
Pagi di tempat berbeda, tepatnya di kediaman pasangan suami istri, Tomi dan Miranda. Ada sesuatu yang nampak berbeda di meja makan. Diantara dua orang pemilik rumah itu sedari tadi turun dari kamar masing masing dan duduk di meja makan, hanya ada keheningan yang tercipta. Meski dalam diam mereka, ada rasa bahagia versi pikiran masing masing.
Miranda bahagia karena semalam berhasil bermain dua ronde bersama Rizal dengan aman tanpa hambatan apapun. Keresahan yang awalnya menyelimuti mereka menjadi kepuasan yang membahagiakan, karena sang majikan pria sudah dipastikan tidak akan pulang pada malam itu. Terbukti, Tomi baru pulang jam enam pagi.
Dan Tomi pulang pagi hari juga karena diliputi kebahagiaan versi dirinya. Selain puas berbagi keringat dengan Rio, Tomi juga dapat kenalan pria super keren dengan tato yang hampir memenuhi badannya. Namanya Candra, orang yang akan memantau kegiatan Miranda dan juga Rizal mulai hari ini.
Sekarang yang jadi pikiran Tomi bukan hanya kecurigaanya kepada Miranda, tapi dia juga berpikir tentang cara menaklukan Candra. Ada yang meronta dalam hatinya saat semalam dia ngobrol dengan Candra di apartemen Rio. Dia bahkan seakan tidak rela saat Candra pamit karena ada tugas pribadi yang harus dia kerjaan.
Menurut info yang Tomi dapat dari Rio. Pekerjaan Candra adalah menjadi teman kencan tante kesepian. Mendengar hal seperti itu, pikiran Tomi sudah melanglang buana kemana mana. Terutama khayalannya bisa bermesraan dengan pria bartato tersebut.
Selain Candra, Tomi juga tidak melupakan Rizal begitu saja. Obsesinya yang ingin tidur dengan Rizal, juga masih menggebu dalam jiwanya yang meronta. Apalagi tiap pagi, Rizal selalu pakai kaos tanpa lengan yang sangat longgar, membuat pikiran Tomi kemana mana dibuatnya.
"Mir?" panggil Tomi tiba tiba.
"Hum," jawab Miranda acuh. Dia sibuk dengan hidangan di depan matanya.
"Maaf soal kemarin, aku terlalu terbawa suasana" Miranda sedikit terhenyak mendengar permintaan maaf Tomi. Dia sejenak melayangkan pandangannya ke arah pria yang menjadi suaminya.
"Tak masalah, aku juga sudah melupakannya," jawab Miranda sembari meneruskan sarapannya.
"Kemarin aku terlalu implusif, hanya gara gara kesalahan orang lain, aku jadi ikutan mikir yang nggak nggak tentang kamu dan Rizal," Sontak kening Miranda berkerut mendengar penuturan Rizal.
"Kesalahan orang lain? Kesalahan siapa?" tanya Miranda dengan kening berkerut. Tapi pertanyaan tersebut sukses membuat Tomi terkesiap. Dia tidak sadar telah mengatakan sesuatu yang mungkin saja bisa membuat Miranda curiga.
"Kesalahan teman. Katanya istrinya selingkuh dengan supirnya. Aku jadi kepikiran sampai kesitu. Aku takut, kamu melakukannya juga," ucap Tomi. Tentu saja itu hanya dusta. Dia hanya ingin memanfaatkan keadaan jika Miranda dan Rizal benar benar selingkuh.
"Maksud kamu? Berarti kamu beneran selingkuh?" balas Tomi dengan tatapan yang sudah mulai menyalakan amarahnya.
"Aneh kamu, Tom. Emang kamu nggak merasa salah gitu? Sejak kita nikah, kamu nggak pernah menyentuhku, aku tak di beri nafkah batin. Terus kalau aku selingkuh, kenapa kamu nggak terima?" Tomi ternganga. Kali ini Miranda mengucapkan kata kata yang sudah pasti Tomi tidak mampu menjawabnya.
"Mir, sudahlah, kita baru saja saling minta maaf, tapi kamu malah mengungkit kembali hal itu."
"Karena kamu terlalu egois, Tom!" kini ucapan Miranda sedikit naik. Bahkan Tomi dibuat terkejut kembali. "Kamu hanya mementingkan kepuasan kamu tanpa mikirin orang di sekitar kamu."
Setelah mengucapkan kata yang lumayan monohok, lantas Miranda segera beranjak meninggalkan Tomi yang tertohok dengan ucapan Miranda.
"Ah sial!" umpat Tomi begitu Miranda lenyap dari pandangan.
Hingga waktu beranjak sedikit siang, Miranda kini sudah dalam satu mobil dengan Rizal. Sepanjang perjalanan, Rizal memperhatikan kegelisahan wanita di sebelahnya. Rizal tentu saja tahu kalau pagi tadi terjadi keributan lagi. Rizal ingin bertanya tapi merasa tak enak karena sejak berangkat, Miranda lebih banyak terdiam.
Hingga ketika mobil Rizal melewati tikungan, Rizal melihat gerak gerik aneh dari sebuah motor yang ada di belakang kanannya. Padahal jalan tak begitu ramai, tapi motor itu sama sekali tidak menambah kecepatannya. Rizal berinisiatif mencoba jalur lain. Dia terkejut karena motor itu masih mengikutinya. Rizal kembali mencoba jalur lain, dan seperti yang Rizal duga, motor itu juga masih mengikutinya.
"Kamu kenapa sih, Zal? Kok kita lewat jalan ini?" tanya Miranda saat dia sadar jalan yang dia lalui berbeda.
"Ada yang ngikutin kita di belakang, Non."
"Hah!"
...@@@@@@...