
Layar besar dalam sebuah bioskop masih menayangkan Film horor. Harusnya film itu menakutkan, tapi tidak bagi dua orang yang duduk di kursi barisan tepi atas agak kebelakang sekitar lima baris dari kursi paling ujung. Mata mereka menatap layar lebar namun pikiran keduanya terkenang dengan kejadian yang baru saja terjadi diantara keduanya.
Bagi Miranda soal bibir yang beradu mungkin adalah hal yang biasa dan dia memang pernah melakukannya saat masih sekolah dan kuliah dulu.
Tapi bagi Rizal, ini yang pertama. Dia tidak menyangka kalau kejadian ini akan terjadi. Meski dia tadi terdiam karena syok dengan kejutan yang Miranda berikan, namun dia masih merasa seakan bibir Miranda terus menempel di bibirnya.
Miranda menoleh memandang wajah Rizal yang fokus menatap layar lebar. Bibir Miranda mengulum senyum. Kemudian dia kembali membenamkan wajahnya dibalik bahu Rizal.
Rizal menoleh, "Non Miran masih takut? Kalau takut mending kita pulang?"
Miranda mendongak kemudian menggeleng. "Nanti lah, kamu lanjutan aja nontonnya."
"Loh? Tadi kan yang ngajakin nonton Non Miran?" balas Rizal heran namun Miranda hanya tersenyum lebar.
Entah kenapa Miranda sangat menikmati pergi berdua dengan Rizal. Bahkan dia enggan pulang. Mungkin karena efek sudah lama tidak jalan berdua dengan laki laki, jadi Miranda bersikap seperti ini.
Rizal pun kembali melanjutkan nonton filmnya dan membiarkan majikannya bergelayut manja di lengan kekarnya. Rizal berpikir, mungkin Miranda capek.
Tak lama kemudian, Film pun usai. Mereka segera keluar gedung bioskop yang masih berada salam satu Mall. Sebelum mengambil barang belanjaan yang di titipkan, Miranda mengajak Rizal untuk makan terlebih dahulu di dalam Mall tersebut.
Kini keduanya berada di salah satu kuliner yang ada di dalam Mall. Mereka menikmati hidangan yang ada sambil berbagi cerita serta tawa. Rizal dan Miranda lebih terlihat seperti sepasang kekasih daripada sepasang majikan dan supirnya.
Setelah perut terasa kenyang, Mereka pun segera beranjak keluar dari Mall setelah tadi sempat mampir sebentar mengambil barang belanjaan di tempat penitipan barang.
"Kita jalan jalan lagi ya?" pinta Miranda begitu mereka duduk bersebelahan di dalam mobil.
"Non Miran nggak capek?" tanya Rizal dan Miranda menggeleng. "Ya udah kita kemana?"
"Jalan aja dulu, entar aku mikir sambil jalan." balas Miranda dan Rizal hanya mengulas senyum gemas tapi dia menuruti perintah majikannya.
Tiba tiba Miranda teringat sebuah taman yang ada danau buatannya. Dia langsung memberi tahu Rizal dan tentu saja Rizal langsung melajukan mobilnya ke arah yang di tuju sesuai petunjuk Miranda.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, mobil pun sampai di tempat tujuan. Mereka segera turun dan mencari tempat yang nyaman buat duduk. Miranda mendekati seorang nenek yang menyediakan jasa sewa tiker. Miranda bukannya menyewa namun membeli satu tiker itu. Awalnya sang nenek menolak tapi dengan bujuk rayu yang Miranda keluarkan, akhirnya sang nenek luluh. Bahkan nenek semakin senang saat Miranda member uang lebih. Rizal hanya terdiam dengan senyum yang mengembang melihat semuanya.
Mereka pun memilih tempat yang tidak terlalu ramai dan menggelar tikar buat duduk santai. Rizal mengedarkan pandangannya dan nyatanya tempat ini lumayan bagus. Mungkin karena sudah agak malam jadi tempat ini tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang bergerombol atau berdua dengan pasangan.
Rizal memilih langsung duduk sedangkan Miranda sedang menikmati udara malam sembari berdiri dan melakukan peregangan tangan dan badan guna mengurangi rasa lelah.
"Non Miran sering kesini?" Tanya Rizal sambil berbaring dengan salah satu tangan sebagai bantalnya.
Miranda menoleh dan mendekat terus duduk di sebelah Rizal. "Nggak juga, paling kalau lagi ada temen temen aja iseng kesini."
Rizal manggut manggut sembari matanya menatap bintang yang bertebaran di langit. Melihat satu lengan Rizal tergeletak lurus menyamping, Miranda seketika membaringkan badannya dan menjadikan lengan Rizal bantalnya. Sontak saja Rizal kaget. Dia jadi lupa mau mengatakan apa dan memilih menoleh menatap Miranda.
"Kenapa?" tanya Miranda sambil membalas tatapan Rizal. pria itu pun menggeleng dan kembali menatap langit.
Miranda pun tersenyum kemudian dia bergeser dan memeluk pinggang Rizal.
"Non!" pekik Rizal kaget.
"Biarkan aku seperti ini, Zal. Biarkan aku tenang sebentar," pinta Miranda setelah menaruh kepala di dada bidang sang supir.
Dan jantung Rizal pun berdegup sangat kencang.
...@@@@@...