
"Papih kamu yang nyuruh aku nginep disini."
"Apa? Beneran?" tanya Karin tak percaya. Iqbal pun tersenyum manis sembari mengangguk. Tentu saja Karin semakin senang. Dia langsung meringsek dan membenamkan kepalanya di dada sang supir.
"Kok Papih ngijinin? Mamih gimana?"
"Ini juga sebenarnya Mamih yang ngasih perintah, dan Tuan Martin setuju saja karena mereka nggak tega kamu disini sendirian, Non."
"Terus? Tadi dirumah gimana?"
"Kita duduk dulu ya, Non? Masa ngobrolnya sambil berdiri kaya gini?" Karin hanya tersenyum mendengarnya. Sejenak Karin melepas pelukannya dan membiarkan Iqbal duduk dan dia menutup pintu
Setelah pintu tertutup rapat, Karin menyusul Iqbal. Iqbal duduk di sofa dan Karin memilih duduk dipangkuan Iqbal dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
Iqbal kemudian menceritakan semuanya dengan rinci pembicaraannya saat kembali ke rumah. Jujur, dalam hati Karin juga merasa sedih melakukan hal ini. Tapi dia juga tidak mau tiap hari harus bertengkar dengan orang tuanya. Maka itu dia memutuskan pergi, daripada nanti jadi anak durhaka karena tiap hari bertengkar.
"Non Karin udah makan belum?" tanya Iqbal begitu selesai bercerita.
"Sudah, tadi begitu kamu pergi, aku ganti baju terus turun cari makan," jelas Karin tanpa mau beranjak dari pangkuan Iqbal. "Sekarang aku pengin makan punya kamu, Bal? Boleh?"
"Boleh banget dong, enak ya punya aku, Non?"
"Iya, enak banget dan nggak pernah habis."
"Hahaha ... ada ada aja kamu, Non. Ya udah aku mau lepasin celana dulu."
Karin pindah duduknya di sofa. Dengan sigap Iqbal langsung melepas celana dan boxernya.
"Ih lucu banget, masih tidur punya kamu, Bal?" ucap Karin sembari meraih senjata Iqbal yang masih mengkerut dan mengecil.
"Ya udah bangunin, dong."
Karin langsung mengarahkan bibirnya ke arah senjata Iqbal. Diciumnya dalam dalam rambut keriting disekitar senjata Iqbal yang lumayan lebat.
"Kok bau wangi? Kamu udah mandi, Bal? Bau sabun ini," tanya Karin sembari terus melalukan aksinya.
"Iya, tadi kesini mandi dulu, nggak enak ya, Non?" jawab Iqbal. Karin tak lagi membalas, mulutnya sudah bermain dengan senjata Iqbal yang mulai menegang.
"Baju kamu buka dong, Non? Semuanya?"
Tanpa menjawab, Karin langsung menghentikan aksinya dan segera melepas semua yang menempel di tubuhnya. Setelah semuanya terlepas, dia langsung ke posisi semula, bermain dengan benda menegang milik Iqbal.
Iqbal melepas kaos yang dia pakai, kemudian tangannya mulai memijat pelan benda kembar yang menggantung dan nampak sekali kenyal. Selain bukit kembar, tangan Iqbal merayap menuju lembah nikmat di bawah perut Karin.
Karin melebarkan sedikit pahanya agar tangan Iqbal mudah bermain di lubang miliknya.
Iqbal mulai memijat dan mengusap lembah nikmat milik Karin. Kadang jari tangannya pun masuk ke dalam lubang hingga lubang itu basah dan Karin merasa keenakan. Seperti saat ini, Karin sudah merintih kenikmatan dengan badan yang menggeliat tak beraturan.
Karin yang sudah tidak tahan ingin disodok, dia langsung menghentikan permainan mulutnya dan bergerak dan duduk di pangkuan Iqbal.
"Masukin sekarang ya, Bal?" pinta Karin dan Iqbal tentu saja langsung mengangguk. Sebelum masuk mereka perang bibir terlebih dahulu.
Setelah perang bibir selesai, Karin mengangkat tubuhnya dan menyuruh iqbal mengarahkan senjatanya agar masuk.
Sebelum masuk, seperti biasa Iqbal menggesek gesekan senjatanya yang sudah sangat menegang di bibir lubang Karin. Begitu cukup siap, Iqbal langsung memerintahkan Karin menurunkan pinggangnya secara perlahan.
Ada sedikit rasa nyeri yang Karin rasakan, tapi dia tidak mundur karena dia sangat ingin melakukannya. Ketika senjata Iqbal sudah masuk semua, mereka terdiam sebentar sembari melakukan perang bibir.
Setelahnya, Karin langsung menggoyangkan pinggulnya. Raut kenikmatan sangat terlihat jelas di wajah mereka berdua. Setelah bergoyang, Karin mulai bergerak naik turun.
"Gila, Non. Kenapa bisa enak banget seperti ini?" racau Iqbal yang merasa senjatanya sedang dipijat di dalam lubang nikmat milik wanita dipangkuannya.
Karin hanya tersenyum senang. Dia juga merasakan nikmat luar biasa saat lubang miliknya disodok sampai mentok oleh Iqbal.
Melihat benda kembar milik Karin bergerak gerak menggoda, Iqbal langsung mendekatkan mulutnya dan melahap satu persatu benda kenyal tersebut dengan rakusnya.
Lagi lagi Iqbal dan Karin hanyut dalam permainan tanpa cinta. Permainan ternikmat yang akan sering mereka lakukan setiap ada kesempatan. Bukan hanya satu gaya, mereka juga melakukan berbagai gaya yang mereka tahu.
"Mentokin, Bal."
"Iya, Sayang."
...@@@@@...