
"Non! Non Miran!"
"Iya, aku di depan!"
Seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun dengan muka kusut karena bangun tidur, teriak-teriak mencari seorang wanita yang tidak kelihatan wujudnya saat dia membuka matanya.
Dialah Rizal. Langkahnya gontai menuju ruang depan dimana Miranda berada. Begitu menemukan sosok yang dicari, Rizal langsung merebahkan badannya dengan kepala di atas pangkuan Miranda.
"Kok aku ditinggalin?" tanya Rizal manja dengan suara berat. Matanya sedikit terpejam karena masih ada sedikit rasa kantuk yang hinggap.
"Siapa yang ninggalin? Orang aku cuma duduk di sini," balas Miranda sambil mengusap kepala Rizal.
"Kirain ikutan tidur?"
"Aku nggak ngantuk, Sayang. Jadi mending aku ngecek pekerjaanku." balas Miranda sambil melihat ponselnya kembali. Sedangkan Rizal memilih diam dengan mata terpejam menikmati usapan lembut tangan kiri Miranda.
"Kok Non Miran pake baju?" protes Rizal setelah diam beberapa saat.
"Kan tadi kamu tidur, Zal. Jadi ya aku mending pake baju dulu."
Di saat bersamaan, mereka mendengar bel rumah berbunyi. Miranda pun menyingkirkan kepala Rizal karena mungkin yang datang adalah pesanan makanan.
Benar saja, begitu gerbang dibuka, pengantar makanan sudah berdiri disana. Setelah melakukan transaksi, Miranda kembali masuk.
"Makan dulu yuk, Zal? Makanan udah datang ini," ajak Miranda saat masuk kedalam dan melangkah menuju Rizal berbaring.
Dengan malas, Rizal bangkit dan mengulurkan tangan minta digandeng. Miranda tersenyum sembari menggeleng kepalanya kemudian dia menyambut tangan Rizal dan menariknya berdiri lalu mereka melangkah menuju meja makan.
"Suapin?" pinta Rizal begitu dia duduk dikursi yang berada di sana.
"Astaga! manja banget sih?" ucap Miranda heran. Rizal hanya tersenyum tipis dan Miranda menurutinya.
"Ini Villa ada yang jaga apa, Non?" tanya Rizal sambil menerima suapan makanan dari sendok ditangan Miranda.
"Ada, kenapa?"
"Kok dari kemarin nggak kelihatan?"
"Karena disini ada orang. Jadi nggak ada yang kesini, Penjaga kesini tuh tiga hari sekali buat bersih-bersih."
"Mumpung masih disini, kamu nggak pengin jalan kemana gitu, Zal?" tawar Miranda sembari membuka makanan lainnya.
"Kemana yah? Penginnya nyodok Non Miran di tepi pantai, kayaknya seru."
"Astaga! Pikiranmu buas amat sih, Zal? Pasti selama nggak ada cewek, kamu sering bayangin enak-enak dimanapun?" terka Miranda.
"Iyalah, Non. Lagian mana berani dulu ngajak cewek. Ini aja mau sama Non Miran karena keadaan mendukung." balas Rizal jujur.
Miranda terkekeh sejenak mendengarnya. Entah kenapa sejak Rizal berhubungan dengannya, pemuda itu terkesan manja, baik dalam sikap ataupun ucapan. Padahal sebelum kejadian perang bibir, Rizal terlihat gagah dan berwibawa.
Miranda memaklumi, mungkin Rizal bersikap seperti itu hanya kepada wanita tertentu saja. Apa lagi dia tidak pernah pacaran, jadi Rizal bersikap manja dengan Miranda karena merasa nyaman.
"Zal, seandainya nih, ya. Jika suatu saat ada wanita lain yang pasrah di hadapan kamu, kamu mau nggak?"
"Tergantung keadaan, Non."
"Kok tergantung keadaan?"
"Ya iyalah. Jika aku masih bekerja dengan Non Miran maka aku akan menolaknya. Jika aku sudah tidak bekerja maka aku mau. Terus jika aku minta ijin ke Non Miran dan Non Miran ngijinin, ya aku mau. Jika keadaan terdesak, ya aku mau."
Miranda ternganga tak percaya mendengar jawaban yang dilontarkan Rizal. Bisa bisanya Rizal menyimpulkan seperti itu. Sedangkan Rizal, dia hanya cengengesan sambil menaik turunkan alisnya beberapa kali.
"Astaga! Mikirnya detail banget," ucap Miranda tak percaya.
"Non, Non Miran buka baju lah. Aku pengin makan lubang Non," pinta Rizal tiba-tiba.
"Nanti lah, orang baru selesai makan juga," tolak Miranda sambil membereskan bungkus makanan dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
Namun Rizal tetap memaksa. Dia bahkan yang membuka rok Miranda dan segitiga bermuda. Setelah itu Rizal mengangkat tubuh Miranda duduk di atas meja makan dan membentangkan kedua kakinya lebar-lebar. Rizal menyeret Kursi dan menempatkannya di depan Miranda berada. Rizal duduk di kursi tersebut dan tanganya mulai mengusap lembut lembah nikmat Miranda.
Miranda terus memperhatikan gerakan Rizal. Senyumnya terkembang. Dia merasa bahagia diperlakukan lembut oleh pemuda di depannya.
Miranda mulai merintih nikmat saat bibir Rizal mulai mncium bertubi-tubi lembah nikmatnya. Rintihan nikmat itu semakin menggema saat lidah dan jari Rizal juga bermain bersamaan di daerah sana. Perlakuan Rizal sungguh membuat Miranda terasa terbang melayang tanpa beban.
"Nikmat banget, Zal," racaunya.
...@@@@@...