TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 180


"Non Selin, akhirnya Non Selin pulang juga."


"Hheheh ... Mbok Sum."


Dua wanita itu saling berpelukan satu sama lain. Dua wanita yang saling menyayangi meski tidak ada ikatan darah diantara mereka. Tapi ada ikatan yang kuat, yang terjalin karena hubungan mereka yang terjalin cukup lama.


Mbok Sum. Sosok wanita hangat yang selalu menjadi tempat keluh kesah Selin sejak Sandra berubah sikapnya. Sejak Sandra sering mengabaikan Selin karena sakit hati yang Gustavo torehkan. Sejak itu pula, Selin kehilangan kasih sayang seorang ibu.


Meski Sandra tidak pernah kasar, bahkan sering bersikap lembut pada Selin, nyatanya anak sekecil Selin merasakan kasih sayang Sandra sudah berubah. Kehangatan Sandra seperti kehangatan pura pura agar tidak melukai gadis kecil itu. Tapi nyatanya Selin kecil terlalu peka akan perubahan sikap mamanya.


Dari sanalah, Selin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mbok Sum. Lebih sering menangis dalam dekapan Mbok Sum dan lebih sering terlelap sambil memeluk Mbok Sum. Bahkan jika Mbok Sum pulang kampung, Selin sering memaksa ikut karena dia tidak mau ditinggal sendirian.


"Non Selin tega banget sih sama Mbok? Mbok ditinggal sendirian disini? Mbok jadi kesepian," rajuk wanita paru baya itu dengan nada bergetar. Tak terasa, ada bulir bening yang menetes dari sudut matanya.


"Maaf Mbok Maaf, tapi kan sekarang Selin sudah pulang, Mbok nggak sendirian lagi dong," balas Selin berusaha menghibur wanita tersebut.


Sedangkan Jamal, hanya bisa mengulas senyum sambil memandang dua wanita beda usia itu saling melepas rindu.


"Papa belum pulang ya, Mbok? Kok mobilnya belum kelihatan?" tanya Selin begitu pelukannya terlepas.


"Sebentar lagi mungkin. Lebih baik kita masuk. Mbok sudah masakin makanan kesukaan Non Selin," ajak Mbok Sum.


"Benarkah?" Mbok sum langsung mengangguk dengan antusias. "Baikah, ayo."


Mereka pun melangkah sambil mengobrol saling berbagi cerita. Jamal hanya terdiam dan mengikuti kedua wanita itu dengan dua tangan yang menenteng tas yang lumayan besar.


Sementara itu dari dalam sebuah gedung perkantoran, Gustavo yang nampak sedang bersiap diri mau pulang, dikejutkan dengan datangnya wanita yang sangat tidak diharapkan. Rasa bahagia karena sang anak mengabari kalau dia sudah ada di rumah berubah menjadi rasa muak akibat datangnya wanita yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya.


"Ada apa lagi kamu datang kesini, hum? Mau buat kekacauan lagi?" tanya Gustavo ketus. Sungguh dia sudah tidak lagi bisa bersikap lembut pada wanita bernama Sandra.


"Cih, emang apa yang akan kamu kasih tahu? sangat penting apa gimana? Sampai kamu seperti tidak punya malu datang kesini?" tanya Gustavo sarkas.


Tapi bagi Sandra itu bukan sesuatu yang baru mendengar Gustavo berbicara sekasar itu. Dia mengambil ponselnya, mencari sesiatu dan menunjukkannya pada Gustavo.


Kening Gustavo berkerut, di tatapnya lekat lekat sesuatu yang ditunjukan Sandra. Tapi tak lama kemudian senyum sinis Gustavo tunjukkan pada wanita yang sedang duduk santai di kursi depan meja kerja Gustavo.


"Kamu masih mengharapkan Jamal? Astaga! Hahaha ..." tawa mengejek Gustavo pecah dan menggema di ruang kerjanya.


"Tidak," kilah Sandra dengan santainya. Jelas sekali dia berbohong.


"Terus, tujuan kamu apa, nunjukin foto begituan? Apa hubungannya dengan saya?" cecar Gustavo masih dengan suara tawa yang hampir surut.


"Saya hanya ingin kamu jauhkan Selin dari pria seperti Jamal. Lihat, di depan umum saja dia berani bermesraan dengan wanita lain, coba kalau Selin tahu, dia pasti malu dan sakit hati," terang Sandra penuh percaya diri. Melihat Gustavo yang terdiam dan nampak sedang berpikir, membuat senyum tipis tersungging dari bibir wanita itu.


"Hahaha ..." Lagi lagi tawa Gustavo pecah dan hal itu sukses membuat Sandra terkejut bukan main. Dari suara tawanya jelas sekali kalau dugaan Sandra melenceng jauh dari apa yang dia harapkan.


"Hahaha ... kamu itu lucu sekali Sandra, hahaha ..." tawa Gustavo sontak saja membuat Sandra kesal. "Aku tuh kayak sedang nonton film kartun, melihat tingkahmu seperti itu, San."


"Apa maksud kamu?" tanya Sandra berang. Kini yang ada malah Sandra yang emosi. Selain karena ejekan Gustavo, dia juga emosi karena lagi lagi misinya gagal.


"Kamu tidak tahu maksud aku apa? Kamu pikirkan aja sendiri, hahaha ..."


Emosi Sandra semakin memuncak. Dengan kesal, dia segera beranjak meninggalkan ruangan Gustavo.


"Aku harus bisa dapatkan Jamal, bagaimanapun caranya, harus! Aku tidak terima dipermalukan seperti ini. Sial!"


...@@@@@@...