia tahu, kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah dengan mudah. Jadi Andini memilih bersikap tenang menghadapi adiknya.


"Pihak agen, Mbak? Maksudnya?" tanya Rizal dengan kening berkerut. Dia mengerti kenapa agen disebut sebut dalam masalah ini.


"Iya, mereka sangat menyayangkan perbuatan kamu. Mereka bahkan sampai diancam majikan kamu akan membuat agen itu ditutup. Padahal sudah jelas jelas kamu yang salah, tapi malah usaha orang lain ikutan kena imbasnya juga."


Rizal sangat terkejut mendengar kenyataan dari mulut Kakaknya. Dia tidak menyangka ternyata Tomi bisa sampai berbuat sejauh itu.


"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, Zal?" tanya Andini. Pelan tapi terdengar menusuk.


"Maksud, Mbak?" tanya Rizal dengan raut wajah terlihat bingung.


"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan terus menjalani hubungan terlarang kalian atau akan segera mengakhirinya?"


Deg!


...@@@@@...