TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 258 (Jamal)


"Mal."


"Hum? Apa, Mak?"


"Kapan kamu akan melamar anak majikanmu?"


Mata Jamal membelalak. "Emak serius?"


"Apa kamu akan terus terusan berbuat zina? Kalau kalian pisah, makin kasian masa depan anak majikan kamu. Kamu yang merusaknya, Mal, jangan sampai pria lain yang mendapat bekasnya, kasian dia nantinya."


Jamal langsung menggenggam tangan Emak dan menciumi punggung tangan wanita yang melahirkannya. "Makasih, Mak. Dan maafin Jamal juga kalau jalan Jamal malah salah seperti ini," ucap Jamal antara bahagia dan sesal melebur jadi satu.


"Terus kapan rencana kamu mau melamar anak majikan kamu?" tanya Emak. Sengaja dia tidak menimpali permintaan maaf anaknya. Bagi Emak, memaafkan anaknya tidak harus memakai kata kata, tapi cukup menunjukan sikap dan perbuatan yang menandakan kalau Emak sudah memaafkan anaknya.


"Nunggu Emak sembuh dulu, nanti setelah Emak sembuh, baru kita bicarakan soal rencana Jamal," ucap Jamal bijak. "Sudah sangat malam, mending Emak tidur lagi. Besok kalau pemeriksaan dokter hasilnya udah membaik, Emak bisa pulang."


Emak hanya mengangguk. Kemudian dia berbaring menuruti saran anaknya. Hati Jamal merasa lega dan menghangat. Setidaknya, satu masalah sudah selesai. Beban beratnya seakan berkurang.


Tak lama kemudian Emak pun terlelap. Jamal tersenyum simpul menatap wajah tua sang ibu. "Makasih, Mak. Makasih," tak terasa Jamal meneteskan air matanya.


Waktu terus bergerak maju dan pagi kini telah menjelang. Dengan telaten Jamal merawat Emaknya di rumah sakit. Mulai dari mengantar ko toilet sampai memenuhi segala permintaan Emaknya.


Sekarang Jamal bisa dibilang sudah sedikit bangga. Dia bisa membantu biaya rumah sakit sekaligus memenuhi permintaan Emak tanpa harus mengeluh tidak punya uang. Meski hanya permintaan permintaan kecil, Jamal sangat bangga bisa mengabulkan buat Emaknya.


"Adikmu minta motor, kamu bakal kabulin juga, Mal?" tanya Emak disela menikmati bubur ayam yang Jamal beli.


"Iyalah, Mak. Lagian kita butuh juga. Kalau di rumah ada motor kan mending, Mak," jawab Jamal. Dia juga sedang menikmati bubur ayam.


Emak tak lagi protes. Ada rasa senang dengan dalam hati Emak. Jamal dari dulu memang selalu pengertian. Apalagi kalau sudah menyangkut dengan adiknya, Jamal akan selalu mengalah, tidak mau membebani orang tua terlalu berat.


"Apa kamu sudah kasih kabar keluarga majikan kamu, Mal?"


Emak tersenyum. Dimata Emak, Jamal tidak pernah terlihat sangat bahagia seperti itu. Meskipun salah jalan, tapi Emak bisa melihat anak pertamanya sedang dilanda cinta. Emak memang tidak pernah melihat Jamal pacaran, Maka itu Emak sangat terkejut saat mendengar Jamal tidur dengan anak majikannya. Seumur hidup jadi orang tuanya Jamal, Emak sama sekali belum pernah lihat Jamal berbuat melebihi batas. Bahkan Emak juga tahu, dua teman akrabnya Jamal juga mengalami nasib yang sama. Tapi sekalinya Jamal dekat dengan perempuan, malah kebablasan, sampai Emak masuk rumah sakit.


"Kok nggak dihabisin buburnya, Mak?" tanya Jamal saat melihat Emak menaruh sterofom berisi bubur yang tinggal separuh.


"Kenyang, Mal. Buat nanti aja lagi."


Jamal hanya bisa pasrah, lalu dia membereskan sampah dan yang lainnya. Menjelang siang, dokter datang untuk memeriksa keadaan Emak. Kata dokter, Emak sudah lebih baik dan diijinkan pulang. Jamal langsung mengiyakan. Tak lupa juga, Jamal mengucap kata terima kasih.


Jamal segera menghubungi adiknya. Ternyata adiknya sedang sekolah, jadi memilih menunggu saja. Namun tak lama kemudian Bapak datang. Setelah memberi tahu Bapak, Jamal bergegas melunasi pembayaran rumah sakit, dan Bapak membereskan semua barang bawaan.


Untuk saat ini, mereka masih menggunakan jasa ojeg untuk pulang. Sesampainya di rumah, Emak sudah di sambut beberapa tetangga. Para tetangga senang melihat Emak sudah sehat kembali.


Disaat tamu sudah mulai pulang, Emak memilih istirahat di kamarnya. Kini hanya tinggal Bapak dan Jamal yang sedang duduk berdua di kursi tamu.


"Sepertinya, Emak sudah nggak marah lagi sama kamu, Mal," ucap Bapak setelah sejenak mereka saling terdiam karena merasa lelah.


"Iya, Pak. Emak udah maafin Jamal," jawab Jamal senang. "Terus Bapak gimana? Apa Bapak masih marah?"


"Menurutmu?" tanya Bapak, dan Jamal hanya membalas dengan cengengesan. "Kalau anak majikan kamu dan keluargnya menerima kamu apa adanya ya, Bapak bisa apa, Mal."


"Iya, Pak. Terima kasih."


"Ya sudah, selanjutnya mending kamu persiapkan apa saja yang kamu butuhkan. Ajak calon istrimu berunding karena ini menyangkut kehidupan kalian berdua di masa depan."


"Iya, Pak," jawab Jamal. Senyum manisnya makin melebar saat dirinya mendengar kata calon istri. "Calon istri? Hehehe ..."


...@@@@@@...